Bahaya Zat Fenilalanin Bagi Ibu Hamil dan Kesehatan

12347

Zat Fenilalanin sering dikaitkan dengan bahayanya yang kurang baik bagi tubuh yang tidak dapat mengurai senyawa ini. Zat Fenilalanin sebenarnya aman dikonsumsi oleh orang biasa yang tidak menderita fenilketonuria yaitu sebuah penyakit genetis yang cukup langka. Pada artikel ini kita akan membahas tentang zat fenilalanin secara umum serta bahayanya terhadap kesehatan tubuh.

Zat Fenilalanin

Zat Fenilalanin merupakan asam amino penting yang banyak terdapat pada makanan. Zat ini menjadi senyawa yang berfungsi untuk menghantar dan menyampaikan pesan pada sistem saraf otak bersama dengan taurin dan triptofan. Pada keadaan yang normal, tubuh mengubah zat ini menjadi tirosina yang dibutuhkan dalam sintesis protein, zat kimiawi otak, adrenalin, nonadrenalin, serta hormone tiroid. Fenilalanin ada yang tersedia untuk mengatasi drepresi. Zat ini jika jumlahnya kurang akan menimbulkan beberapa gejala seperti bingung, kurang bergairah, depresi, kurang nafsu makan, sulit mengingat, dan kurang waspada.

Selain itu ada kelainan langka yang disebut fenilketonuria. Fenilketonuria ini menyebabkan fenilalanin tertimbun dalam darah dan menjadi toksin pada otak. Zat fenilalanin banyak terdapat pada makanan sehingga penderita fenilketonuria harus waspada pada konsumsi makanan mereka.

Penderita Fenilketonuria

Zat fenilalanin menjadi berbahaya saat masuk ke dalam tubuh penderit fenilketonuria (PKU). Orang yang menderita penyakit ini akan membuat zat fenilalanin tertimbun dalam darah, zat tersebut kemudian bersifat toksin pada otak. Hal tersebut menyebabkan terjadinya keterbelakangan mental jika tidak ditangani. Pada bayi yang baru lahir harus segera diatasi pada tiga minggu pertama. Penyakit ini dapat diturunkan secara genetis dan merupakan penyakit yang cukup langka.

Penderita fenilketonuria harus menghindari makanan yang mengandung fenilalanin tinggi dan menggantinya dengan suplemen tirosina sehingga otak bisa berkembang secara optimal. Makanan yang mengandung fenilketonuria dalam jumlah tinggi antara lain daging dan susu. Para penderita lebih aman mengonsumsi makanan yang berprotein rendah misalnya buah, sayuran, dan gandung.

Selain makanan alami, fenilalanin juga terdapat pada aspartame yang merupakan pemanis buatan. Beberapa produk makanan yang banyak mengandung aspartam yaitu makanan diet, sereal, minuman serbuk instan. Selain aspartam, turunan fenilalanin yaitu dipeptida juga dihindari. Dipeptida memiliki tingkat kemanisan 220 kali dari gula tebu. Orang normal saja tidak boleh mengonsumsinya secara berlebihan apalagi dengan penderita fenilketonuria yang benar-benar dilarang untuk mengonsumsinya. Penderita tidak dapat mengurai asam amino tersebut sehingga terjadi penumpukan dalam darah. Sehingga penderita fenilketonuria tidak boleh mengonsumsi makanan yang mengandung fenilalanin tinggi.

Beberapa dampak atau gejala dari penyakit fenilketonuria antara lain:

  1. Sering merasa sakit kepala
  2. Ingatan menjadi hilang
  3. Suasana hati yang mudah berubah
  4. Pada ibu hamil dapat berpengaruh pada bayi yang dikandung, misalnya bayi menderita keterbelakangan mental ataupun fisik seperti kepala kecil atau memiliki penyakit jantung.

Sedangkan gejala penyakit ini pada anak-anak antara lain:

  1. Kejang, mual, muntah
  2. Terdapat ruam di kulit
  3. Urinnya berbau seperti urin tikus
  4. Rambut anak berwarna lebih terang
  5. Berperilaku agresif dan hiperaktif

Meskipun merupakan penyakit yang langka namun kita perlu berhati-hati juga dengan cara memeriksakan diri terutama bagi ibu hamil. Anak-anak yang terdeteksi menderita penyakit ini perlu diawasi sehingga makanan yang dikonsumsi tidak mengandung zat fenilalanin. Memang cukup sulit untuk menghindar sepenuhnya dari zat fenilalanin namun dibatasi dengan ketat sehinga tidak berlebihan. Penderita PKU harus terus melakukan pengobatan dan tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung zat fenilalanin tersebut.

Zat berbahaya lainnya