Monday, September 23, 2019

Hipovolemia

Hipovolemia merupakan sebuah kondisi tubuh seseorang di mana volume darah menurun secara signifikan, hal ini khususnya merujuk pada turunnya plasma darah di dalam tubuh sekitar 20% atau 1/5 dari darah dalam tubuh. Karena penurunan terjadi signifikan, otomatis hal ini mempersulit kerja jantung dalam memompa cukup darah untuk disuplai atau disebarkan ke organ-organ tubuh lainnya.

Penyebab

Ada bermacam-macam kondisi yang dapat menjadi faktor penyebab hipovolemia pada seseorang. Perlu adanya pengetahuan lebih akan berbagai kemungkinan penyebab hipovolemia, yakni seperti beberapa faktor di bawah ini:

  • Pendarahan internal, di mana hal ini terjadi paling umum pada saluran pencernaan atau bahkan di tempat lain.
  • Kehamilan ektopik, di mana pertumbuhan janin di luar rahim.
  • Penurunan berat badan.
  • Muntah-muntah
  • Peritonitis, di mana kondisi ini ditandai dengan rongga perut yang mengalami peradangan.
  • Kurangnya energi protein.
  • Stroke
  • Donor darah
  • Berkeringat berlebihan.
  • Konsumsi alkohol
  • Luka bakar serius.
  • Pseudohypoaldosteronism, di mana ada sejumlah gangguan yang berpengaruh pada fungsi ginjal sehingga elektrolit dalam tubuh tidak seimbang.
  • Diare
  • Disfungsi sistem saraf otonom.

Beberapa keadaan yang telah disebutkan dapat menjadi penyebab utama terjadinya penurunan volume darah. Bahkan ketika mengalami luka bakar serius, edema dapat terjadi pada orang tersebut atau bahkan mengalami kehilagan cairan secara signifikan sehingga juga berpengaruh pada volume darah yang akhirnya menurun terlalu banyak.

Sementara itu, untuk kasus seperti kehamilan ektopik, perdarahan internal, serta pseudohypoaldosteronism diketahui menjadi faktor yang mampu mengancam jiwa penderita hipovolemia karena menyebabkan hipovolemia sebagai risiko komplikasi. Kondisi-kondisi tersebut bahkan mampu membuat penderita kehilangkan tak hanya sebagian besar darah tapi juga cairan tubuh sehingga cukup mengancam kesehatan bila tak segera mendapatkan penanganan yang semestinya.

Gejala

Untuk gejala hipovolemia, cukup sulit untuk mengenali akan adanya perdarahan internal dan biasanya baru akan nampak ketika gejala syok muncul. Meski begitu, ketika ada perdarahan eksternal maka langsung akan terlihat. Tergantung dari tingkat penurunan volume darah dan cairan dalam tubuh, gejala yang dialami pun pasti bervariasi.

Gejala Ringan

Beberapa gejala ringan dapat terjadi sewaktu seseorang mengalami penurunan volume darah maupun cairan di dalam tubuh. Berikut adalah beberapa kondisi yang kelihatannya ringan namun tetap perlu adanya penanganan tepat dan cepat.

Gejala Serius

Selain gejala-gejala yang kelihatannya ringan tersebut, ada pula beberapa kondisi yang lebih serius yang dikeluhkan oleh penderita hipovolemia. Gejala pada tahap berat dan serius harus mendapatkan perhatian lebih dan bahkan dibutuhkan bantuan secara medis secepatnya.

  • Kulit berubah pucat.
  • Kulit menjadi dingin.
  • Detak jantung cepat.
  • Nafas lebih cepat.
  • Kebingungan
  • Urine yang keluar sangat sedikit.
  • Kepala terasa begitu ringan seperti melayang.
  • Bibir kebiruan.
  • Kuku jari kebiruan.
  • Denyut nadi melemah.
  • Tubuh sangat cepat lelah dan lemah.
  • Pingsan atau hilang kesadaran.

Ada beberapa orang yang mungkin mengalami kesulitan dalam mendeteksi apakah telah terjadi perdarahan internal. Jika Anda curiga dan khawatir bahwa tubuh tengah mengalami perdarahan internal, maka berikut adalah sejumlah tanda-tanda yang bisa coba diperhatikan:

  • Sakit dada.
  • Muntah darah.
  • Perut membengkak.
  • Urine keluar bersama dengan darah.
  • Feses berwarna kehitaman.
  • BAB berdarah.
  • Sakit perut yang bahkan dapat terasa begitu menyakitkan dan berlebihan.

Ketika gejala-gejala yang berat sudah mulai dialami, jangan tunggu terlalu lama untuk memeriksakan diri ke dokter. Semakin dibiarkan, maka kerusakan di dalam tubuh akan semakin meningkat, khususnya di jaringan dan organ tubuh Anda.

Diagnosa dan Pengobatan

Jika Anda bertindak cepat, yakni dengan memeriksakan diri sewaktu gejala muncul, maka dokter pun akan memberikan beberapa solusi langkah pemeriksaan agar dapat memastikan bahwa gejala benar-benar merujuk pada kondisi hipovolemia. Berikut adalah beberapa metode diagnosa yang perlu ditempuh bagi penderita gejala hipovolemia:

  • Pemeriksaan fisik.
  • CT scan, di mana metode ini berguna dalam menjadi proses visualisasi organ tubuh pasien.
  • Tes darah, di mana tes ini dipergunakan agar terdeteksi adanya ketidakseimbangan fungsi hati, ginjal, hingga elektrolit tubuh.
  • Endoskopi, di mana tujuannya adalah sebagai pemeriksa esofagus serta organ-organ lambung dan yang berkaitan dengan pencernaan lainnya.
  • Elektrokardiogram, di mana tujuannya adalah sebagai penilai irama jantung.
  • Ekokardiogram, di mana tujuannya adalah meng-USG jantung pasien.
  • Kateter urine, di mana langkah ini diperlukan agar jumlah urine bisa diukur di bagian kandung kemih.
  • Kateterisasi jantung kanan, di mana tujuannya adalah untuk memeriksa dan mengetahui tingkat efektivitas kinerja jantung dalam memompa.

Ada kemungkinan tes-tes lainnya dianjurkan dokter untuk pasien dapat tempuh sesuai dengan gejala yang terjadi. Namun, setelah tes-tes yang perlu dijalani sudah selesai ditempuh dan hasilnya pun telah keluar, otomatis dokter bisa memberikan solusi perawatan terbaik bagi kondisi tubuh pasien.

Perawatan yang diberikan oleh dokter rata-rata bertujuan utama sebagai pengendali kehilangan darah maupun cairan serta menggantikannya. Bahkan ketika dijumpai adanya kerusakan, hal tersebut pun akan diperbaiki melalui pengobatan yang dianjurkan dokter. Perawatan-perawatan yang dimaksud di sini antara lain adalah:

  • Transfusi sel darah merah.
  • Transfusi trombosit.
  • Transfusi plasma darah.
  • Kristaloid intravena.
  • Pemberian jenis antibiotik tertentu yang berfungsi sebagai pencegah infeksi bakteri dan syok septik.
  • Norepinefrin
  • Epinefrin
  • Dobutamine
  • Dopamin

Tak hanya itu, kesehatan fungsi jantung pun perlu dipantau sebagai penentu apakah perawatan yang didapat oleh penderita sangat efektif.

Pencegahan dan Komplikasi

Karena hipovolemia begitu berbahaya apabila gejala sudah sangat berat, lalu apa yang perlu dilakukan sebagai langkah pencegahan? Sebenarnya tidak ada cara khusus yang harus dilakukan demi mencegah penurunan kadar volume darah dan cairan dalam tubuh. Hanya saja, setidaknya cepat bertindak ketika mengalami perdarahan baik internal maupun eksternal sudah akan sangat menolong dalam menurunkan risiko hipovolemia, khususnya syok hipovolemik.

Apabila sampai gejala yang sudah telanjur berat tidak segera diatasi, maka akan berpotensi besar menimbulkan risiko komplikasi. Beberapa komplikasi yang patut diwaspadai antara lain adalah:

Syok hipovolemik adalah salah satu hal yang dapat terjadi apabila proses kehilangan darah maupun cairan dalam tubuh terlalu cepat sewaktu mendapatkan cedera. Komplikasi akibat syok hipovolemik pun dapat terjadi lebih serius ketika kondisi medis yang sudah pada tahap kronis seperti jenis-jenis penyakit jantung, penyakit paru-paru, stroke, penyakit ginjal, dan diabetes terjadi pada pasien.

Bahkan tak hanya itu saja, penggunaan obat pengencer darah makin mempercepat penurunan volume darah karena akan memudahkan tubuh mengalami kehilangan banyak darah saking encernya. Dapat mengancam jiwa, sebaiknya Anda waspadai akan hipovolemia dan segera tanggap serta memeriksakan diri ke dokter bila sejumlah gejala Anda alami.

No posts to display

Recommended