Monday, May 27, 2019

Hypervigilance

Hypervigilance mungkin cukup asing bagi kita karena istilah ini jarang terdengar dan kurang begitu umum. Namun bila Anda mengetahui tentang sebuah kondisi di mana seseorang kerap meningkatkan kewaspadaannya sehingga sangat sensitif terhadap orang-orang ataupun situasi di sekeliling kita, itulah yang dinamakan dengan hypervigilance. Waspada setiap saat sehingga terkesan kaku dan tegang walau tak ada bahaya mengancam cukup terbilang berlebihan.

Beberapa orang akan meningkatkan kewaspadaan sebagai salah satu cara melindungi diri dari bahaya mengancam apa saja, entah itu dari orang-orang jahat atau dari lingkungan meski sebenarnya terkadang apa yang kita khawatirkan tidaklah nyata. Itulah mengapa, hypervigilance masih termasuk dalam golongan kondisi kesehatan mental berkaitan dengan skizofrenia, gangguan stres pasca trauma, hingga gangguan kecemasan.

Penyebab

Ada beberapa faktor kondisi yang dapat mendasari timbulnya hypervigilance. Berikut di bawah ini adalah sejumlah kondisi kesehatan mental yang perlu diwaspadai karena mampu menyebabkan kewaspadaan tingkat tinggi di dalam diri seseorang.

  • PTSD/Post-Traumatic Stress Disorder (Gangguan Stres Pasca Trauma)

Kondisi ini dapat menjadi penyebab timbulnya hypervigilance paling umum. Ketika memiliki gangguan stres pasca trauma, otomatis kondisi tubuh dan pikiran kita menegang sehingga cenderung melakukan pemindaian area di tempat kita berada secara terus-menerus. Pemindaian ini kita bisa lakukan karena merasa sedang terancam.

  • Kegelisahan/Gangguan Kecemasan

Cemas yang berlebihan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan hypervigilance karena kecemasan dan kegelisahan selalu akan menimbulkan rasa was-was di mana pun dan kapanpun kita berada. Hal ini terlebih akan dirasakan sewaktu kita sedang berada di sebuah lingkungan baru atau situasi yang baru kita kenal. Mengenal orang-orang baru pun bakal membuat kita meningkatkan kewaspadaan karena kita tidak memercayai mereka dan pada dasarnya telah mempunyai kecemasan sosial.

  • Skizofrenia

Hypervigilance berisiko besar terjadi karena kita memiliki skizofrenia. Karena sudah memiliki kondisi seperti skizofrenia, maka timbulnya hypervigilance bisa memperburuk kondisi gejala yang sudah ada sehingga memampukan kita untuk berhalusinasi atau mengalami paranoid.

Faktor Risiko

Ada pemicu-pemicu paling umum lainnya yang merupakan penyebab episode hypervigilance terjadi dan berikut ini adalah beberapa kondisi yang dimaksud:

  • Tekanan emosional.
  • Sakit secara fisik.
  • Perasaan tidak diinginkan.
  • Merasa dihakimi.
  • Merasa ditinggalkan.
  • Mengingat trauma di masa lalu.
  • Mendengar suara keras seperti argumen dan teriakan.
  • Sering berada di tengah-tengah orang-orang dengan perilaku kacau dan kasar.
  • Klaustrofobia
  • Mengantisipasi ketakutan, penilaian orang lain dan rasa sakit.

Gejala

Setiap kondisi kesehatan selalu rata-rata akan menimbulkan tanda-tanda atau gejala sehingga kita dapat mewaspadai atau mengatasinya sedari dini. Berikut adalah beberapa gejala emosi, mental, dan fisik dari seseorang yang diduga mengalami hypervigilance untuk kita kenali bersama.

  • Rasa cemas meningkat dan lebih buruk dari biasanya.
  • Selalu takut akan penilaian dari orang lain.
  • Selalu panik.
  • Selalu takut.
  • Mengalami ketakutan yang persisten.
  • Menilai orang lain dengan cukup buruk sebagai akibat dari terus-menerus dinilai oleh orang lain.
  • Paranoid
  • Membenarkan sifat kewaspadaan tinggi seperti hypervigilance.
  • Susah tidur.
  • Bereaksi secara berlebihan sewaktu mendengar suara keras.
  • Salah paham akan pernyataan orang lain sebagai suatu hal yang kasar bagi kita padahal tidak demikian.
  • Mudah gelisah.
  • Bereaksi terlalu spontan dan cepat terhadap lingkungan.
  • Sering berkeringat.
  • Napas lebih pendek dan cepat.
  • Detak jantung berdetak lebih cepat.
  • Kelelahan fisik karena konstannya kewaspadaan yang dimiliki.

Gejala Jangka Panjang dan Risiko Komplikasi

Ada pula gejala jangka panjang yang secara tak langsung menunjukkan bahwa kondisi kewaspadaan dan kecemasan dalam diri seseorang sudah sangat serius. Contoh di mana gejala jangka panjang yang perlu segera ditangani adalah ketika seseorang sampai membawa senjata tersembunyi karena ia merasa terancam dan ia perlu melawan ancaman tersebut. Jika tak segera diatasi, maka risiko komplikasi seperti di bawah ini dapat terjadi:

  • Menarik diri dari situasi sosial.
  • Mengalami masalah di tempat kerja.
  • Pola perilaku obsesif.
  • Sulit dalam bekerja sama atau berinteraksi dengan orang lain apalagi menjalin hubungan dekat dengan orang lain.
  • Kelelahan mental dan fisik.

Pengobatan

Hypervigilance dapat terjadi karena berbagai faktor dan latar belakangnya pun bisa berbeda-beda antara satu penderita dengan yang lain. Hanya saja, apabila kondisi hypervigilance disebabkan oleh kesehatan mental, berikut merupakan langkah pengobatan paling sesuai.

  • Terapi Obat – Ketika kewaspadaan tingkat tinggi ada kaitannya dengan stres pasca trauma ataupun kondisi gangguan kecemasan, maka obat-obatan seperti antidepresan, beta-blocker atau obat anti cemas bisa mendukung pasien dalam masa pemulihannya. Sementara pada kasus hypervigilance karena bipolar atau skizofrenia, antipsikotik dapat menjadi langkah perawatannya.
  • Terapi Kesehatan MentalTerapi perilaku kognitif adalah yang dimaksud dalam hal ini karena kegelisahan atau kecemasan berlebih perlu diatasi dengan terapi ini. Sementara pada kasus hypervigilance yang disebabkan kiranya oleh gangguan stres pasca trauma, terapi eksposur adalah yang paling dibutuhkan.
  • Olahraga – Perawatan dengan cara ini bisa dilakukan di rumah dan perlu dilakukan serutin mungkin supaya mampu melepaskan endorfin sehingga otomatis rasa cemas berlebihan bisa berkurang nantinya. Namun hati hati, waspadai bahaya olahraga yang berlebihan dan tidak perlu sampai memaksakan diri.
  • Relaksasi – Seperti cara mengatasi stres, relaksasi juga berguna dalam membantu pemulihan penderita hypervigilance. Latihan yoga atau latihan pernapasan adalah yang paling disarankan karena dapat membuat kecemasan berkurang. Dengan begitu, gejala-gejala hypervigilance pun bisa berangsur lebih baik.
  • Berkomunikasi dengan Orang Lain – Istilah sharing atau berbagi adalah salah satu cara untuk pulih dari hypervigilance. Stres yang dipendam sendiri dapat terakumulasi yang bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan mental, jadi tak ada salahnya untuk mengungkapkan apa yang Anda rasa dan pikirkan ke orang-orang yang Anda percayai dan mampu membantu Anda merasa lebih baik.
  • Menjauhi Lingkungan Berbahaya – Apabila penyebab dari hypervigilance bukan dikarenakan kesehatan mental tertentu melainkan kekerasan yang dialami oleh penderita, tentu satu-satunya cara agar ia dapat pulih kembali adalah menghindarkan dari lingkungan berbahaya serupa.

Apa perbedaan antara hypervigilance dan paranoid?

Hypervigilance tampak mirip dengan kondisi paranoid karena memang keduanya merupakan sama-sama kondisi gangguan kesehatan mental. Hanya saja, kedua kondisi tetaplah berbeda dengan melihat beberapa hal berikut ini:

  • Pada kondisi hypervigilance, orang-orang tetap sulit untuk merasa rileks dan santai walau mereka sadar tak ada alasan untuk merasakan demikian. Sementara pada kondisi paranoid, orang-orang tak sadar bahwa mental mereka sedang terganggu dan bahkan berkemungkinan selalu memercayai kebenaran delusinya.
  • Pada kondisi hypervigilance, seseorang akan sangat waspada terhadap apapun dan baginya sangat penting memiliki antisipasi terhadap sesuatu yang buruk yang ia pikir bakal terjadi di masa depan. Sementara pada paranoid, seseorang secara delusional meyakini bahwa di masa sekarang ada orang-orang yang hendak mencelakai atau membahayakan nyawanya.
  • Pada kondisi hypervigilance, seseorang hanya memiliki kewaspadaan tingkat tinggi tanpa mengalami delusi apapun. Sementara pada kasus paranoid, seseorang berkeyakinan teguh bahwa ada seseorang atau bahkan benda tertentu yang bisa mencelakai mereka padahal sama sekali tidak benar.

Demikianlah sedikit pencerahan tentang apa itu hypervigilance, dari penyebab, gejala hingga cara perawatan yang paling tepat serta cara membedakan antara hypervigilance dengan kondisi paranoid. Segera ke dokter ahli kesehatan mental bila memang dirasa gejala sudah mulai cukup mengganggu kehidupan Anda sehari-hari.

No posts to display

Recommended