Chlorambucil – Obat Apa – Cara Penggunaan – Dosis – Kegunaan – Efek Samping

482

Obat Apa?

Obat Chlorambucil¬†merupakan jenis obat yang digunakan untuk pengobatan kemoterapi yang digunakan untuk mengobati beberapa jenis penyakit kanker seperti leukemia limfositik kronis, penyakit Hodgkin (dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Hodgkin’s disease) dan limfoma. Obat Chlorambucil termasuk kedalam golongan obat-obatan anti kanker agen alkilasi. Agen alkilasi sendiri dalam kategori obat-obatan anti kanker yang mentransfer sebuah grup alkil (sejenis senyawa organik) dari satu ke molekul ke molekul lainnya.

Obat Chlorambucil bekerja pada sel kanker dengan cara menghambat pembentukan DNA (asam deoksiribonukleat, bahasa Inggris: deoxyribonucleic acid) dan RNA (asam ribonukleat, bahasa Inggris: ribonucleic acid). DNA dan RNA merupakan molekul yang berperan dalam pengaturan sel secara umum dan yang paling dikenal adalah peranannya dalam memuat informasi genetik atau keturunan. Cara kerja obat Chlorambucil sebagai obat anti kanker adalah dengan mengganggu replikasi DNA dan merusak DNA yang terdapat di dalam sel.

Replikasi DNA merupakan proses penggandaan molekul – molekul DNA yang terjadi pada saat proses pembelahan sel. Dengan kata lain, gangguan yang diberikan oleh obat Chlorambucil pada proses replikasi DNA serta kerusakan yang diakibatkan oleh Chlorambucil dapat mencegah perkembangan sel kanker, hingga mencapai titik dimana sel kanker hilang sepenuhnya. Chlorambucil mendistribusi dan menautkan senyawa grup alkil ke DNA pada saat proses replikasi DNA atau juga dikenal sebagai siklus sel. Berikut dijelaskan cara penggunaan, dosis, kegunaan dan efek samping dari obat Chlorambucil.

Cara Penggunaan

Obat Chlorambucil tersedia dalam bentuk tablet, dengan demikian cara penggunaan dengan ditelan atau secara oral. Obat Chlorambucil ini baik digunakan satu jam sebelum makan atau dua jam setelah makan. Jumlah obat Chlorambucil yang digunakan oleh penderita dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk kondisi kesehatan secara umum, berat badan, tinggi badan dan beberapa aspek kesehatan lainnya. Tentunya jenis kanker yang sedang diderita juga mempengaruhi jumlah dosis Chlorambucil yang diberikan. Pastinya Anda harus berkonsultasi dengan dokter dalam menentukan jumlah dosis obat ini.

Dosis

Bagian ini menjelaskan dosis obat Chlorambucil yang digunakan sesuai dengan jenis kanker yang diderita. Sebagai obat kemoterapi dan pastinya tergolong sebagai obat keras, Anda harus berkonsultasi dengan dokter terkait guna mengetahui dosis dan pemakaian yang tepat dari obat Chlorambucil ini. Berikut adalah dosis pemakaian obat Chlorambucil ini yang dilansir dari ww.drugs.com.

  • Dewasa:
  1. Untuk penderita Hodgkin’s disease (penyakit Hodgkin), dosis oral awal (bisa juga untuk perawatan yang dalam jangka waktu pendek) yang diberikan sebanyak 0,1 hingga 0,2 mg/kg berat badan, selama 3 hingga 6 minggu sesuai kebutuhan. Dosis tersebut, seluruhnya diberikan secara sekali. Selain itu, dosis Chlorambucil tersebut perlu disesuaikan secara cermat menurut respons pasien terhadap obat Chlorambucil dan perlu dikurangi sesegera mungkin bila menurunnya jumlah sel darah putih secara tiba-tiba. Penderita penyakit Hodgkin biasanya membutuhkan dosis sebanyak o,2 mg/ kg berat badan sehari. Dosis alternative yangf dapat diberikan untuk penderita penyakit Hodgkin sebanyak 10 mg secara oral sekali sehari selama 7 hari.
  2. Untuk penderita leukemia limfositik kronis, dosis awal oral yang diberikan sebanyak 0,1 hingga 0,2 mg/kg berat badan sehari selama 3 hingga 6 minggu sesuai kebutuhan. Dosis tersebut biasanya berkisar 4 hingga 10 mg per hari untuk kebanyakan pasien. Seluruh jumlah dosis obat Chlorambucil tersebut sebaiknya diberikan sekali. Dosis yang diberikan perlu disesuaikan secara teliti dengan reaksi dari pasien terhadap obat Chlorambucil dan dosis obat Chlorambucil perlu dikurangi sesegera mungkin bila terjadi penurunan jumlah sel darah putih secara tiba-tiba. Penderita leukemia limfositik kronis biasanya hanya memerlukan dosis sebesar 0,1 mg/kg berat badan per hari. Ketika terjadi infiltasi limfositik pada sumsum tulang atau ketika sumsum tulang dalam kondisi hipoplasia (penurunan jumlah sel dalam suatu jaringan atau organ), dosis harian obat Chlorambucil yang diberikan tidak boleh melebihi 0,1 mg/kg berat badan atau sekitar 6 mg untuk pasien rata-rata.
  3. Untuk penderita limfoma, dosis oral awal yang diberikan sebanyak 0,1 hingga 0,2 mg/kg berat badan per hari selama 3 hingga 6 minggu sesuai kebutuhan. Dosis tersebut merupakan dosis awal untuk terapi pengobatan jangka pendek. Dosis tersebut sekiranya diberikan langsung sekali untuk tiap harinya. Dosis tersebut perlu disesuaikan dengan teliti tergantung dari reaksi penderita terhadap penggunaan dosis obat Chlorambucil tersebut. Penderita limfoma umumnya hanya membutuhkan dosis obat Chlorambucil sebanyak 0,1 mg/kg berat badan per hari. Bila terjadi infiltrasi limfositik pada sumsum tulang ataupun saat sumsum tulang mengalami kondisi hipoplasia, maka dosis obat Chlorambucil yang diberikan tidak boleh melebihi 0,1 mg/kg berat badan atau sekitar 6 mg untuk rata-rata pasien pada umumnya.
  • Anak-anak:
  1. Untuk anak-anak penderita kanker (leukemia), dosis induksi remisi (terapi dosis awal yang digunakan untuk menghilangkan sel kanker sepenuhnya) yang diberikan sebanyak 0,1 hingga 0,2 mg/kg berat badan per hari atau 4,5 mg/m2 luas area tubuh sekali sehari selama 3 hingga 6 minggu. Dosis perawatan yang diberikan sebanyak 0,03 hingga 0,1 mg/kg berat badan per hari.
  2. Untuk anak-anak penderita kanker (leukemia) yang mengalami sindrom nefrotik, dosis yang diberikan sebanyak 0,1 hingga 0,2 mg/kg berat badan per hari untuk setiap hari selama 5 hingga 12 minggu dengan dosis rendah prednisone.
  3. Untuk anak-anak penderita leukemia limfositik kronis, dosis awal yang diberikan sebanyak 0,4 mg/kg berat badan setiap 2 minggu. Dosis ditingkatkan sebanyak 0,1 mg/kg berat badan setiap 2 minggu hingga reaksi terjadi atau terjadinya myelosuppression (kondisi dimana aktivitas sumsum tulang belakan dalam memproduksi berbagai komponen darah seperti sel darah merah, sel darah putih dan trombosit menurun).
  4. Untuk anak-anak penderita limfoma Hodgkin, dosis yang diberikan sebanyak 0,1 mg/kg berat badan per hari. Sedangkan untuk penderita limfoma non-Hodgkin, dosis yang diberikan sebanyak 0,2 mg/kg berat badan per hari.

Kegunaan

Seperti yang telah disebutkan di atas, obat Chlorambucil digunakan sebagai obat kemoterapi untuk berbagai jenis penyakit kanker seperti penyakit Hodgkin. Berikut dijelaskan lebih lanjut kegunaan obat Chlorambucil ini.

  • Pengobatan limfoma

Limfoma merupakan kelompok penyakit kanker darah yang berkembang pada sel darah putih atau limfosit. Beberapa jenis gejala penyakit ini antara lain kelelahan terus-terusan, gatal-gatal, kehilangan berat badan, keringat berlebihan, demam dan pembesaran kelenjar getah bening. Kanker ini umumnya dibedakan menjadi dua kategori utama yaitu limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin.

Beberapa faktor risiko yang menyebabkan terjadinya penyakit ini antara lain adalah riwayat penyakit pada keluarga, infeksi virus Epstein-Barr, penderita AIDS, obat-obatan penekan sistem imun, penyakit autoimun dan terpapar pestisida. Selain itu, kebiasaan merokok dan mengonsumsi daging merah secara berlebihan juga dapat meningkatkan risiko terkena penyakit ini. Obat Chlorambucil dapat digunakan sebagai obat kemoterapi untuk pengobatan penyakit limfoma ini, yang mana obat tersebut bekerja sebagai penghambat replikasi sel kanker.

  • Pengobatan penyakit Hodgkin

`Penyakit Hodgkin juga dikenal sebagai limfoma Hodgkin merupakan jenis limfoma yang ditandai dengan adanya jenis sel Reed-Sternberg yang terdapat pada kelenjar getah bening. Sel Reed-Sternberg ini merupakan jenis sel dengan ukuran yang besar yang dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop cahaya, sel ini biasanya berasal dari sel limfosit B normal.

Gejala-gejala dari penyakit ini antara lain adalah pembengkakan kelenjar getah bening pada bagian bawah lengan dan leher, kehilangan berat badan, berkeringat pada malam hari dan demam. Obat Chlorambucil dapat digunakan untuk pengobatan penyakit Hodgkin ini.

  • Pengobatan penyakit leukemia linfositik kronis

Leukemia limfositik kronis merupakan jenis penyakit kanker yang ditandai dengan produksi limfosit yang berlebihan oleh sumsum tulang. Beberapa gejala penyakit kanker ini antara lain adalah kehilangan berat badan, demam, kelelahan, serta pembengkakan kelenjar getah bening yang mana tidak terasa sakit.

Selain itu, anemia dan pembesaran limpa juga dapat terjadi akibat kanker ini. Gejala-gejala ini umumnya semakin memburuk secara bertahap. Beberapa risiko faktor penyebab penyakit kanker ini antara lain adalah terpapar insektisida, terpapar agen oranye (sejenis herbisida) dan riwayat penyakit keluarga. Obat Chlorambucil digunakan sebagai kemoterapi untuk menghentikan perkembangan sel kanker.

Efek Samping

Obat Chlorambucil memiliki beberapa efek samping yang mungkin dialami oleh penggunanya. Beberapa efek samping tersebut adalah:

  • Badan terasa sakit
  • Panas dingin
  • Demam
  • Mual
  • Sakit perut
  • Kulit pucat
  • Beberapa gejala flu
  • Sakit tenggorokan dan mulut
  • Kejang-kejang
  • Kelelahan
  • Diare

Demikianlah penjelasan mengenai obat Chlorambucil beserta cara penggunaan, dosis, kegunaan dan efek sampingnya. Semoga informasi yang disampaikan dalam artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan Anda.