Intron A – Fungsi – Obat Apa – Dosis Dan Cara Penggunaan

√ Verified Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apakah anda pernah mendengar tentang Intron A? Intron A merupakan obat yang biasanya digunakan untuk membantu mengatasi penyakit kanker seperti leukemia, melanoma, dan AIDS terkait Sarkoma Kaposi. Intron A ini juga digunakan untuk mengobati infeksi virus, misalnya hepatitis B kronis, hepatitis C kronis, dan condyloma acuminata (kutil kelamin).

Diperkirakan obat ini bekerja dengan mempengaruhi fungsi atau pertumbuhan sel serta pertahanan alami tubuh (sistem kekebalan tubuh) dalam berbagai cara. Menambahkan interferon dapat membantu tubuh Anda melawan infeksi kanker ataupun virus.

Indikasi Intron A

Intron A diindikasikan untuk gejala-gejala pada penyakit seperti

  • Sarkoma Kaposi terkait AIDS,
  • kanker ginjal,
  • limfoma jenis sel-T kutaneus
  • condyloma acuminata (kutil kelamin),
  • Leukemia sel berambut,
  • Leukemia myeloid kronis,
  • Hepatitis C kronis,
  • Hepatitis B kronis aktif,
  • melanoma,
  • tumor karsinoid,
  • limfoma folikular, dan
  • multiple myeloma.

Kontraindikasi Intron A

Obat ini tidak dianjurkan untuk diberikan pada pengguna yang pernah atau sedang menderita hepatitis autoimun, gagal hati, gagal ginjal, atau depresi berat.

Kandungan Intron A

Obat ini sebenarnya sama dengan protein alami yang dihasilkan di dalam tubuh, yaitu interferon. Pada dasarnya interferon terbagi lagi dalam 3 kelompok besar, yakni Alfa, Beta, dan Gamma. Masing-masing kelompok tersebut memiliki tipe obat dengan fungsi, merk dagang, dan dosis yang berbeda-beda.

Dosis dan Cara Penggunaan Intron A

Interferon tersedia dalam bentuk suntik. Pemberian interferon dapat dilakukan melalui suntik intramuskular (otot) atau subkutan (bawah kulit). Dokter akan menyesuaikan metode pemberian obat dengan kondisi pasien serta tipe obat yang digunakan.

Secara umum, interferon hanya diresepkan bagi orang dewasa. Pemberian dosis interferon pun berbeda-beda, tergantung tipe obat serta kondisi kesehatan pasien. Berikut adalah dosis umum penggunaan interferon:

  • Pengobatan Leukemia Sel Berambut : 3 juta unit/hari, selama 16-24 minggu. Dosis pemeliharaan adalah 3 juta unit, 3 kali/minggu.
  • Pengobatan Sarkoma Kaposi terkait AIDS : Dosis bertahap, 3 juta unit untuk 3 hari awal, lalu menjadi 9 juta unit untuk 3 hari selanjutnya, dan 18 juta unit 3 hari setelahnya, hingga 36 juta unit/hari.
  • Pengobatan Hepatitis Kronis : Dosis awal adalah 3-6 juta unit, 3 kali/minggu selama 6 bulan.
  • Pengobatan Kanker Ginjal : Dosis bertahap, 3 juta unit, diberikan 3 kali/minggu, selama 1 minggu. Lalu 9 juta unit, 3 kali/minggu 1 minggu berikutnya. Kemudian 18 juta unit, 3 kali/minggu, selama 3-12 bulan.
  • Pengobatan Leukemia Myelonid Kronis : Dosis bertahap, 3 juta unit/hari selama 3 hari awal, 6 juta unit/hari selama 3 hari kemudian, dan 9 juta unit/hari setelahnya.
  • Pengobatan Hepatitis B Kronis : 2,5-5 juta unit/m2 luas permukaan tubuh, 3 kali/minggu selama 4-6 bulan.
  • Pengobatan Limfoma Folikular : 6 juta unit/m2 luas permukaan tubuh/hari pada hari ke 22-26 dari dalam 28 hari siklus kemoterapi.
  • engobatan Melanoma : 3 juta unit, 3 kali/minggu selama 18 bulan.
  • Pengobatan condyloma acuminata (kutil kelamin) : Tiap luka/benjolan diinjeksikan 1 juta unit, 3 kali/minggu selama 3 minggu. Maksimal 5 luka/benjolan tiap pengobatan.
  • Pengobatan Hepatitis C Kronis : 3 juta unit, 3 kali/minggu selama 6-18 bulan.
  • Pengobatan Multiple Myeloma : Dosis pemeliharaan setelah induksi kemoterapi adalah 3 juta unit/m2 luas permukaan tubuh, 3 kali/minggu.
  • Pengobatan Tumor Karsinoid : 3-9 juta unit, 3 kali/minggu.

Perhatian

  1. Penggunaan obat memerlukan pengawasan ketat dari dokter.
  2. Pemberian obat pada pengguna yang mengidap gangguan jantung, kejang-kejang, gangguan ginjal yang parah, gangguan mental (misalnya depresi), diabetesepilepsi, gangguan hati, trombositopenia, serta anemia diharapkan untuk berhati-hati.
  3. Hati-hati dalam menggunakan interferon bila pernah atau sedang menderita gangguan jantung, kejang, hipotiroidismehipertiroidisme, diabetes, gangguan paru-paru, gangguan pembekuan darah, atau gangguan mental.
  4. Beri tahu dokter apabila pengguna sedang menggunakan obat-obatan lain, termasuk suplemen dan produk herbal.
  5. Segera temui dokter apabila terjadi reaksi alergi atau overdosis.
fbWhatsappTwitterLinkedIn