6 Efek Marah pada Ibu Hamil dan Cara Menanganinya

78

Para ibu hamil mudah marah sepertinya adalah hal yang biasa dan umum karena banyak yang mengalaminya. Hanya saja, ada baiknya untuk mencoba mengendalikan emosi meluap atau amarah dengan mempertimbangkan kondisi diri sendiri usai melahirkan nanti dan juga pengaruhnya bagi si jabang bayi. Apa sih efek marah pada ibu hamil karena gangguan mood yang bisa cukup berisiko?

  1. Bayi Lahir Prematur

Tak hanya masalah gizi yang tak tercukupi yang dapat menjadi faktor penyebab bayi lahir prematur. Seringnya marah-marah selama kehamilan dan ketidakmampuan dalam mengendalikan emosi menjadikan bayi mudah lahir prematur, apalagi jika kondisi ibu hamil sebelumnya sempat depresi.

Risiko kelahiran prematur ini juga berdampak berbahaya bagi sang bayi karena anak ini memiliki potensi mengidap komplikasi karena lahir dari seorang ibu yang depresi, seperti misalnya gangguan paru kronis. Beberapa jenis penyakit lain yang juga berpotensi diderita anak saat sudah dewasa adalah penyakit jantung, diabetes, hingga tekanan darah tinggi.

  1. Berat Badan Rendah Saat Bayi Lahir

Karena kemungkinan bayi lahir prematur sangat tinggi, maka risiko kelahiran bayi dengan berat badan rendah juga besar. Perlu dipahami bahwa lahir dengan berat badan rendah bisa berdampak pada kesehatan si anak yang tidak cukup baik karena kekebalan tubuhnya menjadi lebih rendah dari anak-anak seusianya dan penyakit pun jadi gampang menyerang.

Ibu hamil yang mudah depresi pun telah diteliti dan terbukti mampu membuat keterlambatan pertumbuhan selama berada di dalam kandungan. Ini karena hormon adrenalin dan stres atau kortisol-lah yang memenuhi tubuh sang ibu mengalahkan hormon serotonin dan juga dopamin yang pada akhirnya ikut memengaruhi janin tanpa disadari oleh sang ibu.

  1. Janin Aktif Berlebihan

Ketika ibu hamil merasakan bahwa anaknya di dalam kandungan menjadi terlalu aktif, maka ini kemungkinan besar pun masih ada hubungannya dengan hormon adrenalin dan kortisol tinggi di dalam tubuh sang ibu. Mudah stres dan marah-marah karena hormon serotonin dan dopamin terlalu sedikit bisa cukup berdampak pada si kecil.

  1. Produksi ASI Terhambat

Stres dan suka marah-marah selama hamil bisa berdampak lho pada waktu sudah melahirkan dan harus menyusui si kecil. Produksi ASI bisa saja tak seharusnya karena terlalu sedikit disebabkan oleh stres mental ataupun fisik. Jika ingin mencegah produksi ASI yang melambat ini, pastikan untuk menerapkan cara mengatasi stres agar dapat mengendalikan emosi lebih baik.

  1. Bayi Lahir dengan Sempurna Tapi Gampang Rewel

Bayi bisa terkena dampak dari kebiasaan sang ibu yang suka marah-marah. Tubuh sang ibu dapat menghasilkan hormon stres yang akan meneruskannya ke sang anak lewat ASI. Pemberian ASI yang berkandungan kortisol tinggi kepada bayi perempuan akan memengaruhi anak ini ketika bertumbuh.

Ada kecenderungan dan risiko sang anak bisa memiliki perilaku cukup negatif, seperti mudah takut, rewel, kesal, dan bahkan marah-marah juga. Namun, pemberian ASI yang berkandungan hormon stres sama banyaknya pada bayi laki-laki diketahui tak menimbulkan perubahan perilaku pada sang anak.

  1. Risiko Keguguran

Ketika sering marah saat hamil, efek terburuk yang bisa terjadi adalah dapat terjadi keguguran atau bahkan janin gugur di dalam kandungan menurut Tommy’s, The Baby Charity, sebuah riset oleh badan amal di Inggris. Kalaupun bayi berhasil lahir dengan selamat, kurangnya pengendalian emosi dalam jangka panjang selama kehamilan pun bisa berdampak pada bayi ke depannya.

Karena kebiasaan marah-marah ibu hamil menurut psikolog bisa meningkatkan risiko bayi menjadi temperamental, ada baiknya agar para ibu selama hamil tahu bagaimana caranya meredam tekanan dan emosi. Jika para ibu bingung apa terapi menghilangkan stres yang tepat supaya tak gampang marah, beberapa hal ini kiranya bisa dilakukan:

  • Bergerak aktif, entah itu melakukan olahraga yang aman untuk ibu hamil atau melakukan aktivitas lain.
  • Menulis buku harian.
  • Melakukan hal-hal yang menjadi kesenangan ibu hamil.
  • Banyak istirahat, termasuk tidur siang cukup.
  • Menghindari topik obrolan yang memicu emosi.
  • Mencurahkan isi hati dan pikiran yang cukup mengganjal dan bikin stres kepada pasangan, keluarga atau sahabat yang dipercaya.

Apabila ingin menghindari efek marah pada ibu hamil terhadap sang janin, konsultasikanlah hal ini pada dokter agar dokter bisa membantu memberikan solusi yang tepat. Kalau perlu, datanglah kepada psikolog ketika perubahan mood tak dapat diatasi sendiri.