Viral di Instagram Anak Hirup Pertalite, Seberapa Bahaya?

84

Viral di Instagram Anak Hirup Pertalite, Seberapa Bahaya?Sebuah video di Instagram mendadak viral, yakni video yang menunjukkan aksi seorang bocah yang menghirup cairan bahan bakar bensin. Ya, dalam video tersebut diduga anak kecil ini menghirup botol plastik yang isinya pertalite karena cairan tersebut memiliki warna kebiruan. Banyak orang mengira bahwa sang bocah menggunakannya untuk mabuk.

Banyak warganet yang kemudian mengomentari video tersebut menunjukkan betapa prihatin mereka melihat anak kecil sudah melakukan hal yang miris karena aktivitas berbahaya ini berisiko merusak paru-paru. Perlu diketahui bahwa campuran hidrokarbon organik adalah susunan komponen bensin yang tak hanya gampang menguap tapi juga tubuh bisa cepat serap.

Uap bensin dapat ketika dihirup maka dari paru-paru dapat mengalir dalam darah yang kemudian sampai pada otak. Menurut Profesor Dennis Grey seorang ahli narkoba yang dilansir dari ABC Australia, sesampainya uap pada otak, maka fungsi sistem saraf akan mengalami tekanan. Efek ini mirip dengan yang diberikan oleh alkohol sehingga berbagai akibat inilah yang bisa terjadi pada tubuh:

  • Perut sakit
  • Tenggorokan sakit
  • Sakit kepala
  • Gangguan penglihatan
  • Euforia
  • Halusinasi
  • Disorientasi
  • Kelelahan ekstrem
  • Mual
  • Muntah
  • Sulit bernapas
  • Agresif
  • Kejang-kejang
  • Pingsan

Jika menghirup pertalite ini dijadikan sebuah kebiasaan atau bahkan terus-menerus hingga jangka panjang, uap bensin beracun ini mampu menyebabkan organ ginjal, hati, paru-paru, serta otak berujung pada kerusakan. Dilansir dari laman Detik Health, mabuk bensin dengan mabuk alkohol memiliki kemiripan pada efek perilaku, namun mabuk bensin memicu efek perilaku yang lebih aneh sedikit dibandingkan akibat alkohol.

Dikutip dari laman LiveStrong, menghirup uap bensin secara berkepanjangan tak hanya merusak otak, melemahkan otot, maupun mengganggu fungsi sumsum tulang, tapi juga berisiko tinggi memicu kerusakan indera pendengaran dan penciuman. Kalau sampai bertahun-tahun kebiasaan ini dilanjutkan, kinerja saraf dapat menjadi makin lemah.

Bukan lagi otak, melainkan organ paru dan jantung fungsinya pun dapat menurun dan memicu paru untuk tak lagi maksimal ketika meneria jumlah oksigen. Dengan begitu, risiko kematian menjadi lebih besar, khususnya kondisi mati lemas karena penghirup uap bensin dapat berhenti napas secara pelan-pelan.

Tak seluruh kondisi efek menghirup pertalite tersebut serta-merta terjadi pada penghirupnya dalam satu waktu. Keluhan-keluhan yang sudah disebutkan berpotensi terjadi berdasarkan seberapa banyak paparan uap bensin yang diterima oleh tubuh dan seberapa lama hal ini telah terjadi.