Viral Pantyliner Ditempel di Masker Demi Lawan Kabut Asap, Aman Tidak?

70

Kabut asap selama beberapa hari terakhir menjadi kasus yang cukup besar di sejumlah wilayah Indonesia yang semakin lama semakin buruk kondisinya. Dalam melawan kabut asap, banyak orang perlu mengenakan masker untuk melindungi diri agar tak langsung menghirup asapnya. Namun hal ini kemudian memunculkan suatu hal yang viral terkait penggunaan pantyliner yang ditempelkan ke masker kesehatan.

Sebuah akun di media sosial Twitter, @khairul_hafidz sempat begitu ramai menuai banyak retweet, like hingga komentar para warganet. Dirinya bercerita memperoleh info mengenai saran menempelkan pantyliner ke masker yang tujuannya adalah sebagai pelawan kabut asap. Imbauan yang cukup aneh dan tak biasa namun juga mengejutkan bukan?

Namun dalam tulisannya, @khairul_hafidz yang pada keterangan akunnya diketahui berprofesi sebagai seorang dokter ini mengatakan kepada orang-orang untuk tak memercayai imbauan semacam ini dan sebaiknya tidak diikuti. Ia menambahkan pula dengan menulis bahwa letak pantyliner itu di bawah bukan di mask.

Wajar ketika banyak orang mulai menggunakan masker kesehatan selama beberapa waktu ini karena kabut asap mampu meningkatkan risiko penyakit infeksi saluran pernafasan akut atau ISPA pada bayi, anak, hingga orang dewasa. Hanya saja, pemakaian masker tidak dianjurkan bersama dengan pantyliner apalagi menempelkan pantyliner di sana sebab fungsi serta manfaat utama pantyliner pada dasarnya adalah:

  • Menyerap cairan yang miss v keluarkan, entah itu cairan biasa atau cairan darah menstruasi.
  • Menjadi pengganti kapas yang bisa dipakai sebagai pembersih cat kuku pada kuku kita.
  • Menjadi sebuah pencegah noda deodoran atau noda keringat di ketiak dengan menempelkan pantyliner di bagian dalam pakaian yang dikenakan.
  • Menjadi alas sepatu, khususnya sebagai lapisan bagian dasar sebagai peminimalisir bau kaki.

Melansir dari Detik Health, seorang dokter spesialis paru dari Omni Hospital Pulomas, dr Frans Abednego Brus, SpP mengatakan bahwa pantyliner yang ditempelkan ke masker kesehatan tak serta-merta mampu menjadi pelindung dari partikel polusi kabut asap. Menurutnya, entah itu ditempel dengan pantyliner maupun pembalut, fungsinya sama sekali tak ada.

Dijelaskan pula oleh sang dokter bahwa pantyliner sendiri didesain bukan sebagai masker dan bila fungsinya dialihkan menjadi sebuah masker, hal ini tidak menyesatkan hanya saja bukti ilmiah atau medisnya bahwa pantyliner efektif melindungi seperti masker.

Jika tujuan penambahan pantyliner adalah sebagai pelindung dari aroma/bau tertentu, boleh saja, namun para pengguna perlu tahu bahwa perlindungan dari asap kebakaran hutan dan partikel debunya tak ada. Tetap saja, paparan debu serta asap dalam konsentrasi tinggi serta jangka panjang tak mampu kita hindari sepenuhnya dan penyakit paru kronik pun mampu tetap berisiko tinggi terjadi meski 10 tahun lagi.