Hasil Riset Terbaru, Lemak dari Junk Food Bisa Sampai ke Otak Lho

√ Verified Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Siapa tak suka hamburger, junk food satu ini termasuk makanan cepat saji terfavorit karena saking banyaknya orang yang gemar menikmatinya, apalagi bersama kentang goreng dan minuman soda. Namun jangan senang dulu para penggemar burger dan jenis junk food lainnya, kebiasaan makan junk food bukan lagi berpengaruh pada tekanan darah dan kadar kolesterol.

Riset paling baru menyebutkan bahwa kebiasaan makan junk food dapat meningkatkan risiko depresi. Karena junk food adalah sumber makanan yang mengandung lemak jenuh tinggi, lemak jahat inilah yang bakal masuk sampai ke aliran darah lalu akhirnya menuju otak. Saat sampai dan masuk ke otak inilah, lemak jenuh bakal memengaruhi hipotalamus.

Hipotalamus sendiri merupakan bagian otak yang ukurannya kecil sebesar almond dan berfungsi sebagai penjaga kondisi tubuh. Hipotalamus inilah yang menghubungkan sistem saraf dan juga endokrin di mana endokrin akan dirangsang oleh bagian otak ini agar hormon bisa terproduksi secara lancar dan teredarkan ke seluruh tubuh melalui sinyal saraf.

Perlu diketahui bahwa pusat kendali emosi juga ada pada hipotalamus sehingga kalau kinerjanya mengalami gangguan otomatis ini bisa memicu depresi. Hasil riset ini dilakukan oleh para ilmuwan di University of Glasgow walau memang diketahui eksperimen dilakukan kepada tikus saat meneliti hubungan antara kegemukan dengan depresi.

Dilansir dari Daily Mail, Profesor George Baillie sebagai pemimpin tim peneliti mengatakan bahwa riset ini juga menjadi uraian penjelasan tentang mengapa dan bagaimana kegemukan bisa berkaitan dengan masalah mental, khususnya dalam hal ini depresi. Tak hanya itu, sang profesor juga menyatakan bahwa melalui riset ini jugalah ada penanganan yang diberikan supaya pasien dengan kondisi tersebut bisa jauh lebih baik.

Para ilmuwan ini melalui riset terbarunya meyakini bahwa lemak adalah faktor utama pemicu depresi, sementara obesitas alias kegemukan berlebih hanyalah faktor tambahan saja. Sementara itu, antidepresan juga dibuktikan bukanlah jenis obat yang tepat untuk penderita obesitas karena nyatanya tak begitu efektif ketimbang orang-orang dengan berat badan ideal.

Belum diketahui apa jenis penanganan yang lebih baik menurut para peneliti ini. Namun tentu saja, mengurangi makanan-makanan berlemak jenuh dan lemak trans tinggi adalah bagian dari tips hidup sehat yang bisa membantu mengurangi risiko depresi yang berkaitan dengan kegemukan.

fbWhatsappTwitterLinkedIn