Bocah 8 Tahun Ini Tidur dan Tak Bangun Lagi Usai Minum Obat

225

Melissa Sheldrick harus melewati empat bulan lamanya untuk benar-benar tahu apa penyebab anaknya, Andrew yang masih berusia 8 tahun meninggal dunia. Anak lelakinya tersebut diketahui pergi tidur usai minum obat malamnya, namun esok paginya ia tak bangun lagi tanpa sebab yang jelas.

Andrew tiap malam harus minum obat setiap harinya karena mengidap gangguan tidur di mana obat yang dikonsumsinya adalah asam amino yang telah dijadikan cairan. Obat dalam bentuk cairan ini diberikan karena Andrew masih berusia muda sehingga akan ada kemungkinan baginya sulit jika harus minum obat dalam bentuk tablet.

Menurut lansiran dari ABC News Australia, Melissa sang ibu yang berasal dari Kanada mengatakan bahwa ia perlu mengambil tambahan obatnya dan kemudian barulah memberikan kepada buah hatinya itu. Andrew tampak baik saja usai minum, lalu pergi tidur, namun sayangnya ia tak pernah bangun lagi.

Investigasi pun dilakukan dan hasilnya menemukan adanya kesalahan pada pihak apotek tempat orangtua Andrew memperoleh obatnya. Ada kesalahan pada ramuan obat tersebut di mana obat yang salah justru dicampur pada cairan obat yang semestinya untuk Andrew. Dilaporkan bahwa obat tersebut berupa pelemas otot dengan dosis hampir tiga kali lebih besar dari resep seharusnya.

Kejadian dari tiga tahun lalu inilah yang memicu Melissa untuk melakukan kampanye demi menghentikan kesalahan serupa. Kampanye tersebut dilakukan ke seluruh dunia dengan tujuan supaya dapat mencegah korban anak-anak berikutnya karena kesalahan prosedur ramuan obat melewati reformasi hukum.

Belinda Wood selaku Ketua Yayasan Farmasi Australia (PSA) pun memang setuju dengan apa yang dikampanyekan oleh Melissa. Ia mengatakan bahwa kesalahan medis dalam meresepkan obat, proses mengeluarkan obat hingga pada waktu administrasi pun memungkinkan terjadi dan dengan ini diharapkan adanya kualitas yang diperbaiki dengan belajar dari kesalahan.

Beberapa faktor di bawah ini dapat menjadi faktor pencetus medication error yang kemudian dapat menjadi suatu kerugian bagi pasien:

  • Tulisan pada resep yang sulit dibaca
  • Kesalahan dalam proses menghitung dosis
  • Proses menyimpan obat kurang terorganisir sehingga berpengaruh buruk pada proses menyiapkan obat di apotek
  • Kemiripan bentuk ataupun nama obat
  • Pengetahuan mengenai obat yang kurang sehingga proses memberi resep, meracik, hingga pemberian obat bisa salah

Walau dari pihak medis perlu untuk meningkatkan kualitas sekaligus memperbaiki segala kekurangan yang mampu berakibat fatal pada pasien, penting bagi orang-orang untuk tahu pula bagaimana cara mencegah kesalahan pemberian obat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar setidaknya kesalahan dapat diminimalisir adalah:

  • Memastikan lebih dulu jenis obat sekaligus namanya.
  • Membaca detil dan teliti mengenai petunjuk cara pemakaian sekaligus dosis konsumsinya.
  • Memahami bagaimana memakai obat tersebut secara umum.
  • Mengetahui serta mengikuti apa saja pantangan untuk obat yang diberikan tersebut.

Menurut Belinda Wood, penelitian memang telah dapat membuktikan kalau ada beberapa kasus di mana kesalahan bisa saja terjadi yang berhubungan dengan medis termasuk pemberian obat sehingga membuat khawatir. Hanya saja secara umum, apotek manapun akan mengecek ulang dengan teliti oleh farmasis dan kepala asisten farmasis untuk peresepan, peracikan dan pemberian obat.