7 Cara Mendeteksi Autis Pada Bayi Sejak Dini

√ Verified Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Cara mendeteksi autis pada bayi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Tentu saja cara tersebut harus dikonsultasikan pada dokter. Supaya tidak dilakukan secara asal dan dapat memberikan hasil yang maksimal. Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan untuk cara mendeteksi autis pada bayi sebagai informasi untuk orang awam.

1. Skrining Perkembangan

Skrining perkembangan sering kali dilakukan sebagai upaya untuk melakukan deteksi autisme pada balita. Umumnya seorang bayi dapat menjalani tes jenis ini sejak usia 9 bulan. Namun ada pula balita yang menjalani tes skrining di usia 18 bulan, 24 bulan, dan 30 bulan.

Tes dilakukan di usia sekitar 1 hingga 2 tahun dengan pertimbangan bahwa perilaku dan gerak serta perkembangan anak dapat mulai dilihat di usia tersebut. Umumnya tes jenis ini dijalani oleh beberapa bayi yang lahir prematur atau memiliki berat lahir yang sangat ringan dan juga mengalami masalah lainnya.

Dengan menjalani tes skrining perkembangan maka autisme dapat dideteksi sejak dini sehingga orang tua bisa melakukan penanganan dengan segera. Skrining perkembangan disebut juga dengan tes autisme singkat. Tes ini dilakukan dengan tujuan untuk menguji kemungkinan terjadinya keterlambatan perkembangan pada bayi yang mulai bertumbuh dan beranjak dewasa. Jika sampai terjadi keterlambatan maka orang tua bisa segera melakukan pencegahan pada anak agar masalah perkembangan tersebut dapat segera tertangani.

2. Tes Perilaku

Tes perilaku juga sering kali dijadikan sebagai salah satu upaya yang disarankan oleh dokter untuk diberikan pada bayi yang beresiko menderita autisme. Dalam tes ini tentu saja dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan berkaitan dengan keterlambatan perkembangan yang dialami oleh bayi atau balita. Hal ini dilakukan dengan teknik wawancara agar dokter dapat memperoleh keterangan secara rinci. Dokter juga akan berusaha untuk mengulas riwayat kesehatan anak atau rekam medisnya.

Hal ini bertujuan untuk membantu dokter dalam mendapatkan keterangan mengenai berbagai hal yang terkait dengan autisme. Setelah itu dokter akan menggunakan panduan diagnostik dengan tujuan untuk mendapatkan penilaian mengenai perilaku anak terutama bila anak diperkirakan mengalami gejala autisme. Tes jenis ini sering kali dilakukan dengan disertai adanya tes perkembangan dan tes kecerdasan. Sebab kedua hal tersebut sangat berkaitan dengan gejala autisme yang dialami oleh seorang anak.

3. Tes Fisik

Tes fisik menjadi salah satu dari sekian banyak tes yang juga akan menjadi pertimbangan bagi dokter untuk diberikan pada anak yang beresiko menderita autisme. Tes fisik memang bisa dilakukan dengan tujuan untuk melengkapi penelitian atau diagnosis sehingga dokter bisa lebih memastikan apakah pasien menderita autisme. Namun tes fisik pada bayi akan lebih jelas jika dijalani pada saat bayi telah berusia kurang lebih 1 tahun. Pada tes fisik tentunya dokter akan melakukan pengukuran terhadap tinggi dan berat anak.

Selain itu lingkar kepala anak juga akan diukur dengan tujuan untuk memastikan perkembangan anak apakah perkembangannya termasuk normal atau tidak. Selain pengukuran terhadap kondisi fisik anak selanjutnya tes akan berlanjut pada pendengaran anak. Dalam hal ini anak akan diperiksa kemampuan mendengarnya. Tes juga berlanjut pada kemampuan berbahasa pada anak yang didiagnosis menderita autisme. Namun umumnya kemampuan berbahasa dapat diperiksa saat anak berusia di atas 2 tahun. [AdSense-B]

4. Tes Laboratorium

Tes laboratorium digunakan untuk menentukan apakah terdapat masalah fisik pada anak yang diperkirakan mengalami gejala autisme. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam serangkaian tes laboratorium. Misalnya saja seperti tes keracunan timbal yang dilakukan untuk mengukur kadar timbal dalam darah anak. Timbal sendiri merupakan logam beracun dan dapat menyebabkan terjadinya kerusakan otak serta bagian tubuh lainnya. Timbal merupakan logam penyebab autisme pada anak.

Tes ini dilakukan dengan cara mengambil sampel darah anak untuk kemudian diperiksa. Selain itu pasien juga akan dianjurkan untuk menjalani pindai MRI agar gambar detail dari otak bisa diketahui oleh dokter. Melalui hasil MRI maka perbedaan pada struktur otak bisa ditentukan sebab hal ini berkaitan dengan autisme.

Selain itu akan dilakukan pula analisis kromosom terutama jika anak diduga mengalami kelainan kecerdasan ataupun kelainan mental. Tes laboratorium perlu dilakukan mengingat bahwa diagnosis autisme pada tiap pasien adalah berbeda-beda atau bervariasi. Oleh kerena itu diperlukan pula diagnosis melalui tes laboratorium.

5. Gangguan Komunikasi

Gangguan komunikasi memang sering kali dialami oleh hampir seluruh anak yang didiagnosis menderita penyebab autisme. Kemampuan berbahasa pada anak yang menderita autisme memang kurang. Hal ini menyebabkan anak mengalami gangguan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Seharusnya pada saat berusia 24 bulan anak sudah mampu mengucapkan kosakata. Kemampuan berbahasa ini kemudian akan semakin berkembang seiring dengan pertambahan usia anak. [AdSense-A]

Namun jika anak mengalami keterlambatan dalam hal berbahasa dan ketidakmampuan dalam hal berkomunikasi maka sebaiknya orang tua segera memeriksakannya ke dokter. Penderita autisme umumnya saat berbicara akan mengucapkan hal-hal yang tidak memiliki makna. Hal ini pada akhirnya akan membuat anak menjadi sulit untuk berkomunikasi dan bersosialisasi.

Umumnya gangguan komunikasi juga disertai dengan adanya ucapan yang sering kali diucapkan secara berulang-ulang. Jika memang kondisi ini dijumpai pada seorang anak di usia kurang lebih 24 bulan maka sebaiknya anak segera menjalani beberapa jenis terapi yang diperlukan.

6. Perilaku Berulang

Perilaku berulang pada dasarnya menjadi ciri dari adanya autisme pada seseorang. Hal ini termasuk juga pada anak. Ada beberapa macam bentuk perilaku yang dilakukan anak secara berulang-ulang. Misalnya saja seperti perilaku mengibas-ngibaskan tangan. Atau ada pula anak yang suka melompat-lompat di tempat dan gerakan ini dilakukannya secara berulang-ulang.

Anda dapat melakukan deteksi dini pada anak mengenai resiko autisme dengan melihat gerakan atau perilakunya tersebut. Ditambah lagi bila hal ini juga disertai dengan adanya gangguan dalam berbahasa serta gangguan mental. Anak-anak yang menderita autisme umumnya melakukan penarikan sosial. Ada banyak perilaku aneh yang dilakukan oleh penderita autisme saat ia berada di dalam lingkup sosial. Misalnya saja menghindari kontak mata serta memilih untuk sendirian di sepanjang waktu.

7. Reaksi Ekstrim

Reaksi ekstrim cenderung mengacu pada perilaku yang dilakukan oleh penderita autisme saat berada dalam situasi tertentu. Sering kali anak yang menderita autisme memberikan reaksi yang cukup ekstrim dan cenderung mengarah pada perbuatan agresif saat merasa terganggu. Anak yang menderita komplikasi autisme juga bisa saja memberikan reaksi ekstrim saat harus berhadapan dengan adanya perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalam hidupnya.

Kondisi yang demikian akan membuatnya menjadi semakin panik sehingga bisa saja berperilaku negatif yang sifatnya membahayakan. Perilaku impulsif tersebut sebenarnya merupakan luapan dari emosinya. Untuk menangani hal ini sebaiknya penderita autisme segera dianjurkan untuk menjalani terapi sejak usia dini.

Cara mendeteksi autis pada bayi bisa dilakukan berdasarkan gejala yang tampak pada anak. Deteksi perlu dilakukan agar penanganan pada anak penderita autisme dapat segera diberikan. Dengan demikian dapat dilakukan pengobatan dan perawatan autisme sejak dini untuk menentukan langkah tepat yang harus diberikan dalam keseharian para penderita autisme tersebut nantinya.

fbWhatsappTwitterLinkedIn