Home Featured Sering Memanaskan Nasi Kembali ? Cari Tahu Apakah Proses Memanaskan Nasi Kembali Aman Atau Tidak.

Sering Memanaskan Nasi Kembali ? Cari Tahu Apakah Proses Memanaskan Nasi Kembali Aman Atau Tidak.

by Syara

Ada anggapan umum di masyarakat untuk tidak memanaskan kembali nasi. Faktanya hal tidak benar adanya. Memanaskan nasi dibolehkan namun harus memperhatikan beberapa hal untuk memastikan nasi yang dipanaskan kembali aman untuk dikonsumsi.

Pada dasarnya nasi cukup riskan jika dibandingkan dengan sisa makanan lainnya karena nasi sisa bisa saja mengandung bakteri Bacillus cereus yang masih bertahan hidup setelah melalui proses pemasakan. Bakteri inilah yang sering memicu keracunan makanan akibat nasi yang dimasak atau dipanaskan kembali.

Keracunan makanan menyebabkan timbulnya diare dan muntah-muntah serta komplikasi parah lainnya pada individu yang memiliki masalah kesehatan. Jika proses pengolahan nasi sisa tidak dilakukan sesuai dengan petunjuk semestinya, pertumbuhan bakteri akan rentan terjadi. Proses pengolahan yang tepat akan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Menyiapkan, menyimpan dan memanaskan kembali nasi dengan aman

United States Department of Agriculture (USDA) mengeluarkan petunjuk cara memasak, menyimpan dan memanaskan kembali makanan termasuk nasi. Dilansir dari Medical News Today, berikut beberapa langkah dalam proses pengolahan makanan menurut USDA.

Cuci tangan terlebih dahulu

Selalu pastikan untuk mencuci tangan sebelum menyiapkan dan memasak makanan. Perabotan dapur yang digunakan untuk mengolah bahan mentah seperti daging mentah dipisahkan dengan perabotan yang akan digunakan untuk mengolah bahan lainnya.

Masak nasi dengan semestinya

Saat memasak nasi pastikan temperaturnya tinggi. Hindari memasak nasi di suhu antara 4°C hingga 60°C karena disuhu inilah bakteri berkembang sangat cepat. Sajikan nasi sesegera mungkin setelah tanak.

Dinginkan sisa makanan secepatnya

Untuk mengurangi perkembangan bakteri di makanan sisa, segera dinginkan makanan tersebut dengan cara :

  • Membagi makanan ke dalam wadah dan tutup wadah tersebut
  • Makanan yang masih panas segera simpan di freezer.
  • Jangan biarkan nasi atau makanan panas lainnya selama lebih dari sejam.

Simpan sisa makanan dengan semestinya

USDA merekomendasikan untuk menyimpan sisa makanan selama periode tertentu yakni sisa makanan yang disimpan di kulkas sebaiknya dibuang jika melewati 3 – 4 hari, sementara sisa makanan yang disimpan di freezer hanya bertahan hingga 3 – 4 bulan dan setelah harus dibuang.

Temperaturnya juga harus diperhatikan. Menurut USDA, temperatur ruangan adalah 32°C dan merupakan temperatur ideal untuk bakteri berkembang biak. Untuk itu simpanlah makanan di suhu 4°C atau dibawahnya. Buang sisa makanan yang berada di temperatur ruangan selama dua jam.

Proses Pemanasan Kembali

Saat memanaskan nasi kembali, pastikan suhunya panas. Jika memutuskan untuk memanaskan nasi sisa dengan microwave, langkah – langkah berikut dapat dilakukan:

  • Masukkan 1-2 sendok air ke dalam wadah yang berisi nasi sisa. Pastikan tutup wadahnya tidak tertutup rapat untuk membiarkan nasi panas.
  • Letakkan dalam microwave dan panaskan selama 3-4 menit atau hingga panasnya merata.
  • Pastikan suhu nasinya mencapai 73°C atau lebih tinggi lagi. Jika tidak yakin Anda dapat menggunakan thermometer makanan.
  • Sajikan sesegera mungkin setelah dipanaskan.

Untuk menggoreng sisa nasi maka langkah – langkah berikut patut dicoba :

  • Masukkan nasi di penggorengan bersama dengan minyak
  • Pastikan api kompor di posisi medium, dan aduk nasi. Jangan biarkan ada nasi yang menggumpal
  • Terus aduk nasi hingga tercampur merata dengan minyak
  • Anda dapat menggunakan thermometer makanan untuk mengecek temperatur nasi
  • Segara hidangkan nasi saat masih panas

Pada dasarnya mengonsumsi nasi yang telah dingin tidak berbahaya asalkan nasi tersebut didinginkan dan disimpan dengan benar. Jangan biarkan nasi yang telah dipanaskan berada di suhu ruangan terlalu lama. Hindari memanaskan nasi lebih dari sekali karena hal ini akan meningkatkan potensi risiko keracunan makanan.

You may also like