Terapi Elektrokonvulsif – Prosedur – Manfaat – Bahaya

672

Terapi elektrokonvulsif atau yang juga sering disebut dengan terapi ECT ini merupakan sebuah prosedur kesehatan yang mana seseorang yang melakukannya akan dialirkan listrik ke otak agar supaya dapat memicu reaksi kejang secara singkat. ECT tersebut nantinya dapat menyebabkan terjadinya suatu perubahan kimia otak yang akan bermanfaat karena dapat membalikkan gejala penyakit mental tertentu yang sedang dialami.

Perlu anda ketahui bahwasanya ECT tersebut merupakan sebuah pilihan terakhir yang dilakukan apabila metode pengobatan lainnya belum menghasilkan dampak positif terhadap kesehatan pasien. Dengan kata lain, seorang pasien hanya diperbolehkan menggunakan terapi ECT hanya ketika tidak ada lagi pengobatan lain untuk bisa membantu mengatasi masalah atau penyakit yang sedang di alaminya saat itu.

Namun, banyak orang yang memandang atau beranggapan negatif terhadap terapi elektrokonvulsif. Padahal anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya pada pengobatan awal dengan dosis yang tinggi, listrik yang diberikan tanpa dilakukan anestesi terlebih dahulu. Dan hal tersebut itulah yang nantinya akan mengakibatkan beberapa masalah yang akan di alami oleh pasien, seperti misalnya mereka akan mengalami patah tulang maupun juga akan mengalami beberapa dampak buruk lainnya yang tentunya akan membahayakan kondisi pasien, terlebih jika tidak segera ditangani dengan tepat.

Berikut ini kami akan memberikan beberapa penjelasan mengenai prosedur, manfaat dan juga bahaya yang mungkin bisa anda alami ketika anda menggunakan terapi elektrokonvulsif.

Prosedur

Perlu diketahui oleh kita bersama bahwa pada prosedur terapi elektrokonvulsif, ada dua tipe dalam penerapannya. Dua tipe utama yang paling dikenal adalah bilateral dan unilateral di mana dalam jenis bilateral peletakan elektroda ada pada kedua sisi kepala pasien dan perawatan yang dijalani akan memberikan pengaruh pada seluruh otak.

Sementara untuk jenis unilateral, peletakan elektroda ada pada bagian atas kepala pasien dan yang lain penempatan bisa ada pada pelipis pasien sebelah kanan sehingga perawatan semacam ini hanya akan memberi pengaruh pada bagian kanan otak saja. Adapun metode atau cara melakukan terapi elektrokonvulsif yaitu:

  • Nantinya pasien akan diminta puasa terlebih dahulu selama kurang lebih 6 sampai dengan 8 jam.
  • Selanjutnya pasien tersebut akan dibawa ke ruangan khusu dan kemudian akan diminta untuk duduk.
  • Dokter juga tak lupa akan memberikan anestesi umum serta obat khusus untuk merilekskan otot pasien di mana tujuan pemberian ini adalah supaya kejang tidak terjadi.
  • Dengan obat-obatan tersebut, pasien akan tertidur sehingga prosedur akan dapat dilaksanakan secara lancar tanpa pasien merasakan kesakitan
  • Kemudian alat yang digunakan untuk melakukan terapi elektrokonvultif tersebut akan ditempelkan kepada bagian kepala pasien dan selanjutnya akan dialirkan arus listrik menuju otak yang mana hal tersebut bertujuan untuk memberikan sebuah rangsangan singkat.
  • Selama berlangsungnya prosedur tindakan medis terapi ini, tekanan darah serta irama jantung pasien akan tetap berada di bawah pemantauan petugas medis.
  • Sejumlah rumah sakit rupanya memanfaatkan ultra-brief pulse  selama proses medis dilaksanakan yang berlangsung tak lebih dari setengah milidetik ketimbang proses standar.
  • Untuk prosedur rawat jalan, pasien bisa pulang ke rumah di hari yang sama.
  • Banyak orang dapat merasakan sendiri manfaat dari terapi ini dalam 8-12 sesi yang pelaksanaannya dilakukan 3-6 minggu lamanya. Namun, ada pula perawatan sebulan sekali untuk beberapa pasien.

Manfaat

Sekedar informasi bahwasanya terapi ECT ini nantinya akan memberikan hasil atau kesembuhan dalam waktu yang relatif singkat dan juga secara signifikan pada penyakit atau kondisi yang masuk dalam kondisi berat maupun yang berhubungan dengan kesehatan mental. Hal tersebut yang membuat terapi elektrokonvulsif lebih efektif digunakan pada beberapa orang yang mana ia mengalami kondisi gangguan mental seperti ingin bunuh diri, maupun juga untuk membantu mengatasi mania maupun kecanduan yang sangat parah terhadap sesuatu.

  • Terapi elektokonvulsif dapat digunakan untuk membantu mengatasi gejala depresi berat yang mana biasanya akan disertai dengan detasemen dari sautu realitas (psikosis) seperti misalnya keinginan untuk melakukan bunuh diri maupun juga penolakan untuk makan.
  • Dapat juga digunakan untuk membantu mengatasi masalah depresi yang bersifat kronis, seperti misalnya pasien mengalami suatu depresi berat yang tidak kunjung sembuh meskipun sudah dilakukan berbagai macam pengobatan.
  • Membantu mengobati mania parah, agitasi, maupun juga hiperaktif yang biasanya merupakan bagian dari gangguan bipolar yang di alami oleh seseorang. Adapun tanda – tanda lainnya yang menunjukkan bahwa seseorang tersebut mengalami mania yaitu seperti mengalami gangguan dalam mengambil keputusan, psikosis, maupun juga penyalahgunaan zat adiktif.
  • Terapi ini juga dapat digunakan untuk membantu mengatasi catatonia yang biasanya akan ditandai dengan gerakan yang cepat ataupun aneh, kurang gerak, maupun juga tanda – tanda lainnya.
  • Manfaat yang terakhir yaitu dapat digunakan untuk membantu mengatasi gangguan agitasi dan juga agresi terhadap pasien yang mengalami dimensia yang mana akan mempengaruhi kualitas hidup orang tersebut dan akan lebih melakukan hal – hal yang bersifat negatif.

Bahaya

Pada beberapa tindakan medis, memang ada bahaya yang cukup mengancam bagi kesehatan pasien yang menjalani proses medis tertentu. Untuk kasus terapi elektrokonvulsif pun, ada sejumlah risiko yang patut diketahui sekaligus diwaspadai, yakni:

  • Kebingungan: Biasanya ketika seseorang telah menjalani terapi elektrokonvulsif maka akan membuat pasien tersebut mengalami kebingungan yang biasanya akan berlangsung dalam beberapa menit atau bahkan bisa sampai berjam – jam seperti pada ciri-ciri stroke. Kebingungan yang terjadi biasanya akan lebih di alami oleh orang dewasa maupun juga oleh orang tua.
  • Hilang ingatan: Terapi ECT nantinya akan mempengaruhi memori. Dengan kata lain, ketika anda selesai melakukan terapi elektrokonvulsif, maka anda kemungkinan akan mengalami kesulitan untuk mengingat sesuatu maupun peristiwa yang terjadi sebelum anda melakukan terapi tersebut yang mana kondisi tersebut biasanya akan dikenal dengan amnesia retrograde. Hal – hal yang sulit diingat biasanya merupakan kejadian yang terjadi beberapa minggu maupun juga beberapa hari sebelum anda melakukan terapi ECT tersebut.
  • Efek samping fisik: Ketika beberapa hari setelah anda selesai melakukan terapi elektrokonvulsif, biasanya anda akan mengalami mual dan juga muntah, atau anda juga bisa mengalami kondisi lainnya seperti sakit kepala, nyeri pada rahang, maupun kejang otot. Akan tetapi anda tidak perlu khawatir, karena kondisi tersebut biasanya cukup diobati hanya dengan menggunakan obat – obatan biasa.
  • Komplikasi medis: Selama proses terapi, denyut jantung maupun juga tekanan darah pada pasien akan meningkat yang mana bisa mengakibatkan anda akan mengalami masalah jantung yang serius meskipun memang kasus ini masih tergolong sedikit.

Demikianlah beberapa informasi mengenai terapi elektrokonvulsif mulai dari prosedurnya sampai dengan manfaat dan bahaya yang wajib kita ketahui sebelum memutuskan untuk menempuhnya.