Thursday, March 21, 2019

Tularemia

Tularemia merupakan jenis penyakit menular yang termasuk langka namun sekalinya terjadi mampu menyerang bagian mata, kulit paru-paru serta kelenjar getah bening. Penyakit ini pada dasarnya lebih menyerang mamalia, khususnya kelinci dan tikus, walau juga ada kasus di mana tularemia terjadi pada hewan peliharaan seperti kucing, hamster dan anjing hingga menginfeksi domba dan burung.

Tentu tularemia ini tak hanya jenis penyakit berbahaya bagi hewan mamalia, karena penyakit ini pun rupanya dapat menyebar ke manusia seperti melalui hewan yang telah terkena infeksi serta melalui gigitan serangga. Bila pengobatannya kurang tepat, otomatis penyebaran bisa berakibat fatal nantinya pada manusia sekalipun, sehingga penting untuk menemukan informasi lengkapnya di sini.

Gejala

Pada kasus tularemia ini, masa inkubasi kondisi ini secara umum adalah 1-14 hari lamanya dan kemunculan gejala dapat terjadi 3-5 hari sesudah paparan agen infeksius terjadi. Gejala-gejala yang pasien dapat alami dan keluhkan pada kasus tularemia antara lain adalah sebagai berikut.

  • Sesak nafas.
  • Jantung berdetak lebih kencang.
  • Penurunan berat badan secara drastis dan tiba-tiba.
  • Otot mengalami kekakuan.
  • Tubuh cepat lelah.
  • Nyeri sendi
  • Sakit kepala
  • Tubuh terasa menggigil.
  • Demam
  • Tubuh terasa lesu.

Pada kasus ulceroglandular tularemia penderita biasanya mengeluh akan adanya ruam di kulit yang perkembangannya terjadi bertahap menjadi luka yang kita sebut ulkus dan terasa begitu sakit. Ulceroglandular tularemia pun kerap dikaitkan dengan bengkaknya kelenjar getah bening yang pada akhirnya juga bernanah.

Hanya saja, pembengkakan kelenjar getah bening justru terjadi secara lebih jelas di kasus tularemia kelenjar dan konjungtivitis adalah kondisi yang menandakan kelainan oculoglandular. Konjungtivitis adalah keadaan infeksi pada mata yang kemudian menimbulkan bengkak disertai rasa sakit. Ketika melibatkan organ paru-paru, pneumonia pun akan dialami secara lebih serius.

Beberapa gejala serius yang bisa disebabkan oleh tularemia tifoid dan perlu kita kenali sekaligus waspadai bersama antara lain adalah:

  • Pembesaran pada limpa.
  • Gangguan pada organ ginjal.
  • Pneumonia
  • Kelainan pada organ hati.
  • Diare
  • Penyakit kuning.

Penyebab

Karena sebelumnya telah disebutkan bahwa tularemia merupakan jenis penyakit menular yang menyerang pada hewan disebabkan oleh bakteri bernama Francisella tularensis, maka otomatis penyakit ini tak terjadi secara alami pada manusia. Meski begitu, tularemia ini merupakan sebuah penyakit yang ada di seluruh dunia, namun lebih sering menyerang orang-orang di pedesaan sebab banyaknya populasi mamalia di sana.

Banyak mamalia hingga serangga dan burung yang dapat terkena infeksi dari F. Tularensis di mana organisme satu ini diketahui mampu bertahan hidup sampai berminggu-minggu di air, tanah dan juga pada hewan yang sudah dalam kondisi mati. Berikut ini adalah beberapa penyebab dan metode penularan yang bisa terjadi dari hewan ke manusia.

  • Paparan hewan yang telah mati atau sedang sakit. Untuk kasus ulseroglandular tularemia, kondisi ini bisa terjadi sebagai akibat dari gigitan hewan yang sudah terinfeksi dalam dalam keadaan sakit, pada umumnya adalah kelinci. Bakteri dapat memasuki kulit lewat luka terbuka baik itu kecil atau besar serta pembentukan ulkus pada lokasi luka. Sementara pada kasus okular tularemia, hal ini bisa terjadi ketika kita mengusap mata sesudah ada kontak dengan hewan yang terinfeksi atau hewan mati karena tularemia.
  • Gigitan serangga. Lalat rusa dan kutu adalah jenis serangga yang paling perlu diwaspadai meski memang beberapa serangga lainnya berisiko juga membawa tularemia. Kedua jenis serangga itulah yang paling banyak kasusnya menularkan penyakit pada manusia.
  • Air atau makanan yang terkontaminasi. Walau tidaklah umum, ada risiko untuk manusia terkena penyakit tularemia dari konsumsi daging mentah dari daging hewan yang sudah terinfeksi. Begitu juga ketika mengonsumsi air yang telah terkontaminasi bakteri penyebab tularemia. Ketika penyebabnya adalah mengonsumsi air/makanan yang terkontaminasi, maka biasanya tanda-tanda yang dialami adalah diare, muntah-muntah, dan gangguan pencernaan lainnya. Oleh karena itu, bila hendak mengonsumsi daging hewan, pengolahan haruslah dilakukan secara benar dan dengan suhu yang tepat, yakni 73.8 derajat Celcius untuk daging mentah supaya aman dimakan.
  • Bakteri udara. Bakteri bisa ada di mana-mana dan bakteri pun bisa saja kita hirup sehingga akhirnya menjadi penyebab pneumonia tularemia. Infeksi di udara pun bisa saja menyerang para pekerja laboratorium yang pekerjaannya berhubungan erat dengan tularemia.

Faktor Risiko

Tak hanya beberapa faktor yang sudah disebutkan di atas, beberapa faktor risiko lainnya juga perlu untuk diperhatikan dan bahkan kita waspadai, seperti misalnya:

  • Tinggal pada daerah tertentu, khususnya pedesaan atau wilayah yang memang konsentrasi kutunya tinggi.
  • Mengunjungi wilayah tertentu yang berisiko besar telah terkena wabah infeksi ini. Contohnya saja di Amerika Serikat; risiko terkena tularemia jauh lebih besar pada orang-orang yang tinggal maupun berkunjung ke Oklahoma, Missouri, serta Arkansas.
  • Jenis pekerjaan tertentu. Bekerja di daerah yang cukup berhubungan dengan kehidupan liar sekaligus berkaitan erat dengan kedokteran hewan akan meningkatkan risiko terserang tularemia.
  • Hobi berkebun. Para tukang kebun atau Anda yang bekerja dalam bidang perkebungan pun memiliki potensi besar untuk terserang tularemia di mana bakteri berkemungkinan terhirup sewaktu mengerjakan tanah maupun ketika sedang melakukan penggunaan mesin pemotong rumput dan pemangkas gulma.
  • Hobi berburu. Bagi yang senang berburu hewan, ini adalah suatu hobi yang menantang dan berisiko tinggi. Pemburu yang terkena darah hewan liar lalu juga mengonsumsi hasil daging buruan akan lebih besar potensinya terserang tularemia, apalagi kalau hewan tersebut sudah terinfeksi.

Diagnosa dan Pengobatan

Agak sulit dalam proses diagnosa tularemia sebab langkanya penyakit ini dan gejala-gejala yang dialami penderita pun tergolong umum seperti gejala penyakit lainnya. Namun beberapa metode pemeriksaan ini bisa dicoba ditempuh oleh pasien.

  • Tes urine
  • Tes darah
  • Tes biokimia
  • Radiografi dada

Setelah menempuh proses diagnosa dan memang diketahui positif menderita tularemia, dokter baru dapat memutuskan perawatan apa yang paling sesuai untuk membantu pemulihan pasien. Berikut di bawah ini adalah sejumlah pengobatan atau perawatan yang kemungkinan dokter berikan supaya gejala mereda dan sekaligus juga membunuh bakteri di dalam tubuh pasien.

  • Terapi antibakteri – Metode pengobatan satu ini tergolong efektif ketika digunakan mengobati kondisi tularemia yang masih dalam tahap ringan. Terapi ini jugalah yang biasanya diandalkan supaya pasien tidak sampai mengalami bahaya komplikasi semacam pneumonia atau meningitis.
  • Jenis antibiotik tertentu – Streptomisin atau gentamicin adalah jenis antibiotik yang paling umum digunakan untuk pasien tularemia dan bahkan juga terbilang efektif. Pemberian obat ini dilakukan secara intramuskular atau melalui suntikan kepada pasien sehari 2 kali paling tidak 1-2 minggu tergantung saran dan kebijakan dokter.
  • Pengobatan oral – Pengobatan oral dengan fluoroquinolones, doksisilin maupun kloramfenikol juga dikenal memiliki efektivitas cukup baik ketika digunakan untuk mencegah kekambuhan gejala yang disebabkan oleh aktifnya penyebaran bakteri di dalam tubuh pasien.

Komplikasi dan Pencegahan

Saat tularemia sudah menimbulkan gejala, tapi tidak segera diatasi atau bahkan dibiarkan begitu saja, berikut ini adalah sejumlah komplikasi yang sangat berbahaya bagi tubuh penderitanya:

  • Infeksi tulang – Bahayanya dari tularemia adalah bahwa bakteri bisa saja menyebar hingga ke tulang penderita sehingga terjadilah infeksi tulang.
  • Perikarditis – Iritasi di bagian jantung besar risikonya untuk terjadi dan menimbulkan pembengkakan di perikardium. Terapi antibiotik kiranya diperlukan apabila sudah pada tingkat serius.
  • Meningitis – Infeksi pada membran dan cairan yang ada di sekitar sumsum tulang belakang serta otak ini dapat mengancam jiwa penderita.
  • Pneumonia – Gangguan pernapasan satu ini rupanya bisa berakibat fatal, seperti memicu gagal napas, sebuah kondisi di mana paru-paru tidak sanggup mengambil cukup oksigen dan bahkan tidak mampu mengeluarkan karbondioksida.

Sebagai langkah pencegahan supaya tidak terserang tularemia dan juga tidak membuat kondisi tularemia makin serius, cobalah untuk  melindungi diri dari serangga serta hewan-hewan peliharaan lain. Bagi yang memiliki hewan peliharaan di rumah pun perlu untuk melindungi mareka agar tidak terkena tularemia di mana langkah ini otomatis mencegah penularan terhadap manusia. Bagi yang senang berkebun, hendaknya juga melindungi diri dengan baik supaya tak gampang menghirup bakteri penyebab tularemia.

Penting juga untuk memastikan bahwa cara pengolahan dan memasak daging hewan yang hendak dikonsumsi adalah benar dan sungguh-sungguh dalam kondisi matang sewaktu dimakan. Tularemia merupakan penyakit langka, namun bukan tak mungkin hal ini bisa menyerang kita sewaktu-waktu.

No posts to display

Recommended