Monday, September 23, 2019

Tetraplegia

Tetraplegia merupakan salah satu contoh penyakit atau kondisi kesehatan yang terjadi dalam bentuk kelumpuhan dan hal ini dipicu oleh beberapa penyakit atau luka yang membuat sebagian atau bahkan keseluruhan fungsi torso serta tungkai menjadi hilang. Ini artinya, saraf motorik dan sensoriklah yang terkena dampak sehingga kontrol dan sensasi pada bagian tersebut menjadi tidak ada lagi.

Klasifikasi Tetraplegia

Perlu diketahui bahwa cedera tulang belakang ada pengelompokan khusus dan terdiri dari 2 jenis menurut American Spinal Injury Association atau ASIA, yakni tetraplegia/qiadriplegia lengkap dan juga tetraplegia/quadripelgia parsial atau tidak menyeluruh. Ada beberapa kelas yang perlu untuk kita pahami seperti berikut di bawah ini.

  • Kelas A, Lengkap – Fungsi sensorik maupun motorik tidak ada yang tersimpan pada segmen sakral S4-S5.
  • Kelas B, Tidak Lengkap – Pemeliharaan fungsi sensorik pada tubuh tanpa fungsi motorik di bawah level neurologis.
  • Kelas C, Tidak Lengkap – Fungsi motorik dipertahankan di bawah tingkat neurologis dan diketahui bahwa 50 persen lebih otot kunci berada di bawah level neurologis nilai ototnya justru tidak lebih dari 3.
  • Kelas D, Tidak Lengkap – Sama halnya dengan kelas C di mana fungsi motorik dipertahankan di bawah tingkat neurologis. Namun, otot kunci paling tidak 50 persen ada di bawah level neurologis dengan nilai otot 3 ke atas.
  • Kelas E, Normal – Fungsi motorik dan sensorik dianggap tidak ada masalah alias normal.

Tetraplegia Lengkap

Pada kasus klasifikasi ini, saraf tulang belakang terdiri dari 3 segmen cedera. Berikut merupakan sejumlah penjelasan singkat yang kiranya dapat membantu kita memahami lebih jauh.

  • Segmen lesi – Hal ini terdiri dari otot-otot dengan kerusakan neuron motorik bawah dan otot-otot ini pun bersifat hipotonik, atrofik serta tak dijumpai adanya kontraksi secara spontan.
  • Segmen sublesional – Cedera ini terjadi di bawah segmen metamere atau segmen lesi dengan neuron motorik bawah yang tidak didapati adanya kerusakan tapi justru tak mempunyai kendali korteks bagian atas.
  • Segmen meduler – Cacatnya segmen meduler memiliki otot yang lumpuh dan untuk mengetahui kondisi sebenarnya dan apakah terjadi secara permanen, maka perlu diketahui akan skalanya menurut skala British Medical Research Council.

Tetraplegia Tidak Lengkap

Penting pula untuk mengetahui akan kondisi satu ini sebab ada bermacam-macam hal pasca cedera yang terjadi. Tergantung dari lokasi dan tingkat keparahan lesi, berikut adalah 3 jenis sindrom utama pada kategori ini.

  • Sindrom central cord – Sindrom ini bisa berlanjut dan pada umumnya terletak di bagian abu-abu sumsum tulang belakang.
  • Sindrom Brown-Sequard – Sindrom ini merupakan jenis kondisi yang memberi dampak di bagian hemi-sumsum tulang belakang dan istilah lain untuk kondisi ini adalah hemiplegia.
  • Sindrom anterior cord – Terjadinya lesi adalah pada ujung anterior serta saluran anterolateral.

Penyebab

Setiap gangguan kesehatan pada tubuh selalu ada faktor penyebab ataupun faktor risiko bila tak diketahui persis apa penyebab utamanya. Untuk tetraplegia ini, gangguan akan timbul ketika kerusakan atau cedera justru ditopang oleh sumsum tulang belakang atau otak di tingkat C1 atau C7.

Cedera di bagian tulang belakang pada umumnya diketahui sebagai lesi yang mampu menjadi penyebab fungsi lengan dan tungkai kaki menjadi hilang sebagian atau bisa juga total. Berikut ini merupakan faktor risiko atau penyebab umum yang terjadi sebagai akibat rusaknya sumsum tulang belakang.

  • Gangguan bawaan – Contoh gangguan bawaan yang bisa menjadi faktor pemicu dari tetraplegia adalah distrofi muskular dan multipel sklerosis.
  • Penyakit tertentu – Contoh penyakit seperti mielitis melintang dan polio mampu meningkatkan potensi seseorang untuk terkena tetraplegia.
  • Trauma – Cedera seperti terjatuh atau cedera olahraga maupun kecelakaan dalam berkendara rupanya bisa menimbulkan trauma yang kemudian memperbesar risiko tetraplegia.

Penting untuk kita ketahui bersama bahwa apabila terjadi dislokasi atau keretakan di bagian tulang belakang tanpa menimbulkan kerusakan pada bagian tersebut, ada kemungkinan untuk menimbulkan patah leher tapi tidak menjadi tetraplegia. Ada kalanya seseorang bisa memiliki cedera di tulang belakang tapi tanpa mematahkan tulang tersebut.

Gejala

Seperti halnya gangguan kesehatan pada umumnya, ada penyebab tentu ada pula gejala yang ditunjukkan pada kasus penyakit ini. Berikut adalah beberapa gejala atau tanda umum tetraplegia untuk kita ketahui dan waspadai:

  • Kaki kejang
  • Lengan terasa lembek
  • Hilangnya kendali pada kandung kemih, usus, fungsi seksual, pencernaan, pernapasan dan lainnya.
  • Mati rasa di bagian yang terserang
  • Nyeri neuropatik

Para penderita tetraplegia rata-rata akan menjumpai dan mengalami masalah imobilitas dan juga fungsi tubuh yang menurun. Penderita dianggap dan diketahui pula lebih rentan terhadap beberapa kondisi tubuh seperti:

  • Fraktur
  • Tekanan luka
  • Osteoporosis
  • Pembekuan sendi
  • Spastisitas
  • Gangguan kardiovaskular
  • Infeksi hingga komplikasi pada pernapasan
  • Disleksia otonom
  • Trombosis vena dalam

Tingkat cedera akan menjadi faktor penentu separah apa kondisi tetraplegia penderita. Fungsi leher ke bawah memiliki risiko tinggi untuk hilang pada seseorang yang menderita cedera tingkat C1 alias vertebra serviks paling tinggi yang ada pada dasar tengkorak. Sementara cedera C7 pada seseorang akan memungkinkan untuk membuat fungsi dari dada ke bawah hilang fungsi tapi tetap mempunyai kemampuan dalam menggunakan lengan dan tangan.

Penderita tetraplegia tidak selalu menunjukkan adanya masalah untuk penggunaan kaki dan lengan walau sumsum tulang belakang mereka sedang cedera. Sejumlah pasien lainnya kemungkinan besar akan menjadi tergantung pada penggunaan kursi roda dan mencoba untuk mempertahankan fungsi gerakan jari dan lengan.

Pengobatan dan Komplikasi

Setelah gejala terlihat atau dialami, pemeriksaan MRI, sinar-X dan juga CT scan sangat diperlukan untuk memastikan kondisi sehingga dapat ditentukan apa solusi pengobatan paling tepat.

  • Peralatan bantu khusus – Karena penderita tetraplegia sulit untuk menggerakkan beberapa bagian tubuh, maka supaya cedera di bagian tertentu tidak makin bertambah parah, diperlukan penggunaan alat bantu khusus.
  • Penstabilan detak jantung dan tekanan darah – Para ahli medis biasanya akan turut membantu dalam menstabilkan detak jantung maupun tekanan darah berikut juga kondisi kesehatan secara menyeluruh.
  • Intubasi – Dokter kemungkinan akan memakai intubasi sebagai fasilitas pernapasan di mana satu tabung pembawa oksigen dimasukkan ke tenggorokan penderita di mana tentunya tabung ini bersifat fleksibel.
  • Pembedahan – Selalu ada kemungkinan pilihan pembedahan dengan tujuan agar tekanan di tulang belakang bisa berkurang. Walau memang pembedahan tidak mampu menjadi solusi untuk memperbaiki saraf sumsum tulang belakang yang terkena luka, paling tidak pembedahan mampu menstabilkan tulang belakang.
  • Obat-obatan tertentu – Obat jenis kortikosteroid kemungkinan diberikan oleh dokter yang tujuan utamanya adalah sebagai pencegah supaya kondisi tak menyebar. Pemberian obat ini pada umumnya 8 jam pasca cedera, tapi tak selalu dokter menganjurkan penggunaan obat ini sebab akan memunculkan efek samping cukup serius.
  • Rehabilitasi – Solusi perawatan ini dapat digunakan untuk mendukung penderita dalam mengatasi segala hambatan pada gerakan fisik. Terapi fisik pasif adalah solusi bagi atrofikasi otot. Namun pada zaman sekarang, metode baru seperti dengan teknologi stimulasi neuromuskular fungsional melalui pemakaian elektroda supaya otot penderita terangsang selama latihan lebih diandalkan.

Komplikasi apa yang perlu dihindari?

Komplikasi tetraplegia yang berbahaya bagi penderitanya antara lain adalah:

  • Batu ginjal
  • Hilangnya kontrol pada kandung kemih dan usus.
  • Komplikasi pernapasan
  • Disleksia otonom
  • Trombosis vena dalam
  • Gangguan ginjal
  • Kejang otot
  • Pembekuan sendi
  • Pneumonia
  • Pembekuan darah
  • Impotensi (semacam disfungsi seksual).
  • Rasa seperti ditusuk-tusuk.
  • Nyeri di area yang terkena.

Tetraplegia bukanlah hal yang sepatutnya diabaikan, jadi dengan informasi ini kiranya kita lebih memerhatikan apa yang menjadi gejala dari tetraplegia sehingga dapat mencegah maupun mengatasinya dengan benar.

No posts to display

Recommended