Sunday, January 20, 2019

Kriptokokosis

Kriptokokosis merupakan sebuah kondisi infeksi jamur yang berpengaruh besar pada sistem fisik seseorang secara menyeluruh, namun ada pula yang hanya pada sistem saraf pusatnya saja. Penderita HIV AIDS diketahui berisiko tinggi terserang infeksi jamur ini. Infeksi jamur kriptokokosis ini pun tergolong umum dan sudah banyak memakan korban, itulah mengapa kita perlu mengenali lebih dalam.

Penyebab

Kriptokokosis merupakan sebuah kondisi infeksi jamur, maka tentu saja penyebab utama yang perlu kita ketahui adalah infeksi ini disebabkan oleh jenis jamur yang bernama Cryptococcus neoformans yang pada umumnya lebih banyak dijumpai pada tanah. Ketika seseorang memiliki daya tahan tubuh lemah, akan sangat mudah untuk terkena serangan organisme tersebut.

Serangan organisme seperti jamur tersebut akan lebih besar potensinya terjadi pada orang-orang yang menderita penyakit Hodgkin maupun penderita infeksi HIV karena tubuh mereka sedang memiliki sistem kekebalan cukup rendah. Bahkan tak hanya penderita kedua penyakit tersebut, orang-orang dengan kanker dan tengah menjalani pengobatan seperti kemoterapi pun bisa dengan mudah terserang.

Orang-orang yang sedang menjalani perawatan menggunakan terapi obat semacam kortikosteroid dalam dosis tinggi pun akan mampu menderita infeksi seperti kriptokokosis ini secara mudah. Ini karena kortikosteroid merupakan sebuah jenis obat yang berfungsi sebagai penekan daya tahan tubuh seseorang. Otomatis ketika daya tahan tubuh ditekan, respon kekebalan yang alami terhadap infeksi akan turun.

Saat kekebalan alami menurun di dalam tubuh seseorang, kerentanan terhadap infeksi jamur bisa meningkat. Begitu berhasil masuk ke dalam tubuh manusia, jamur akan menyerang bagian paru-paru dan bahkan ada kemungkinan cukup besar bahwa infeksi bisa menyebar ke beberapa bagian tubuh lainnya.

Wajib untuk diwaspadai bahwa infeksi berpotensi menyebar hingga ke organ otak pada orang-orang yang pada dasarnya mempunyai tingkat kekebalan cukup rendah. Gejala tidak dialami oleh orang-orang yang memiliki sistem imun cukup tinggi dan normal walau infeksi terjadi di bagian paru-paru yang disebabkan oleh serangan jenis jamur tersebut.

Faktor Risiko

Dengan begitu, dapat kita simpulkan bahwa penyebab utama kriptokokosis adalah jamur bernama Cryptococcus neoformans, namun infeksi akan lebih mudah menyerang apabila:

  • Seseorang menderita HIV AIDS.
  • Seseorang mempunyai penyakit Hodgkin.
  • Seseorang menderita kanker.
  • Seseorang menjalani kemoterapi.
  • Seseorang menggunakan kortikosteroid dosis tinggi.

Gejala

Seperti halnya pada kasus gangguan kesehatan lainnya, ada beberapa gejala yang akan nampak atau dialami oleh penderita yang sudah terkena infeksinya. Secara umum, di bawah inilah gejala atau tanda-tanda dari kriptokokosis yang wajib kita kenali dan waspadai bersama.

  • Tulang terasa sakit.
  • Mual
  • Sakit kepala.
  • Sakit di bagian dada.
  • Tubuh terasa cepat lelah.
  • Diplopia atau penglihatan ganda.
  • Sternum atau kondisi di mana kelembutan di bagian tulang payudara.
  • Kelenjar mengalami pembengkakan.
  • Demam
  • Penurunan berat badan yang tak jelas penyebabnya.
  • Muncul ruam pada kulit yang tampak seperti bintik merah terlokalisir.
  • Batuk kering.
  • Sering kebingungan.
  • Berkeringat secara berlebihan, khususnya dialami di malam hari.

Saat mengalami gejala-gejala tersebut, ada baiknya untuk segera memeriksakan diri ke dokter karena gejala-gejala tersebut pun masih termasuk kondisi yang umum dan tak hanya terjadi sebagai tanda kriptokokosis.

Supaya jelas bahwa memang tanda-tanda tersebut merujuk pada infeksi jamur seperti kriptokokosis, menempuh beberapa jalur metode diagnosa akan mampu mendeteksi secara lebih jelas. Dengan diketahui bahwa seseorang positif terserang infeksi jamur dari gejala yang dikeluhkan, dokter pun akan mampu menentukan solusi pengobatannya.

Diagnosa

Setelah datang menemui dokter, tentunya ada serangkaian metode pemeriksaan yang perlu dilalui oleh seseorang yang mengeluhkan beberapa gejala tanda terserang kriptokokosis. Metode-metode diagnosa yang dimaksud antara lain:

  • Pemeriksaan fisik. Ini adalah langkah awal diagnosa di mana dokter melakukannya dengan mencari tanda-tanda pada fisik pasien, seperti detak jantung yang cepat, demam, kekakuan pada leher, pernapasan dengan suara yang tak seperti normalnya, hingga adanya perubahan kondisi mental pada pasien.
  • Spinal tap. Contoh metode diagnosa ini biasanya dipergunakan dengan tujuan untuk memperoleh sampel cairan serebrospinal yang kemudian akan dianalisa.
  • Pemeriksaan CSF. Proses pemeriksaan satu ini biasanya diandalkan oleh dokter untuk mampu mengidentifikasi lebih jauh apakah infeksi jamur Cryptococcus sudah menyebar sampai ke otak.
  • Kultur cairan serebrospinal. Tes ini merupakan alternatif dari pemeriksaan CSF dengan tujuan yang sama.
  • Uji antigen kriptokokus. Tes satu ini pun kemungkinan akan diperlukan, namun tak begitu umum sebab hanya pada kasus tertentu saja tes ini digunakan. Tujuannya adalah untuk menemukan molekul tertentu yang dikeluarkan pada aliran darah pasien oleh jamur Cryptococcus.

Sementara itu, kemungkinan dokter juga akan menyarankan pasien untuk menempuh beberapa pemeriksaan lain untuk memastikan kondisi kriptokokosis melalui tes-tes ini:

Seluruh tes yang sudah disebutkan tersebut berguna sebagai penentu apakah jamur memang sudah berhasil memengaruhi tubuh pasien. Dari hasil pemeriksaan itulah, dokter baru bisa menentukan apa solusi pengobatan paling tepat bagi pasien.

Pengobatan

Sesudah beberapa waktu, diketahui bahwa infeksi dapat sembuh secara sendirinya, namun apabila gejala tidaklah ditangani sama sekali ketika muncul, ada risiko besar akan terjadinya penyebaran infeksi ke bagian organ tubuh lain sehingga menjadi lebih fatal. Itulah mengapa, perawatan medis penting didapat oleh para pasien kriptokokosis untuk meredakan atau menghilangkan gejala-gejala yang ditimbulkan saat infeksi menyerang. Bahkan sebisa mungkin jamur Cryptococcus pun harus dibasmi sehingga penyebaran ke sistem fisik bisa dicegah.

  • Terapi Obat

Dokter akan meresepkan beberapa jenis obat antijamur tertentu yang pada umumnya dipergunakan untuk membunuh jamur Cryptococcus. Obat yang dimaksud di sini adalah flukonazol, amfoterisin B dan flucytosine. Bila ada kecurigaan bahwa infeksi dapat menyebar, otomatis obat antijamur tersebutlah yang akan diberikan.

Sementara fluconazole dan itraconazole merupakan jenis obat yang biasanya dokter resepkan untuk kasus infeksi yang masih ringan dan diperlukan penggunaan 6 bulan hingga setahun. Efektivitasnya dalam mengobati kriptokokosis memang sudah tak perlu diragukan lagi dan obat-obatan tersebut tidak akan memengaruhi sistem saraf pusat pasien.

Penggunaan amfoterisin B rupanya diberlakukan pada pasien yang mengidap meningitis yang dikombinasikan bersama 5-fluorocytosine. Durasi penggunaan yang dianjurkan pada umumnya adalah kurang lebih 10 minggu yang tentunya bisa dikonsultasikan dengan dokter. Obat inilah yang lebih tepat bila ingin menyembuhkan infeksi yang sudah sampai di sistem saraf pusat pasien. Cairan serebrospinal pun akan tersterilkan dan komplikasi berbahaya dapat dicegah.

  • Berdiet Sehat

Rupanya penggunaan obat-obatan saja tidaklah cukup pada kasus kriptokokosis, tapi juga meningkatkan diet sehat Anda. Makanlah setiap harinya makanan bernutrisi dan membatasi konsumsi junk food sebisa mungkin. Sebagai salah satu cara meningkatkan kekebalan tubuh supaya infeksi tak gampang menyerang, konsumsilah makanan yang mengandung vitamin C tinggi, seperti buah jeruk, kubis, tomat, dan brokoli.

  • Melakukan Hubungan Intim yang Aman

Jaga keamanan setiap kali melakukan hubungan seksual dengan pasangan. Akan lebih besar risiko terkena kriptokokosis apabila seseorang sering berganti-ganti pasangan dalam melakukan hubungan seksual. Itulah mengapa penderita HIV AIDS menjadi lebih rentan terhadap serangan infeksi jamur ini, karena imunitas tubuh yang melemah.

  • Membatasi Penggunaan Kortikosteroid

Penggunaan kortikosteroid nyatanya menjadi salah satu faktor risiko kriptokokosis karena imunitas tubuh yang ditekan. Oleh karena itu, batasi penggunaan kortikosteroid, atau bahkan hentikan pemakaiannya. Namun sebelumnya, pastikan untuk berkonsultasi lebih dulu dengan dokter agar mendapatkan solusi pengganti obat kortikosteroid bila diperlukan. Tapi biasanya, kriptokokosis dapat terhambat perkembangannya saat penggunaan dosis kortikosteroid kita turunkan.

Kriptokokosis pada dasarnya adalah kondisi infeksi jamur yang bisa dicegah hanya dengan gaya hidup bersih dan sehat. Jadi, pastikan untuk menjalani tips diet sehat serta seimbang untuk senantiasa menjaga kekebalan tubuh tetap normal. Apabila gejala datang, segera ke dokter untuk memperoleh bantuan pengobatan medis.

No posts to display

Recommended