Tuesday, March 19, 2019

Dishidrosis

Jika Anda pernah mendengar eksim dishidrotik, maka dishidrosis ini merupakan istilah lain bagi kondisi eksim dishidrotik tersebut. Ini adalah sebuah keadaan di mana kulit memiliki bintil-bintil kecil yang di dalamnya terdapat isi cairan dan menimbulkan rasa gatal. Hal ini mirip seperti kondisi cacar air di mana bisa terjadi di permukaan telapak kaki, telapak tangan hingga sela-sela jari.

Bintil-bintil tersebut bisa juga disebut dengan lepuhan kecil yang kemunculannya dapat terjadi terus-menerus dan bahkan dapat bertambah dan menyebar kurang lebih 3 minggu. Sewaktu lepuhan mengering, kulit dapat terasa sakit disertai dengan kondisi pecah-pecah. Penderita jelas akan tergoda untuk menggaruk saking gatalnya, namun kulit juga terasa lebih kenyal dan tebal sewaktu disentuh.

Penyebab

Penyebab pasti dari terjadinya dishidrosis masih belum jelas diketahui, namun ada dugaan besar bahwa penyebab dishidrosis ada kaitannya dengan gangguan kulit yang kita sebut dengan istilah dermatitis atopik. Bahkan rhinitis alergi juga diperkirakan memiliki hubungan erat dengan terjadinya dishidrosis ini.

Meski demikian, ada beberapa faktor juga yang diketahui menjadi faktor peningkat risiko dari timbulnya dishidrosis pada seseorang. Berikut di bawah ini merupakan beberapa faktor risiko yang wajib kita ketahui bersama agar dapat mewaspadai dengan baik. Ketika telah mengetahui penyebabnya, akan lebih mudah pula untuk mencari penanganan yang paling tepat.

  • Paparan logam tertentu – Kobalt dan nikel adalah contoh logam yang dimaksud di sini di mana paparan seperti ini akan lebih besar risikonya ketika seseorang bekerja di lingkungan industri.
  • Kulit tipe sensitif – Dishidrosis rata-rata lebih berisiko besar terjadi pada orang-orang yang mengalami ruam sesudah mengalami kontak dengan iritan tertentu.
  • Stres – Baik itu stres secara emosional maupun fisik, dishidrosis dapat muncul ketika seseorang mengalami kedua jenis stres tersebut.
  • Eksim atopik – Rupanya kondisi eksim atopik mampu memicu terjadinya dishidrosis pada seseorang. Jadi bagi Anda yang sebelumnya telah memiliki riwayat eksim atopik, pastikan untuk mewaspadai akan munculnya dishidrosis karena risiko terkena menjadi makin besar.

Adakah komplikasi dishidrosis?

Dishidrosis tentunya bisa membuat penderitanya sangat tak nyaman karena rasa gatal yang begitu mengganggu. Karena rasa gatal atau sakit yang dirasakan pada kulit tangan dan kaki, otomatis ini akan menjadi hal yang membatasi penggunaan kaki maupun tangan. Sementara itu, bila menggaruk terlalu kasar dan menimbulkan luka, ini bisa meningkatkan risiko terserang infeksi bakteri pada kulit.

Gejala

Gejala paling nampak dari kondisi dishidrosis adalah lepuhan atau bintil-bintil kecil berisi cairan yang biasanya ada pada telapak tangan, telapak kaki, bahkan juga pada sisi dan sela-sela jari. Ukuran kecilnya bintil-bintil tersebut adalah sekitar ujung pensil yang standar jadi lebih sering dianggap mirip dengan tapioka.

Dalam kasus yang lebih serius, beberapa lepuhan atau bintil kecil dapat bergabung menjadi satu sehingga menjadi bintil yang lebih besar. Ketika dishidrosis terjadi pada kulit, selain timbulnya bintil-bintil, ada pula rasa gatal berikut nyeri yang cukup mengganggu. Baru setelah 3 minggu kurang lebihnya bintil atau lepuhan kecil akan mengering dan akhirnya mengelupas sendiri.

Kulit bawahnya setelah pengelupasan akan berubah menjadi warna merah namun kulit menjadi lebih lembut. Namun jangan lega dulu, karena gejala dishidrosis rupanya bisa terjadi secara berulang yang artinya bisa kembali lagi. Bahkan pengulangan bisa terjadi secara teratur selama berbulan-bulan bahkan ada pula beberapa kasus di mana terjadinya pengulangan sampai bertahun-tahun.

Kapan harus memeriksakan diri ke dokter?

Segeralah ke dokter saat ruam kemerahan mulai memenuhi kulit, terutama bintil-bintil berisi cairan pada bagian tangan atau kaki yang tak hilang dalam beberapa hari. Bila juga terasa nyeri atau sangat gatal, pastikan untuk memeriksakannya agar lebih cepat ditangani oleh dokter.

Pengobatan

Setelah gejala muncul, maka ketika Anda memutuskan untuk memeriksakannya, ada sejumlah metode diagnosa yang bisa ditempuh. Pada umumnya, dokter dapat mendeteksi dishidrosis berdasarkan pada pemeriksaan fisik yang dilakukan di awal. Sebenarnya, tak ada juga tes laboratorium yang secara spesifik mampu memastikan hasil diagnosa dari dishidrosis karena gejalanya memang mirip dengan kondisi gangguan kesehatan kulit lainnya.

Tergantung dari tanda-tanda yang ditunjukkan, dokter baru bisa menentukan jenis perawatan yang paling sesuai bagi Anda. Beberapa langkah pengobatan dari dokter untuk mengatasi dishidrosis adalah:

  • Kortikosteroid – Kortikosteroid dalam bentuk krim biasanya tergolong obat yang efektif dalam membuat bintil atau luka karena dishidrosis hilang dengan cukup cepat. Supaya krim bisa cepat terserap ke dalam kulit, pastikan untuk membungkus area kulit yang sudah dioles dengan salep/krim kortikosteroid dengan plastik. Pil kortikosteroid kiranya adalah yang diresepkan oleh dokter apabila kondisi pasien sangat buruk, namun penggunaan jangka panjang perlu diwaspadai sebab mampu menimbulkan sejumlah efek samping yang cukup berbahaya bagi tubuh.
  • Salep penekan kekebalan – Obat-obatan seperti pimecrolimus serta tacrolimus adalah contoh obat yang kiranya juga turut diberikan oleh dokter supaya dapat membantu membatasi paparan steroid. Bila Anda takut atau khawatir akan efek sampingnya yang bisa meningkatkan potensi infeksi kulit, konsultasikan dulu secara mendetil akan hal ini dengan dokter Anda.
  • Suntikan toksin botulinum – Dokter juga berkemungkinan memberikan suntikan toksin botulinum ini apabila memang kondisi gejala yang dialami oleh pasien sudah sangat parah.
  • Fototerapi – Ketika perawatan dengan obat kurang begitu mempan, maka fototerapi diketahui menjadi solusi yang termasuk membantu, yakni melalui penggabungan paparan sinar ultraviolet dengan obat yang akan membantu kulit sehingga efek dan manfaat dari terapi ini bisa diterima lebih baik dan mudah.

Selain dari perawatan medis dan obat-obatan yang direkomendasikan oleh dokter, ada pula sejumlah langkah alami nan mandiri yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi gejala-gejala mengganggu yang timbul akibat dishidrosis, seperti misalnya:

  • Kompres dingin dan basah – Agar iritasi berkurang, cobalah untuk mengompres bagian kulit yang beruam, gatal dan nyeri. Gunakan kain/handuk tipis bersih yang dibasahi lebih dulu dengan air dingin, masukkan kemudian ke lemari es beberapa jam lamanya, barulah lanjutkan dengan dibalutkan pada bagian yang terkena dishidrosis.
  • Menggunakan gel lidah buaya – Seperti sudah diketahui oleh kita semua, khasiat lidah buaya untuk kulit yang terkena gangguan kesehatan cukup besar. Jadi, pastikan juga mencoba mengoleskan rutin gel lidah buaya pada kulit yang terkena dishidrosis.
  • Mandi dengan air hangat suam-suam kuku atau air dingin – Mandi air panas bisa menyebabkan kulit makin kering dan bahkan akan memudahkan iritasi terjadi. Jadi supaya kulit penderita dishidrosis tak makin serius, cobalah untuk mandi menggunakan air dingin atau air yang hangat tapi tidak terlalu panas alias suam-suam kuku.
  • Menggunakan oatmeal – Oatmeal tak hanya baik dan berkhasiat tinggi bagi para penderita jenis-jenis penyakit jantung. Obat rumahan satu ini bisa diandalkan dengan membuat larutan oatmeal yang tidak terlalu kental, lalu Anda dinginkan di dalam lemari es beberapa jam lamanya sebelum digunakan dengan mengoleskannya pada kulit yang terkena dishidrosis. Setelah dioles, tunggu kering barulah dibilas menggunakan air mengalir.

Karena ada potensi bahwa gejala dishidrosis bisa menyebabkan infeksi bakteri yang menyebar, segera atasi ketika gejala awal menyerang. Tak lupa, selama membersihkan tubuh, pakailah juga sabun yang lembut, lalu setiap sehabis mandi gunakan pelembab kulit yang aman dan ringan demi kulit terjaga kesehatannya dengan baik.

No posts to display

Recommended