Monday, May 27, 2019
Home Depresi Depresi Postpartum

Depresi Postpartum

Sepintas, baby blues tampak mirip dengan depresi postpartum sebab baby blues yang begitu umum terjadi pada para wanita yang barusan melahiran dan merasakan kecemasan, kesedihan serta kelelahan hampir sama seperti depresi postpartum. Pada umumnya, baby blues dirasakan oleh para ibu pasca persalinan selama 1-2 minggu dan kasus ini bisa dijumpai sekitar 80 persen.

Hal tersebut tergolong normal dan biasanya kondisi kesedihan, kecemasan serta kelelahan tersebut bakal hilang hanya dalam beberapa minggu saja. Walau gejala baby blues dan depresi postpartum kelihatan sama, depresi postpartum tetaplah berbeda dari kondisi baby blues. Perbedaannya terletak dari waktunya; depresi postpartum pada umumnya lebih serius dan juga diderita lebih lama dari baby blues.

Walau bukan kasus yang banyak ditemui pada ibu-ibu setelah melahirkan, tetap saja setiap wanita sehabis melahirkan memiliki potensi untuk mengalami kondisi ini. Gangguan yang disebabkan oleh depresi postpartum sendiri bukan hal yang patut dianggap enteng karena mampu mengganggu proses perawatan bayi. Maka, ketahui dan kenali penyebab, gejala, hingga cara-cara dalam mengobatinya.

Gejala

Ada sejumlah tanda atau gejala dari kondisi depresi postpartum yang perlu untuk diwaspadai oleh setiap wanita setelah melahirkan. Berikut ini merupakan beberapa kondisi yang dapat menjadi tanda bahwa seorang wanita pasca melahirkan telah terkena depresi postpartum.

  • Perubahan kualitas tidur – Ada sesuatu yang berubah dan yang paling dirasakan bisa jadi adalah kualitas dan kemampuan untuk tertidur. Susah tidur dapat menjadi salah satu gejala utama dari kondisi depresi postpartum.
  • Turunnya energi tubuh – Hal seperti ini bisa saja terjadi dan pada umumnya diawali dari sulitnya untuk bangun dari tempat tidur di pagi hari. Karena energi yang menurun, maka akan sulit juga untuk penderita melakukan pekerjaan baik pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan di kantor.
  • Turunnya konsentrasi – Kondisi ini terjadi secara bersamaan dengan penurunan energi tubuh yang tentunya akan berimbas juga pada turunnya konsentrasi sehingga menjadi sering tak fokus pada pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan.
  • Perubahan selera makan – Bila menderita depresi postpartum, ada tanda di mana nafsu makan akan berubah. Perubahan dapat meliputi peningkatan selera makan atau malah justru penurunan.
  • Kecemasan berlebih – Cemas berlebih adalah salah satu tanda bahwa seseorang mengalami depresi dan hal ini juga menjadi ciri dari seseorang dengan depresi postpartum. Cemas berlebih di sini artinya wanita pasca melahirkan akan mengalami kekhawatiran yang terlalu sering dan banyak terutama setiap kali mendengar suara si kecil atau adanya iritasi pada kulit sang bayi. Bahkan kecemasan seperti takut meninggalkan rumah pun bisa menjadi ciri dari depresi postpartum.
  • Gampang marah – Mudah tersinggung dan marah adalah tanda lainnya bahwa seorang wanita pasca melahirkan mengalami depresi postpartum yang juga tergolong sebagai perubahan suasana hati yang cukup cepat.
  • Perasaan rendah diri dan perasaan bersalah – Kerap merasa bahwa dirinya bukanlah seorang orang tua yang baik adalah suatu tanda lainnya dari depresi postpartum yang perlu diperhatikan dan diwaspadai. Perasaan di mana segala apa yang telah kita lakukan untuk si kecil terasa tak cukup bakal kerap muncul, terutama di saat sang buah hati menangis. Hal ini kemudian menimbulkan juga perasaan bersalah sehingga menyalahkan diri sendiri karena tidak cukup mampu memberikan yang lebih baik untuk anak.
  • Hilang ketertarikan pada aktivitas yang pernah dilakukan – Jika mulai kehilangan minat terhadap suatu aktivitas yang menjadi hobi kita dulu, bisa jadi ini adalah suatu tanda dari depresi postpartum, khususnya bila hal ini menyertai gejala-gejala lain yang telah disebutkan.

Beberapa gejala lainnya bisa juga turut terjadi dan berikut adalah tanda-tanda untuk bisa dicegah sebelum menjadi sangat serius dan parah.

  • Sakit dan nyeri pada tubuh tanpa sebab yang jelas.
  • Tidur terlalu lama.
  • Sering menangis.
  • Penurunan libido.
  • Tak mampu merawat diri sendiri serta sang bayi.
  • Kerap merasa ingin melepaskan diri dari segala hal dan setiap orang.
  • Tak dapat mengungkapkan apa yang dirasakan secara terbuka kepada orang lain.
  • Sulit untuk mengingat suatu hal.

Penyebab

Bila ditanya apa penyebab pasti dari depresi postpartum, maka jawabannya adalah sama sekali belum jelas. Hanya saja, diketahui bahwa ada sejumlah faktor yang menjadi pemicu atau peningkat risiko depresi jenis ini. Bahkan kombinasi dari perubahan fisik serta stres emosional diduga menjadi alasan yang memperbesar risiko depresi postpartum pada wanita pasca melahirkan.

  1. Faktor Stres Emosional

Faktor stres emosional yang mampu menyebabkan munculnya kondisi gejala depresi postpartum antara lain adalah:

  • Beban finansial.
  • Masalah pergaulan atau kehidupan sosial.
  • Anak atau Anda sendiri mempunyai gangguan kesehatan yang cukup serius.
  • Perceraian yang baru saja terjadi.
  • Kehilangan orang yang dikasihi.
  • Kurangnya dukungan secara mental.
  1. Faktor Fisik

Selain adanya stres emosional, ada pula faktor fisik di mana perubahan fisik memang adalah salah satu efek dari pasca melahirkan yang memiliki keterlibatan akan hormon. Kadar hormon progesteron dan estrogen sewaktu hamil akan jauh lebih tinggi dari normalnya, dan pasca melahirkan hanya dalam beberapa jam saja kedua hormon tersebut bisa turun kembali menjadi normal.

Berubahnya kadar hormon tersebut secara tiba-tiba mampu memperbesar risiko depresi. Sementara itu, ada beberapa faktor fisik lain yang perlu untuk diketahui sekaligus diwaspadai, yakni:

  • Kurang tidur.
  • Rendahnya kadar hormon tiroid.
  • Penyalahgunaan alkohol.
  • Penyalahgunaan narkoba.
  • Kondisi medis yang menjadi dasar.
  • Diet yang kurang sehat dan seimbang.

Faktor Risiko

Depresi postpartum tak hanya dapat terjadi pada wanita yang baru memiliki anak pertama, karena kondisi ini pun mampu menyerang para ibu yang baru melahirkan anak kedua, ketiga, dan seterusnya. Peningkatan risiko akan terjadi apabila:

  • Sebelumnya memiliki riwayat depresi.
  • Memiliki gangguan bipolar.
  • Kehamilan yang terjadi tidaklah direncanakan atau tidak diharapkan.
  • Memiliki kesulitan ekonomi.
  • Sedang ada masalah dengan suami atau orang terdekat lainnya.
  • Memiliki kesulitan saat menyusui.
  • Sebelum melahirkan, terjadi komplikasi kehamilan.
  • Anggota keluarga ada yang memiliki masalah ketidakstabilan suasana hati atau gangguan kesehatan mental.

Pengobatan

Dalam mengobati depresi postpartum, biasanya penderita akan diberikan obat tertentu atau terapi medis. Meski begitu, ada pula beberapa langkah pengobatan atau perawatan yang alami untuk para penderita depresi postpartum.

Pengobatan Medis

Dokter kemungkinan akan memberikan resep obat dan bahkan penggunaan kombinasi obat juga disarankan bila diperlukan, seperti:

  • Obat khusus untuk menstabilkan mood.
  • Obat antipsikotik.
  • Obat antidepresan.

Tujuan dari pemberian obat-obat tersebut lebih kepada untuk mencegah supaya gejala tidak bertambah serius dan menjaga kestabilan kondisi tubuh penderita.

Pengobatan lainnya yang diketahui mampu menolong penderita depresi postpartum adalah electroconvulsive therapy/ECT. Jenis terapi ini biasanya memanfaatkan arus listrik dalam memicu perubahan kimiawi yang terjadi pada otak. Tak perlu khawatir karena arus listrik pada terapi ini sangat efektif dalam mengobati banyak kasus penderita depresi postpartum.

Untuk mengatasi perasaan yang berubah-ubah, biasanya dokter kemudian bakal memberikan anjuran untuk melakukan konsultasi dengan terapis dalam bidang tersebut. Apabila penderita juga mempunyai gangguan bipolar atau bahkan gangguan mental lain, akan ada rencana perawatan yang perlu untuk diikuti agar lekas ada kemajuan yang baik.

Pengobatan Alami

Untuk merawat pasien depresi postpartum, solusi yang dapat dilakukan adalah berdiet tinggi nutrisi dan mengurangi konsumsi makanan olahan. Apabila depresi postpartum membuat penderitanya kehilangan selera makan hingga mengalami penurunan nutrisi, diet semacam ini adalah yang paling dianjurkan untuk dilakukan.

Selain diet, penggunaan atau konsumsi suplemen juga kiranya diperlukan. Hanya saja, penggunaan suplemen pun harus tetap berada di bawah pengawasan dokter sebab bila si kecil masih menyusui, kandungan suplemen yang masuk ke dalam tubuh sang ibu bisa saja berdampak buruk bagi sang bayi.

Asam lemak omega-3 bukan hanya menyehatkan bagi otak dan juga jantung karena nyatanya kekurangan nutrisi satu ini pun diketahui mampu menaikkan risiko depresi postpartum pada wanita pasca melahirkan. Sebelum mengonsumsi suplemennya, sebaiknya konsultasikan lebih dulu dengan dokter agar tak terjadi kesalahan atau hal-hal lain yang tak diinginkan.

Pencegahan

Walau memang langkah-langkah pencegahan yang dianjurkan berikut tak menjamin total bahwa seorang wanita akan terbebas dari depresi postpartum, tak ada salahnya untuk diperhatikan dan dipertimbangkan.

  • Beritahukan kepada dokter apabila pada kehamilan sebelumnya pernah mengalami depresi postpartum, sedang mengalami gejala dan ciri-ciri depresi, atau pernah mengalami gangguan kesehatan mental tertentu.
  • Memenuhi nutrisi yang dibutuhkan oleh ibu hamil.
  • Melakukan olahraga khusus untuk ibu hamil.
  • Menjaga komunikasi dengan suami dan anggota keluarga lainnya serta tak ragu untuk selalu terbuka dengan mereka tentang masalah yang tengah dipikirkan.
  • Tidak menarik diri atau menghindar dari segala kegiatan yang sebelumnya Anda sangat nikmati.
  • Mengupayakan untuk beristirahat cukup dan mendapatkan banyak tidur.

Itulah beberapa informasi penting tentang depresi postpartum yang hendaknya para wanita perlu untuk ketahui. Bila gejala sudah mulai nampak, jangan ragu untuk segera menemui dokter supaya penanganan bisa dilakukan di awal di mana hal ini akan membantu pemulihan lebih cepat.

No posts to display

Recommended