Saturday, May 25, 2019

Asbestosis

Asbestosis merupakan salah satu jenis penyakit paru-paru yang bisa dialami seseorang saat jaringan parut di paru-paru disebabkan oleh serat asbes. Jaringan parut ini juga disebut dengan skar di mana skar ini menjadi pembatas pernapasan sehingga akhirnya oksigen pun tak bisa secara lancar masuk ke peredaran darah. Fibrosis paru merupakan istilah lain untuk kondisi asbestosis ini.

Penyebab

Pada umumnya, penyakit pernapasan atau paru-paru sering terkait dengan polusi atau alergen dan untuk kondisi asbestosis ini, paparan debu dengan kandungan serat asbes dalam jangka panjanglah penyebab utamanya. Itulah mengapa asbestosis merupakan kondisi kesehatan yang lebih banyak dialami oleh orang-orang yang bekerja pada bidang industri, terlebih di tahun 1970-1990an.

Debu yang mengandung serat asbes akan terjebak di dalam kantong udara paru-paru atau alveoli sehingga jaringan parut pun terbentuk dan menjadikan paru-paru kaku. Sulit untuk mengembang dan mengempis seperti biasanya, paru-paru ini dalam kondisi kaku yang berakibat pada sesak nafas. Bila memiliki kebiasaan merokok, maka kondisi akan menjadi lebih buruk.

Perkembangan penyakit asbestosis akan menjadi jauh lebih cepat apabila penderita terus-menerus merokok. Selain dari debu dengan serat asbes tersebut, ada pula beberapa faktor risiko yang juga perlu untuk kita ketahui bersama, yakni antara lain:

  • Berprofesi sebagai pekerja yang bertugas menghilangkan isolasi asbes pada area pipa uap yang ada pada bangunan-bangunan tua.
  • Bekerja sebagai penambang asbes
  • Tukang listrik
  • Berprofesi sebagai mekanis mobil dan pesawat
  • Berprofesi sebagai pekerja di kereta api
  • Berprofesi sebagai pekerja galangan kapal
  • Berprofesi sebagai pekerja konstruksi

Sebetulnya, berada di sekitar bahan-bahan dari asbes tidaklah masalah namun tentunya harus dipastikan lebih dulu bahwa serat asbes tidaklah tersebar sampai ke udara sehingga tak terhirup oleh kita.

Gejala dan Metode Diagnosa

Gejala yang disebabkan oleh paparan serat asbes yang terhirup tidaklah langsung dialami karena kemunculan gejala bisa saja justru bertahun-tahun sesudah paparan asbes dalam jangka waktu lama. Meski gejala bisa timbul bertahun-tahun kemudian, kita tetap wajib untuk mengetahui dan mewaspadainya.

  • Sesak nafas alias nafas pendek-pendek.
  • Nyeri di bagian dada sekaligus bahu.
  • Penurunan berat badan.
  • Batuk kering dan kondisinya persisten.
  • Nafsu makan menurun atau hilang.
  • Bentuk kuku tak wajar di mana hal ini biasanya disebut dengan istilah deformitas kuku.
  • Ujung jari tampak menggembung.
  • Mengi
  • Tubuh cepat lelah dan mengalami kelelahan ekstrem.

Tentu saja banyak kondisi pernapasan yang ditandai dengan sesak nafas sehingga di awal kita akan sulit mengetahui apa penyebab sebenarnya; bahkan kemungkinan akan penyakit jantung juga cukup besar. Namun setelah beberapa kondisi seperti napas yang makin pendek-pendek ditambah dengan dada sakit, segeralah periksakan diri ke dokter dan bicarakan pula akan ada tidaknya kemungkinan penyakit asbestosis.

Bila sudah ke dokter, maka biasanya dokter akan menyarankan supaya Anda mengikuti metode pemeriksaan atau diagnosa tertentu sesuai kebutuhan. Berikut ini adalah langkah-langkah diagnosa yang kiranya diperlukan bagi pasien penderita gejala asbestosis:

  • CT Scan – Ini adalah serangkaian pemeriksaan menggunakan X-ray yang dikombinasi dan pengambilannya dilakukan dari beberapa sudut kiranya diperlukan oleh pasien agar potongan gambar yang dihasilkan akan tulang sekaligus jaringan lunak di dalam tubuh bisa sempurna dan membantu dokter dalam menentukan hasil diagnosa. CT scan merupakan cara pemeriksaan yang mendetik dan mampu mendeteksi asbestosis sedari awal sehingga memang akan sangat membantu supaya pengobatan tidak terlambat.
  • Rontgen Dada – Pada kasus asbestosis yang masih tergolong ringan, maka akan tampak dari pemeriksaan akan adanya warna putih berlebihan di bagian jaringan paru-paru. Namun ketika jaringan pada kedua paru-paru sudah terkena dampaknya, tampilannya akan seperti sarang lebab dan inilah tanda di mana asbestosis sudah berada pada level serius.
  • Spirometer – Tes pemeriksaan lainnya adalah menggunakan spirometer di mana tes ini diperlukan apabila pasien juga ingin mengetahui seberapa baik kondisi paru-paru dan bila dokter juga menyarankan demikian agar bisa melihat maksimal tidaknya fungsi organ tersebut. Dengan spirometer, dapat terukur akan tingkat udara yang menahan paru-paru serta aliran udara yang keluar masuk paru-paru. Dalam tes ini jugalah, biasanya pasien diminta meniup sekeras mungkin ke spirometer.

Pengobatan dan Pencegahan

Diketahui bahwa tidak ada cara untuk mengobati absestosis atau mengembalikan agar alveoli bisa kembali seperti kondisi semula. Kalaupun dokter memberikan solusi pengobatan tujuan utamanya hanya untuk membuat perkembangan gejala penyakit lebih lambat saja atau sekadar menghilangkan gejala.

Namun selain penanganan untuk menghambat perkembangan gejala penyakit, ada beberapa perawatan lanjutan yang disesuaikan dengan tingkat keseriusan dari kondisi pasien. Berikut ini adalah langkah perawatan yang kemungkinan bisa didapatkan oleh pasien dengan gejala asbestosis.

  • Terapi

Terapi kiranya dibutuhkan oleh pasien yang mengalami kesulitan dalam bernapas dikarenakan asbestosis sudah berada pada stadium lanjut. Pada terapi ini, pasien biasanya akan diberi oksigen tambahan oleh dokter di mana oksigen akan dikirim lelalui pipa plastik tipis yang bisa masuk ke dalam lubang hidung pasien. Namun ada pula jenis oksigen yang diberikan melalui masker, tergantung dari kebutuhan penderita.

Terapi pemberian oksigen lebih didasarkan pada keadaan pasien yang memang kadar oksigen sudah terlalu rendah di dalam darah. Ada pula jenis terapi lainnya seperti misalnya rehabilitasi paru yang akan meliputi latihan, diskusi hingga pemberian nasihat medis kepada pasien untuk diterapkan supaya gejala-gejala yang dirasakan dapat berkurang.

  • Operasi

Langkah operasi bisa juga disarankan oleh dokter, terutama bila kondisi pasien sudah tergolong cukup parah. Operasi yang dimaksud di sini adalah operasi transplantasi paru-paru. Operasi ini dianjurkan oleh dokter biasanya ketika gejala asbestosis sudah sangat parah dan pengobatan dengan terapi tak lagi bisa diandalkan.

Selain dari terapi dan operasi, perawatan mandiri juga bisa dilakukan di rumah, yakni dengan perubahan gaya hidup yang lebih baik dan sehat, contohnya:

  • Berhenti dari kebiasaan merokok. Salah satu peningkat risiko kanker paru-paru adalah penyakit asbestosis di mana dengan merokok, asbestosis makin serius dan risiko kanker paru-paru juga makin besar. Maka dengan berhenti merokok, pasien bisa terhindar dari bahaya merokok bagi kesehatan sekaligus juga menurunkan risiko kanker tersebut.
  • Menghindari asap rokok. Bukan hanya diminta untuk berhenti merokok, penting juga untuk para penderita asbestosis untuk menjauhi asap rokok. Menjadi perokok pasif pun mampu memberikan efek buruk bagi organ paru-paru dan bahkan memperbesar potensi terkena emfisema.
  • Mendapat vaksinasi. Vaksin pneumonia dan flu bisa didiskusikan lebih dulu dengan dokter karena vaksin tersebut mampu membantu menurunkan risiko infeksi paru-paru. Bila ada kemungkinan mengidap infeksi pernapasan, maka sebaiknya kondisi ini dibereskan terlebih dulu dengan bantuan dokter.

Setelah kita lihat berbagai cara menangani gejala asbestosis, maka kita perlu juga untuk mengintip bagaimana cara untuk mencegah kondisi penyakit satu ini. Tentu saja satu-satunya cara untuk mencegah adalah dengan mengurangi paparan asbes. Hal ini berlaku di Amerika Serikat bahwa pekerja industri yang berkaitan dengan produk asbes, terutama pekerja konstruksi bangunan, perlu untuk mengambil tindakan pengamanan yang khusus bagi diri mereka sendiri. Ini adalah bentuk perlindungan dan pencegahan akan penyakit asbestosis di sana.

Ketika bahan asbes baru yang digunakan, pada dasarnya hal ini tak merugikan dan berbahaya bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Yang cukup mengancam adalah saat bahan dengan kandungan serat asbes tersebut mengalami kerusakan sehingga serat asbes bisa terlepas dan tersebar ke udara yang mengenai orang-orang di sekitarnya.

Apa saja kemungkinan komplikasi asbestosis?

Bila gejala tak segera ditangani, maka ada beberapa risiko komplikasi yang menyerang pasien, yakni seperti kanker paru-paru, atau justru mesothelioma (bentuk kanker paru-paru dalam level yang lebih parah). Komplikasi seperti ini dapat terjadi ketika penderita gejala tak segera menghentikan kebiasaannya dalam merokok.

Selain itu, penebalanpleura juga termasuk risiko yang tinggi terjadi sebagai komplikasi asbestosis. Pleura sendiri merupakan lapisan pembungkus paru-paru di mana dapat menebal seiring cairan di sekitar paru-paru yang terus menumpuk. Jika gejala penyakit asbestosis telah dialami, namun tak ada komplikasi, maka sang penderita mampu bertahan hidup hingga berpuluh-puluh tahun.

Bila Anda berprofesi sebagai pekerja bangunan atau apapun yang berhubungan atau berdekatan dengan bahan-bahan asbes dan mulai mengalami gejala-gejala tak mengenakkan seperti yang sudah disebutkan, segera ke dokter. Bahaya asbes bagi kesehatan manusia benar-benar serius, maka mencegah dan menghindarinya adalah tugas kita.

No posts to display

Recommended