Thursday, September 19, 2019

Akathisia

Akathisia merupakan sebuah kondisi efek samping dari konsumsi obat antipsikotik berupa gerakan dan perasaan penuh kegelisahan. Karena terus merasa gelisah, maka otomatis orang tersebut terdorong untuk terus bergerak yang artinya penderita akathisia akan sulit untuk tetap diam. Bahkan gerakan tersebut tak bisa dikendalikan dengan mudah oleh diri sendiri sehingga akan tampak gelisah sepanjang waktu.

Antipsikotik sendiri adalah contoh jenis obat yang biasanya digunakan untuk membantu mengobati gangguan bipolar, skizofrenia maupun kondisi mental dan kesehatan otak lainnya. Agar gejala-gejala akathisia bisa hilang, dokter kemungkinan perlu mengubah dosis, meminta pasien untuk menghentikan konsumsi, atau mengganti dengan obat lainnya yang lebih aman.

Penyebab

Seperti sudah disebutkan sebelumnya secara singkat bahwa akathisia dapat terjadi karena menggunakan obat psikotik. Namun, dokter sebenarnya juga rata-rata kurang begitu memahami apa yang menyebabkan secara pasti dari kondisi efek samping tersebut. Ada dugaan bahwa gejala tubuh yang bergerak terus tadi diakibatkan oleh obat antipsikotik yang menjadi pemblokir reseptor di otak untuk dopamin.

Dopamin sendiri merupakan sebuah zat kimia yang bertugas utama sebagai pengendali gerakan tubuh pada setiap manusia. Berikut ini merupakan daftar akan obat-obat antipsikotik yang berisiko tinggi menjadi alasan dibalik terjadinya akathisia pada penggunanya:

  • Haloperidol
  • Fluphenazine
  • Flupenthixol
  • Klorpromazin
  • Trifluoperazine
  • Thiothixene
  • Thioridazine
  • Pimozide
  • Perphenazine
  • Molindone
  • Loxapine
  • Prochlorperazine

Selain dari daftar obat antipsikotik yang sudah disebutkan, penggunaan akan obat-obat lain di bawah ini juga diketahui berisiko meningkatkan potensi terjadinya efek berupa gerakan gelisah pada tubuh penggunanya:

  • Obat vertigo.
  • Obat anti mual.
  • Obat penenang yang digunakan sebelum menjalani operasi.
  • SSRI atau selective serotonin reuptake inhibitors.

Dosis tinggi dari obat-obatan yang sudah disebutkan tersebut, peningkatan dosis serta faktor usia dari pasien akan mampu menjadi faktor risiko lainnya yang perlu untuk diwaspadai. Biasanya orang dewasa yang sudah separuh baya dan mengonsumsi obat antipsikotik cenderung lebih mudah mengalami akathisia. Tak hanya itu, beberapa kondisi medis juga dapat meningkatkan risiko gerakan dan perasaan gelisah tak terkendali, yakni cedera otak traumatis, ensefalitis, atau mengidap penyakit Parkinson.

Tipe dan Gejala

Kondisi kegelisahan yang ditunjukkan melalui gerakan-gerakan yang sulit dikontrol masih dibagi lagi menjadi beberapa tipe. Tipe dari akathisia rupanya tergantung dari kapan awal terjadinya, seperti berikut ini:

  • Akathisia akut – Ini adalah tahap awal yang perkembangannya dapat terjadi secara cepat. Tahap ini mampu berkembang segera setelah menggunakan obat antipsikotik generasi pertama biasanya. Kondisi pada tahap ini bisa dialami tak lebih dari 6 bulan.
  • Akathisia withdrawal – Kondisi terjadi biasanya selisih 6 minggu pasca berhenti dari penggunaan obat antipsikotik atau pergantian dari obat antipsikotik ke obat lainnya.
  • Akathisia tardive – Kondisi gejala akan berkembang justru setelah berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah obat antipsikotik atau obat lain yang dapat menjadi penyebab akathisia digunakan.
  • Akathisia kronis – Kondisi gejala dapat berlangsung 6 bulan lebih.

Sebagai gejala paling nampak dan terbilang paling utama, rasa gelisah adalah tanda yang langsung dapat menunjukkannya. Tubuh penderita seakan ingin terus bergerak secara intens dan bila mencoba menghentikan gerakan tersebut, perasaan gelisah pun datang. Jadi demi meringankan perasaan semacam ini, solusi utama pasti adalah tetap bergerak.

Contoh beberapa gejala yang menunjukkan rasa gelisah namun sulit untuk dikendalikan antara lain adalah:

  • Tak bisa diam ketika sedang duduk.
  • Menggerutu
  • Menyilangkan kaki, namun kemudian membukanya kembali, tapi nanti menyilangkannya lagi, begitu seterusnya.
  • Menumpukan berat satu kaki ke kaki lainnya secara bergantian.
  • Mondar-mandir
  • Berjalan di tempat.
  • Berdiri dan berjongkok bergantian tampak gelisah.
  • Tidak sabaran.
  • Stres
  • Mudah tersinggung.
  • Sering merasa panik.

Diagnosa

Setelah gejala-gejala yang merujuk pada kondisi akathisia muncul, penting untuk mendeteksinya segera dengan melalui beberapa metode diagnosa atau pemeriksaan. Dalam pemeriksaan, dokter menanyakan tentang gejala yang dirasakan oleh pasien sekaligus juga memeriksa secara fisik apakah pasien mengalami:

  • Kegelisahan
  • Terus bergerak saat duduk.
  • Menggoyang-goyangkan kaki.
  • Menyilangkan dan membuka kaki terus-menerus.
  • Sering berganti posisi duduk.
  • Mengetuk-ngetukkan kaki.

Ada kemungkinan pasien perlu mengikuti sejumlah metode pemeriksaan lanjutan supaya dokter lebih terbantu dalam membuat hasil diagnosa secara pasti. Gejala-gejala yang disebutkan sebelumnya mampu menandakan adanya penyakit lain, jadi dokter juga perlu secara jelas membedakan dari beberapa kondisi medis lain tersebut, seperti:

  • ADHD
  • Penarikan dari penggunaan narkoba.
  • Insomnia
  • Kecemasan
  • Tardive dyskinesia
  • Sindrom kaki gelisah.
  • Agitasi yang menjadi efek dari gangguan mood.

Pengobatan

Sesudah benar-benar diketahui bahwa gejala yang dialami penderita merupakan kasus akathisia, maka dokter pun baru akan dapat menentukan pengobatan dan perawatan seperti apa yang paling sesuai. Berikut di bawah ini adalah sejumlah obat-obatan yang kiranya dokter perlu berikan tergantung dari tingkat keparahan dan gejala macam apa yang dialami pasien.

  • Obat antivirus.
  • Obat antikolinergik.
  • Benzodiazepin yang masih termasuk dalam jenis obat penenang.
  • Obat tekanan darah.
  • Vitamin B6.
  • Obat untuk penyakit Parkinson (bila akathisia terjadi karena penyakit Parkinson).
  • Obat antidepresan.

Meski obat-obatan tersebut tersedia dan diberikan kepada pasien akathisia, sayangnya tetap ada kasus akathisia yang kurang begitu efektif diobati dengan obat. Justru lebih mudah untuk mencegah akathisia ini daripada memberikan pengobatan setelah telanjur terjadi.

Oleh karena itu, sangatlah dianjurkan bagi Anda yang kiranya perlu menggunakan obat antipsikotik, konsultasikan sedetil mungkin dengan dokter akan efek sampingnya. Bila memang khawatir akan kondisi akathisia, mintalah dokter untuk memberikan dosis yang paling rendah, lalu meningkatkannya pelan-pelan.

Adakah kemungkinan bahaya komplikasi untuk akathisia?

Tentu saja seperti kebanyakan kasus kondisi medis, akathisia pun mampu menimbulkan beberapa kondisi lebih lanjut. Asalkan kondisi gejala akathisia segera diperiksakan ke dokter, maka tak ada kata terlambat untuk sembuh seperti sedia kala. Sebaliknya, ketika dibiarkan tanpa adanya penanganan khusus dan bantuan medis, gejala akathisia mampu memperparah perilaku psikotik pengguna obat antipsikotik.

Akathisia juga merupakan suatu kondisi yang patut diwaspadai sebab dapat menjadi faktor peningkat potensi terjadinya tardive dyskinesia. Sebelum bahaya komplikasi mengancam, periksakan secara tuntas dan dapatkan pengobatan yang tepat supaya gejala benar-benar hilang.

Karena akathisia ini pada dasarnya terjadi karena mengonsumsi obat jenis antipsikotik, ketika pengguna menghentikan konsumsi, otomatis gejala gerakan gelisah pun akan hilang dengan sendirinya. Hanya saja, tidak mudah untuk menghentikan penggunaan obat tersebut apabila memang kondisi tubuh membutuhkan antipsikotik. Jadi, kebanyakan pengguna demi menghindari akathisia akan mencoba dengan dosis paling rendah.

No posts to display

Recommended