Cetuximab – Obat Apa – Fungsi – Dosis – Efek Samping

231

Obat Apa?

Obat Cetuximab merupakan jenis obat penghambat reseptor faktor pertumbuhan epidermis (bahasa Inggris: epidermal growth factor receptor inhibitor) yang digunakan dalam pengobatan beberapa jenis kanker seperti kanker kolorektal dan kanker kepala dan leher. Penghambat reseptor faktor pertumbuhan epidermis sendiri adalah senyawa atau agen yang berperan menghambat protein yang berperan sebagai reseptor (penerima sinyal) faktor pertumbuhan epidermis (faktor yang menstimulasi pertumbuhan dan diferensiasi sel dengan cara terikat pada reseptor sel tersebut). Obat Cetuximab ini termasuk ke dalam kelompok obat-obatan antibodi monoklonal. Jenis obat-obatan antibodi monoklonal merupakan jenis obat-obatan antibodi yang dibuat dari sel imun identik yang mana merupakan penggandaan dari sel induk.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, obat Cetuximab merupakan jenis obat penghambat reseptor faktor pertumbuhan epidermis, atau bisa dikatakan obat ini khusus untuk menyasar bagian sel tersebut (reseptor faktor pertumbuhan epidermis merupakan salah satu bagian sel) sehingga penggunaan obat Cetuximab juga dikenal sebagai terapi target. Dengan menjalankan fungsinya sebagai penghambat reseptor faktor pertumbuhan epidermis, maka obat Cetuximab dapat menekan laju pertumbuhan dan perkembangan sel kanker, seperti yang telah disebutkan di atas bahwa faktor pertumbuhan epidermis adalah faktor yang merangsang pertumbuhan sel dan juga diferensiasi sel. Pada bagian berikutnya dijelaskan mengenai fungsi, dosis dan efek samping dari obat Cetuximab ini.

Fungsi

Obat Cetuximab digunakan untuk pengobatan penyakit kanker, berikut adalah beberapa fungsi dari obat Cetuximab.

  • Pengobatan kanker kepala dan leher

Kanker kepala dan leher merupakan sekumpulan kanker yang menyerang daerah di sekitar kepala dan leher yaitu kelenjar saliva (air liur), sinus, laring, tenggorokan, hidung dan mulut. Beberapa gejala terkait penyakit kanker kepala dan leher ini antara lain adalah adanya benjolan terasa sakit yang tidak kunjung sembuh, sakit tenggorokan yang tidak hilang-hilang, perubahan pada suara dan kesulitan menelan. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadi penyakit kanker kepala dan leher ini, adapun penyebab dominan dari kanker ini adalah konsumsi alkohol (baca juga: Efek Bahaya Alkohol Bagi Kesehatan) dan kebiasaan merokok (baca juga: Bahaya Merokok Bagi Kesehatan Tubuh), yang diduga merupakan penyebab dari 75% kasus kanker kepala dan leher.

Selain faktor konsumsi alkohol dan kebiasaan merokok, ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi terjadinya kanker kepala dan leher seperti pola makan daging olahan dan daging merah yang berlebihan, mengunyah buah pinang, infeksi beberapa jenis virus dan beberapa faktor lainnya. Obat Cetuximab dapat digunakan untuk pengobatan kanker kepala dan leher, dimana obat tersebut dapat menghambat pertumbuhan sel kanker dengan cara menghambat reseptor faktor pertumbuhan epidermis yang dimiliki oleh sel kanker.

  • Pengobatan kanker kolekteral

Kanker kolekteral juga dikenal sebagai kanker usus besar atau kanker usus yang merupakan jenis kanker yang berkembang di bagian usus besar atau dubur yang termasuk ke dalam bagian usus besar. Gejala –  gejala dari kanker kolekteral ini tergantung pada area perkembangan sel kanker pada usus dan terjadinya penyebaran kanker pada bagian tubuh lainnya. Beberapa gejala yang umum terkait dengan kanker kolekteral antara lain adalah kehilangan berat badan, muntah, mual, kehilangan nafsu makan, feses berdarah dan konstipasi atau sembelit yang memburuk.

Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan penyakit kanker kolekteral ini antara lain adalah kurangnya berolahraga, kebiasaan merokok, obesitas, konsumsi daging olahan secara berlebihan, konsumsi daging merah secara berlebihan, konsumsi alkohol secara berlebihan, asupan lemak berlebih, berjenis kelamin laki-laki dan usia lanjut. Selain beberapa faktor risiko yang telah disebutkan tadi, penyebab lain yang dapat mengakibatkan munculnya kanker kolekteral antara lain adalah faktor keturunan dan adanya penyakit peradangan usus seperti kolitis ulseratif dan Crohn’s disease atau penyakit Crohn. Kanker kolekteral dapat diobati dengan menggunakan obat Cetuximab, obat ini mampu menghambat pertumbuhan dan perkembangan sel kanker, sehingga penyebaran sel kanker dapat diatasi dan jumlah sel kanker dapat dikurangi.

Dosis

Pada bagian ini dijelaskan mengenai dosis pemakaian obat Cetuximab. Penggunaan obat ini tentunya harus berdasarkan konsultasi dengan dokter atau tenaga medis profesional terkait. Konsultasi dengan dokter dan tenaga medis profesional terkait perlu dilakukan agar Anda dapat memperoleh dosis yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan dan penyakit yang diderita. Dosis yang disajikan disini merupakan dosis standar pemakaian obat Cetuximab berdasarkan jenis penyakit yang akan diobati. Dosis yang dipaparkan disini disadur dari sumber www.medscape.com.

  • Dewasa:
  1. Untuk penderita kanker kolekteral, dosis obat Cetuximab yang diberikan untuk terapi tunggal menggunakan obat ini ataupun kombinasi dengan terapi lain ataupun obat-obatan lain. Dosis awal yang diberikan sebanyak 400 mg/m2 luas permukaan tubuh secara infus intravena selama 2 jam.
  2. Dosis lanjutan untuk penderita kanker kolekteral diberikan sebanyak 250 mg/m2 luas permukaan tubuh selama 60 menit sekali seminggu, laju infus tidak boleh melebihi 10 mg/min, pemberian dosis lanjutan ini hingga perkembangan penyakit atau keracunan yang tidak dapat ditolerir atau diterima.
  3. Untuk penderita kanker kepala dan leher, dosis awal yang diberikan sebanyak 400 mg/m2 luas permukaan tubuh secara infus intravena selama 2 jam.
  4. Dosis lanjutan untuk penderita kanker kepala dan leher diberikan sebanyak 250 mg/m2 luas permukaan tubuh sekali seminggu, secara infus intravena selama 60 menit, laju infus tidak boleh melebihi 10 mg/menit sampai perkembangan penyakit atau keracunan yang tidak dapat ditolerir atau diterima. 

Beberapa informasi tambahan mengenai penggunaan obat Cetuximab dalam pengobatan kanker kolekteral dan kanker kepala dan leher antara lain sebagai berikut:

  1. Untuk penderita kanker kolekteral, pemberian dosis lengkap obat Cetuximab diberikan satu jam sebelum terapi FOLFIRI (FOLFIRI merupakan kemoterapi dengan kombinasi obat-obatan Leucovorin Calcium (FOL), Fluorouracil (F) dan Irinotecan Hydrochloride (IRI)).
  2. Untuk pengobatan kanker kolekteral, laju infus tidak boleh melebihi 10 mg/menit.
  3. Untuk pengobatan kanker kepala dan leher, penggunaan obat Cetuximab awal dengan kombinasi radioterapi dilakukan satu minggu sebelum radioterapi. Penggunaan obat Cetuximab dilanjutkan sekali seminggu selama 6 hingga 7 minggu.
  4. Untuk pengobatan kanker kepala dan leher dengan kombinasi terapi obat-obatan berbasis platinum dan 5-FU (Fluorouracil), dosis obat Cetuximab diberikan melalui infus satu jam sebelum pemberian obat-obatan berbasis platinum dengan Fluorouracil.
  5. Untuk pengobatan kanker kolekteral, penggunaan obat Cetuximab diindikasikan untuk pengobatan mutasi negatif KRAS (gen yang berperan dalam sinyal sel dan pengontrol proliferasi/perkembangan sel), penekan reseptor faktor pertumbuhan epidermis dan kanker kolekteral metastasis (metastasis adalah kondisi dimana kanker menyerang anggota tubuh lain).
  6. Untuk pengobatan kanker kolekteral, obat Cetuximab digunakan sebagai kombinasi dengan obat irinotecan untuk penderita yang sulit disembuhkan dengan obat-obatan berbasis irinotecan.
  7. Untuk pengobatan kanker kolekteral, obat Cetuximab dapat digunakan sebagai agen atau obat tunggal untuk penderita yang gagal diobati dengan obat-obatan berbasis irinotecan dan oxaliplatin atau bisa juga digunakan untuk penderita yang tidak toleran terhadap obat-obatan berbasis irinotecan.
  8. Untuk pengobatan kanker kepala dan leher, obat Cetuximab diindikasikan dengan kombinasi radioterapi untuk pengobatan awal terhadap karsinoma sel skuamosa (sejenis kanker kulit yang terjadi pada lapisan luar kulit) yang terjadi pada area tertentu atau mengalami perkembangan area yang terjangkit sel kanker tersebut.
  9. Untuk pengobatan kanker kepala dan leher, obat Cetuximab juga diindikasikan untuk kombinasi dengan kemoterapi (baca: Perbedaan Kemoterapi dan Radioterapi) menggunakan obat-obatan berbasis platinum dengan Fluorouracil untuk pengobatan pertama pada penderita dengan karsinoma sel skuamosa metastasis atau penyakit locoregional (terbatas pada suatu area tertentu pada tubuh) yang berulang.
  10. Untuk penderita kanker kepala dan leher, obat Cetuximab dapat digunakan sebagai terapi pengobatan tunggal pada penderita dengan karsinoma sel skuamosa yang berulang ataupun metastasis, yang mana penderita tersebut sebelumnya menggunakan kemoterapi dengan obat-obatan berbasis platinum namun gagal.

Efek Samping

Obat Cetuximab memiliki beberapa efek samping yang mungkin dapat ditimbulkan, seperti layaknya berbagai jenis pengobatan modern lainnya. Beberapa efek samping yang mungkin timbul akibat pemakaian obat Cetuximab ini antara lain adalah:

  1. Kulit kering atau kulit pecah-pecah.
  2. Gatal-gatal
  3. Ruam
  4. Perubahan pada kuku
  5. Diare
  6. Sakit kepala
  7. Mual
  8. Muntah
  9. Lemas
  10. Infeksi pada pernapasan, kulit dan mulut
  11. Sakit perut
  12. Kehilangan berat badan

Demikianlah informasi yang disajikan mengenai obat Cetuximab tersebut, beserta dengan fungsi, dosis dan efek sampingnya. Semoga penjelasan mengenai obat Cetuximab ini bermanfaat dan menambah pengetahuan Anda.