Chloramphecort H – Fungsi – Obat Apa – Dosis dan Efek Samping

√ Verified Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Cloramphecort H termasuk ke dalam golongan obat keras yang hanya bisa didapatkan dengan menggunakan resep dokter.

Komposisi

Chloramphecort H merupakan obat berbentuk krim yang mengandung 20 mg kloramfenikol dan 2,5 mg prednisolon.

Indikasi

Chloramphecort H diindikasikan untuk mengobati masalah-masalah pada kulit yang disertai dengan infeksi kulit karena bakteri, seperti dermatitis dan eksim atopik. Gejala dermatitis antara lain ruam-ruam dan gatal pada kulit, seringkali disertai dengan penebalan kulit

Mekanisme Kerja Obat

  • Chloramphecort mengandung 2 senyawa aktif, yaitu kloramfenikol dan prednisolon yang masing-masing memiliki mekanisme kerja yang berbeda.
  • Kloramfenikol merupakan salah satu obat yang termasuk golongan antibiotik, obat ini akan bekerja membunuh bakteri yang menginfeksi kulit dengan cara berikatan dengan ribosom bakteri.
  • Ribosom merupakan salah satu organel yang ada di dalam sel, berfungsi sebagai tempat pembuatan protein. Saat kloramfenikol berikatan dengan ribosom bakteri, maka bakteri tidak bisa memproduksi protein yang sangat penting bagi kelangsungan hidupnya.
  • Dengan demikian, bakteri akan menjadi lemah, lebih mudah dikalahkan oleh sistem imun dan lama kelamaan akan mati.
  • Sedangkan prednisolon merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan kortikosteroid.
  • Obat golongan ini bekerja dengan cara menurunkan respon imun tubuh. Saat ada bakteri yang menginfeksi kulit, tubuh akan mengeluarkan respon imun yang umumnya berupa peradangan / inflamasi yang ditandai dengan warna kemerahan dan pembengkakan padda kulit, terkadang disertai dengan rasa gatal.
  • Respon imun berupa inflamasi dilakukan oleh tubuh untuk membantu mempercepat penyembuhan infeksi karena saat terjadi inflamasi, pembuluh darah di bagian tersebut akan melebar dan memungkinkan sel-sel darah untuk berkumpul di sana, termasuk sel darah putih / leukosit.
  • Leukosit adalah sel darah yang berperan penting dalam membasmi bakteri yang menginfeksi tubuh kita, oleh karena itu dengan berkumpulnya banyak leukosit di area infeksi, diharapkan infeksi dapat segera diatasi.
  • Sedangkan rasa gatal timbul akibat adanya histamin, yaitu senyawa yang dihasilkan oleh tubuh sebagai salah satu respon imun dan dapat menimbulkan rasa gatal saat senyawa tersebut berikatan dengan reseptornya.
  • Prednisolon akan mengurangi respon imun yang dihasilkan oleh tubuh dengan cara mencegah berkumpulnya leukosit di area yang terinfeksi dan mencegah terjadinya ikatan anatar histamin dnegan reseptornya sehingga peradangan dan rasa gatal dapat dikurangi.

Dosis dan Cara Penggunaan

  • Cuci bagian kulit yang bermasalah, kemudian oleskan Chloramphecort H pada bagian tersebut sehari 2 kali
  • Jangan lupa untuk mencuci tangan setelah Anda mengoleskan Chloramphecort H
  • Hindari kontak krim Chloramphecort H dengan mata

Kontraindikasi

Pasien dengan kondisi-kondisi berikut tidak diperbolehkan untuk menggunakan Chloramphecort H:

  • Hipersensitif (alergi) terhadap kloramfenikol dan / atau prednisolon

Kategori Keamanan bagi Ibu Hamil dan Menyusui

  1. Kloramfenikol yang digunakan secara oral oleh ibu hamil dapat mengakibatkan terjadinya Grey Syndrome pada bayi yang baru dilahirkan, ditandai dengan warna kulit bayi yang keabu-abuan sehingga penggunaan kloramfenikol secara topikal pun sebaiknya dihindari oleh ibu hamil
  2. Belum ada data yang menunjukkan keamanan penggunaan prednisolon secara topikal pada ibu hamil, namun penggunaan obat golongan kortikosteroid secara oral pada ibu hamil dapat menimbulkan efek samping negatif pada janin sehingga penggunaan prednisolon secara topikal pun sebaiknya dihindari pada ibu hamil
  3. Belum diketahui apakah kloramfenikol yang hanya digunakan secara topikal di kulit dapat diekskresikan / dikeluarkan melalui ASI, namun penggunaan kloramfenikol secara oral dapat menimbulkan ekskresi kloramfenikol melalui ASI
  4. Belum diketahui apakah prednisolon yang digunakan secara topikal dapat diekskresikan / dikeluarkan melalui ASI

Efek Samping

Berikut adalah efek samping yang mungkin timbul setelah penggunaan Chloramphecort:

  1. Kulit kering
  2. Perubahan warna kulit
  3. Rasa terbakar

Tidak semua pasien yang menggunakan Chloramphecort H akan mengalami efek samping di atas. Namun, jika Anda merasakan efek samping apapun, baik yang telah disebutkan di atas maupun efek samping lainnya setelah menggunakan Chloramphecort H, segeralah konsultasikan hal tersebut kepada dokter atau apoteker agar efek samping tersebut bisa segera ditindaklanjuti.

Interaksi Obat

Chloramphecort H adalah obat yang digunakan secara topikal di permukaan kulit sehingga kecil kemungkinannya untuk menimbulkan interaksi dengan obat lain. Namun, konsultasikanlah mengenai obat lain yang sedang atau akan Anda gunakan kepada apoteker, terutama obat yang digunakan pada bagian kulit untuk memastikan bahwa penggunaan obat tersebut bersamaan dengan Chloramphecort H tidak akan menimbulkan efek samping negatif bagi Anda.

Perhatian

  1. Jangan menggunakan Chloramphecort dalam jangka waktu lama secara terus menerus, segeralah melakukan konsultasi kembali dengan dokter jika gejala yang Anda rasakan tidak kunjung membaik setelah menggunakan Chloramphecort H
  2. Selalu perhatikan kondisi Chloramphecort H atau obat apapun yang akan Anda gunakan, jika Anda melihat adanya perubahan tekstur krim, misalnya menjadi lebih encer atau terlihat ada air yang terpisah dari krim, jangan gunakan obat tersebut dan tanyakanlah kepada apoteker mengenai apa yang harus dilakukan
  3. Selain dengan menggunakan obat, hindarilah hal-hal yang bisa menjadi penyebab dermatitis dan penyebab eksim, serta lakukanlah cara-cara mencegah dermatitis untuk mencegah terjadinya kekambuhan masalah kulit ini
  4. Simpanlah Chloramphecort H pada suhu kamar di tempat yang kering dan terlindung dari sinar matahari langsung, jauhkan dari jangkauan anak-anak
fbWhatsappTwitterLinkedIn