Kesehatan Paru Paru

Pleuritis – Penyebab, Gejala, Komplikasi, Diagnosa dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Ketika pleura mengalami peradangan, maka inilah yang disebut dengan pleuritis. Pleura sendiri merupakan salah satu organ di dalam tubuh manusia di mana ini terdiri dari dua selaput yang menempel masing-masing di paru-paru serta tulang rusuk di mana fungsi utamanya adalah sebagai pemisah dua jaringan tersebut. Dalam pernapasan kita, ada cairan di antara kedua selaput pleura yang membantu supaya gesekan berkurang.

Cairan tersebut akan menjadi lengket ketika peradangan menyerang dan akhirnya permukaan selaput pleura juga ikut kasar sehingga rasa sakit menjadi timbul saat lapisan pleura bergesekan satu dengan lainnya, contohnya sewaktu kita batuk atau bernapas. Pleuritis sendiri adalah jenis penyakit yang umum, namun bila Anda belum begitu tahu, kenali penyebab, gejala hingga cara mengobatinya.

Baca juga:

Penyebab Pleuritis

Bicara tentang pleuritis, penyebab utama dari pleuritis adalah infeksi virus dari sebuah penyakit yang penderita sudah miliki sebelumnya lalu terjadi penyebaran hingga ke selaput pemisah paru-paru alias pleura hingga bahkan ke tulang rusuk. Virus dan bakteri yang mampu menyebabkan pleuritis antara lain:

  • Virus influenza penyebab sakit flu.
  • Virus Epstein-Barr yang menyebabkan demam kelenjar.
  • Virus parainfluenza yang menyebabkan croup pada anak.
  • CMV atau Cytomegalovirus yang penularannya terjadi lewat cairan tubuh.
  • Bakteri Streptococcus yang menjadi penyebab infeksi kulit selulitis, pneumonia, hingga impetigo.
  • Bakteri Staphylococcus yang menjadi penyebab infeksi kulit, keracunan makanan, hingga kasus sepsis.

Selain dari infeksi virus dan bakteri yang kiranya sudah terjadi akibat penyakit yang menjangkit sebelumnya, tetap juga ada beberapa faktor risiko lainnya. Pleuritis mampu terjadi sebagai akibat atau bahaya atau komplikasi dari sebuah kondisi kesehatan. Berikut ini adalah contoh gangguan kesehatan yang mengakibatkan pleuritis terjadi pada seseorang.

  • Penyakit arthritis, seperti rematik
  • Penyakit Lupus
  • Sistem daya tahan tubuh yang melemah efek dari penyakit AIDS.
  • Kanker paru-paru
  • Infeksi jamur atau parasit
  • Efek samping kemoterapi
  • Efek samping radioterapi
  • Cedera rusuk yang berpengaruh pada pleura, misalnya akibat benturan.
  • Kanker mesothelioma
  • Anemia sel sabit
  • Emboli paru atau pembekuan darah di dalam paru-paru.

Perlu diketahui juga bahwa penderita gangguan pernapasan pada dasarnya memiliki risiko tinggi untuk mengembangkan pleuritis. Seiring dengan bertambahnya usia dan mengidap penyakit lain yang bersamaan dengan pleuritis seperti diabetes, emphysema, penyakit jantung, bronkitis kronis, serta penyakit vaskular kolagen, potensi pleuritis berkembang makin serius akan makin besar.

(Baca juga: nafas pendek dan berat gejala paru-paru bermasalahpenyebab emfisema)

Gejala dan Komplikasi Pleuritis

Pleuritis sama seperti kebanyakan penyakit di mana ada sejumlah gejala yang menandai sehingga penderitanya bisa dengan mudah dan lebih cepat mencegah perkembangannya. Berikut ini adalah gejala-gejala pleuritis untuk Anda ketahui:

  • Batuk kering
  • Pusing
  • Demam, biasanya terjadi demam tinggi dan dalam waktu yang lama.
  • Tubuh cepat lelah
  • Napas pendek atau sesak napas, hal ini akan jauh lebih buruk apabila Anda bersin atau batuk.
  • Sakit di bagian bahu
  • Sakit di bagian punggung
  • Sakit pada salah satu sisi dada
  • Sakit di bagian otot dan sendi
  • Mual
  • Berkeringat
  • Detak jantung lebih cepat ketimbang normalnya.
  • Dada terasa berbeda, yakni sesak dan lunak. Hal ini kerap disertai dengan rasa sakit yang berpengaruh pada bagian depan maupun belakang rongga.

Saat sudah merasakan ada ketidakberesan berupa kondisi atau keluhan-keluhan di atas, Anda sebaiknya langsung ke dokter dan jangan tunggu gejalanya makin parah. Pertanyaannya, kapan seharusnya Anda mulai perlu untuk menemui dokter? Kondisi-kondisi di bawah ini adalah penanda bahwa Anda perlu mendapatkan penanganan medis segera.

  • Batuk
  • Demam tinggi
  • Menggigil
  • Dahak berwarna hijau atau kuning
  • Berpotensi menderita radang paru-paru
  • Kaki bengkak
  • Lengan bengkak
  • Batuk disertai darah
  • Mual
  • Berkeringat berlebihan

Kondisi pada penderita pleuritis terutama sakit di bagian bahu dan dada bakal makin terasa apabila waktu menarik napas secara dalam-dalam, bahkan juga sewaktu bergerak, batuk dan bersin. Sebaiknya konsultasi dengan dokter jika sudah mencurigai bahwa kondisi-kondisi tersebut dikarenakan pleuritis.

Komplikasi

Saat radang dibiarkan meski gejala sudah nampak begitu jelas, hati-hati karena efusi pleura atau penumpukan cairan di paru-paru bisa terjadi sebagai komplikasi. Kondisi komplikasi ini lebih memungkinkan terjadi pada penderita pleuritis karena emboli paru atau infeksi bakteri. Sesak napas akan makin buruk sebagai tanda bahwa efusi pleura mulai muncul.

Biasanya, dokter akan melakukan proses penyedotan cairan supaya bisa keluar dari rongga pleura melalui prosedur torakosenetesis apabila pengobatan pleuritis biasa tak efektif dalam mengatasi efusi pleura. Atau, dokter akan menempelkan menjadi satu kedua lapisan supaya rongga pleura menutup. Meski demikian, jangan tunggu sampai terkena efusi pleura dan segera ke dokter apabila gejala telah dialami.

(Baca juga: penyebab sesak nafaspertolongan pertama sesak nafas gejala sesak nafas)

Metode Diagnosa dan Pengobatan Pleuritis

Setelah menemui dokter karena keluhan gejala yang menyerang, maka biasanya dokter akan memeriksa kondisi Anda dengan beberapa metode diagnosa. Di awal, dokter pasti akan memeriksa fisik Anda lebih dulu.

Dari pemeriksaan fisik, dokter juga bakal menanyakan tentang riwayat kesehatan Anda dan juga kesehatan keluarga. Ingat bahwa pleuritis dapat terjadi oleh karena banyak faktor dan bisa jadi ada hubungan erat dengan riwayat kesehatan yang pernah dialami. Jika masih belum yakin dalam menentukan hasil diagnosa, berikut ini adalah rangkaian diagnosa lanjutan untuk pasien tempuh.

  • Tes darah – Tes ini sangat diperlukan dengan tujuan untuk memeriksa apakah pasien memiliki infeksi atau kelainan tertentu. Contohnya adalah kondisi penyakit Lupus, gangguan sistem daya tahan tubuh, serta adanya arthritis rheumatoid.
  • Pemindaian – Pada tes ini, EKG, USG, CT Scan dan rontgen menjadi serangkaian metode diagnosa untuk dijalani pasien. Tujuan dari pemindaian ini adlaah untuk mendeteksi adanya pembengkakan pada pembuluh darah, inflamasi, serta memeriksa bagian kesehatan paru-paru. Atau, dengan pemindaian dokter juga dapat mendeteksi faktor pemicu yang lain.
  • X-ray dada – Tes ini akan menjadi petunjuk apakah bagian organ paru-paru telah mengembang dan bila mengembang, apakah terdapat cairan atau udara yang ada diantara tulang rusuk serta paru-paru pasien.
  • Ultrasound – Tes diagnosa ini digunakan supaya dokter dapat menentukan pasien tengah mengalami efusi pleura atau tidak. Biasanya pada tes ini, penggunaan gelombang suara akan sangatlah dimanfaatkan, terutama yang berfrekuensi tinggi supaya hasl gambar struktur di dalam tubuh pasien diperoleh secara tepat sehingga membantu dokter membuat hasil diagnosa.
  • Torakosentesis – Tes ini dilakukan oleh dokter dengan mengambil sampel cairan paru-paru lewat tulang rusuk. Pada proses pengambilannya, akan dilakukan dengan menggunakan jarum khusus dan kemudian dibawa ke laboratorium. Pembiusan lokal akan dilakukan sebelum tindakan diagnosa ini dilakukan.
  • Pleurokospi atau torakoskopi – Untuk mengetahui kondisi thoraks atau rongga dada serta bagian pleura, metode diagnosa ini dilakukan melalui selang tipis yang sudah dilengkapi dengan kamera. Ada juga alat tambahan bila diperlukan jika dokter merasa bahwa tindakan biopsi dibutuhkan untuk pengambilan sampel jaringan di organ paru-paru pasien.

Pengobatan Medis

Dari hasil diagnosa yang positif di mana pasien benar-benar terbukti mengidap pleuritis, maka pengobatan pun akan diberikan oleh dokter sesuai dengan kondisi yang mendasari. Untuk kasus pleuritis yang dipicu oleh virus, pada umumnya tak perlu diberikan obat-obatan. Pleuritis karena virus biasanya akan sembuh dengan sendirinya setelah istirahat dengan cukup dan gejala pun akan hilang hanya dalam beberapa hari.

  • Pleuritis oleh bakteri – Penyembuhan untuk pleuritis yang kasusnya disebabkan oleh bakteri perlu penanganan dengan jenis antibiotik tertentu yang dianjurkan oleh dokter. Pemberian antibiotik ini dapat berupa obat suntik, minum maupun penggabungan dari 2 jenis antibiotik berbeda yang ditentukan oleh serius tidaknya gejala pasien.
  • Pleuritis dengan nyeri pada dada – Obat pereda rasa sakit adalah yang akan diberikan oleh dokter pada pasien yang menderita pleuritis dengan keluhan rasa nyeri di dada. Obat golongan anti-inflamasi non-steroidlah yang menjadi solusi, termasuk aspirin dan ibuprofen. Hanya saja, untuk penderita dengan usia kurang dari 16 tahun harus berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan obat ini.
  • Pleuritis dengan keluhan batuk – Kodein biasanya akan diberikan kepada pasien yang dalam bentuk obat sirup di mana fungsinya adalah sebagai pereda batuk. Kodein dan parasetamol juga diketahui menjadi obat yang diberikan dokter apabila aspirin dan ibuprofen tak cocok atau tak efektif mengatasi gejala yang dikeluhkan oleh pasien.

Pengobatan Alami

Selain pengobatan secara medis, pasien juga bisa memilih untuk mengobati pleuritis dengan cara yang alami dan dari bahan yang alami juga sehingga terjamin lebih aman.

  • Daun Kemangi. Bukan sekadar obat untuk orang-orang dengan bau mulut, daun kemangi dapat dikonsumsi setiap pagi dan malam secara rutin untuk mengurangi gejala pleuritis. Daun kemangi juga diyakini mampu memberikan kelegaan bagi penderitanya.
  • Ekstrak Daun Zaitun. Segala jenis infeksi diketahui mampu diatasi dengan ekstrak alami satu ini. Berkat kandungan oleuropein di dalamnya, maka ekstrak ini bisa diandalkan. Bahkan pleuritis yang timbul akibat penyakit kanker pun bisa diatasi karena kandungan tersebut terpercaya mampu melawan kanker.
  • Jus Nanas. Inflamasi atau peradangan dapat diatasi dengan jus nanas, jadi konsumsilah setiap hari secara rutin hingga gejala tak lagi mengganggu Anda.
  • Jahe. Bukan sekadar solusi obat bagi yang sedang kedinginan atau masuk angin, jahe adalah rempah yang bisa digunakan untuk mengobati pleuritis. Jika ada hubungan dengan gangguan pernapasan, maka jahe akan mampu melegakannya, jadi konsumsilah secara rutin setiap hari sampai pleuritis benar-benar sembuh.
  • Cengkeh dan Kayu Manis. Kombinasi keduanya adalah yang paling baik di mana jika Anda mengonsumsi secara sering dan rutin, maka pleuritis akan membaik secara alami dan cukup cepat. Keringkan 2 sendok makan cengkeh dan kayu manis, lalu jadikan bubuk dan disimpan sebaik mungkin; Anda bisa menggunakannya sbagai tambahan pada resep masakan Anda.
  • Susu. Karena susu kaya akan mineral dan vitamin, maka dipercaya bahwa susu mampu membantu kembali baiknya fungsi tubuh yang terkena peradangan. Gangguan atau lemahnya sistem imunitas tubuh juga bakal teratasi karena minum susu akan meningkatkan daya tahan tubuh Anda.
  • Biji Rami dan Wijen. Konsumsilah keduanya mentah-mentah yang dicampur bersama dengan madu murni secukupnya. Anda sebetulnya hanya perlu mengeringkan 1 sendok makan masing-masing biji rami dan wijen dan jadikan bubuk sebelum dicampur madu dan mengonsumsinya. Konsumsi sehari 2 kali lebih dianjurkan.
  • Kunyit. Rempah lainnya yang efektif untuk masalah pleuritis adalah kunyit. Sifat antiviral, anti-inflamasi dan ekspektorannya tinggi sehingga bakal meredakan inflamasi. Campurkanlah segelas susu panas bersama dengan bubuk kunyit 1 sendok teh, campur dengan mengaduk rata, lalu minumlah sehari beberapa kali.

Baca juga:

Demikianlah sedikit info tentang pleuritis di mana kiranya dengan mengenali penyebab dan gejala hingga cara mengatasinya, Anda bisa lebih mewaspadai penyakit ini dan menanganinya secara benar.