Tubuh Membengkak Wanita Ini Tak Bisa Kenakan Celana Lagi, Apa Sebabnya?

91

Kondisi langka bernama limfedema primer terjadi pada seorang wanita bernama Ada Thompson yang berusia 38 tahun. Ia kini tak dapat mengenakan celana lagi karena penyakit ini telah membuat tubuh kanannya mengalami pembengkakan, khususnya bagian kaki. Dan karena pembengkakannya ini, bobot tubuh Ada juga mengalami lonjakan sampai 208 kg.

Ketika Ada masih berusia 19 tahun, ia sempat menempuh tindakan bedah untuk mengangkat gumpalan di dalam kakinya. Besar gumpalan itu pun bisa dibilang seukuran buah anggur yang artinya cukup banyak dan besar. Meski diharapkan prosedur itu mampu meningkatkan gerakan tubuh Ada, nyatanya prosedur ini bertujuan sebagai pereda gejala sehingga limfedema tetap belum dapat pulih total.

Dilansir dari Fox News, Ada sendiri menjelaskan bahwa ibunya telah mencoba memeriksakan dirinya ke sejumlah dokter ketika masih kecil demi memperoleh bantuan dan juga jawaban atas kondisinya. Kondisi yang dimaksud Ada adalah sistem limfa di tubuhnya yang mengalami kerusakan atau penyumbatan dan dari tahun ke tahun makin buruk saja meski sang ibu tak pernah menyerah.

Penyakit limfedema primer ini tergolong langka sebab diperkirakan dari 6000 jiwa kemungkinan hanya ada 1 orang yang mengidap kelainan seperti ini. Gejala utama penyakit ini menurut National Organization for Rare Disorders memang adalah pembengkakan pada sejumlah area tubuh. Penderitanya bakal merasakan ketidaknyamanan karena area tubuh tertentu terasa lebih kencang.

Bukan hanya pembengkakan di beberapa bagian tubuh, kulit di sekeliling area yang bengkak pun biasanya tampak tak normal karena kelihatan memiliki sisik, terjadi penebalan dan nampak sangat kering. Sebagai penanganannya, pakaian kompresi atau operasi adalah jalan yang penderita perlu tempuh karena belum terdapat obatnya hingga kini. Apabila sampai terjadi penyebaran infeksi, otomatis memicu kematian jaringan dan sebagai langkah terakhir, amputasi adalah jalannya.

Sebagai salah satu pasien penyakit langka, Ada memiliki sikap positif dan ia tak pernah malu dengan kondisinya. Justru ia sangat senang menyanyi, menari dan melakukan hal lain yang bisa membuatnya bahagia. Ia mengatakan bahwa terkadang ia harus berada di kursi listriknya, terkadang ia harus sampai menggunakan kruk, tapi ia tetap berjuang.

Dengan sikap positifnya tersebut, ia berharap dapat menjadi penyemangat dan inspirasi bagi pasien limfedema lainnya. Ia sadar kadang harinya baik dan kadang harinya bisa menjadi buruk, tapi ia memilih kuat dan terus bangun supaya mampu melawan penyakitnya.