Mengerikan! Pria 28 Tahun Terkena Stroke Setelah Meretakkan Leher Sampai Berbunyi, Ini Penyebabnya

102

Seorang pria muda yang baru berusia 28 tahun asal Oklahoma baru saja terkena stroke setelah sebelumnya meretakkan leher sampai berbunyi. Josh Hader merasakan berat, lelah dan tidak nyaman pada leher selama beberapa minggu. Menurut Washington Post akhirnya ia meretakkan leher agar merasa lebih nyaman dan ringan. Tapi segera setelah leher berbunyi, maka ia tidak lagi dapat merasakan sensasi pada lehernya.

Kehilangan sensasi itu dimulai pada leher bagian kiri kemudian menyebar menjadi tidak nyaman. Akhirnya Ia dibawa ke rumah sakit dimana akhirnya menerima diagnosis stroke. Dokter mengobati bagian arteri yang sudah robek untuk mengembalikan kondisinya.

Jadi, apakah Anda juga memiliki kebiasaan membunyikan leher saat tidak nyaman?

Sebenarnya kebiasaan ini memang sangat berbahaya. Saat proses meretakkan leher terjadi maka bisa merusak arteri utama di bagian leher. Bagian yang dinamakan arteri serviks ini bisa robek yang kemudian menyebabkan trauma pada leher. Dilansir dari informasi Klinik Cleveland, ternyata trauma ini juga yang memicu stroke.

Stroke biasanya terjadi ketika ada gumpalan darah yang ada di arteri dekat dengan robekan. Kemudian ketika sudah robek maka tidak ada darah yang bisa mengalir. Inilah yang akhirnya memicu stroke yang sangat berbahaya. Sebenarnya kasus stroke setelah meretakkan leher memang sangat jarang terjadi. Namun kasus ini meningkat karena kebiasaan yang dianggap umum.

Kebiasaan meretakkan leher harus dihindari dan diganti dengan cara yang lebih baik, seperti:

  • Mencoba tidur dengan bantal yang nyaman untuk leher dan kepala.
  • Merebahkan leher ketika merasa lelah dan sakit.
  • Cuti dari aktifitas yang terus menerus sampai leher kembali nyaman.
  • Dan pergi ke dokter untuk memastikan penyebab leher tidak nyaman.

Nah ternyata meretakkan atau membunyikan leher memang sangat berbahaya ya? Mulai sekarang hindari semua kebiasaan buruk ini dan ganti dengan cara yang lebih sehat.