Thursday, March 21, 2019

Proktitis

Proktitis merupakan kondisi sebuah keadaan inflamasi yang dialami oleh seseorang di bagian anus dan dinding rektum. Rektum sendiri merupakan bagian usus besar yang ada di paling bawah yang terkait hingga ke anus. Feses atau kotoran manusia bakal lewat di rektum supaya bisa menuju anus dan pembuangan pun terjadi hingga ke luar tubuh.

Proktitis bila terjadi pada seseorang akan menjadi kurang nyaman bagi tubuh dan akan ada suatu dorongan yang terus-menerus untuk buang air besar. Untuk mengatasi hal ini, penyesuaian gaya hidup dan juga beberapa pengobatan medis kiranya diperlukan dan bahkan pada beberapa kasus pun penderita harus menempuh pembedahan jika sudah tergolong parah dan gejala terus berulang.

Penyebab dan Gejala

Proktitis tentunya tidaklah terjadi begitu saja tanpa adanya alasan atau penyebab dan biasanya yang menjadi faktor penyebabnya adalah kondisi-kondisi medis, seperti kondisi di bawah ini secara lebih detil untuk dilihat:

  • Trauma Anal – Kondisi trauma seperti ini dapat juga berupa luka yang penyebabnya adalah penggunaan mainan seks atau enema.
  • Penyakit Radang Usus – Penyakit seperti kolitis ulseratif dan juga penyakit Crohn adalah jenis penyakit yang mampu menyebabkan terjadinya proktitis. Diketahui bahwa ada perkiraan sepertiga penderita penyakit kolitis ulseratif dan penyakit Crohn adalah pengidap proktitis juga.
  • Terapi Radiasi – Kanker ovarium atau kanker prostat merupakan dua kondisi yang paling memerlukan penanganan berupa terapi radiasi, namun sebagai efek buruknya, inflamasi bisa terjadi di area permukaan rektum.
  • Infeksi – Infeksi seperti kondisi PMS/penyakit menular seksual bisa saja menjadi penyebab terjadinya proktitis, apalagi pada orang-orang yang kerap melakukan hubungan seks dubur. Gonore, klamidia, serta herpes genital adalah contoh kondisi penyakit seksual menular yang bisa menjadi pemicu proktitis, bahkan termasuk juga HIV AIDS bisa jadi penyebabnya. Sementara itu, infeksi lainnya adalah infeksi yang berasal dari bawaan makanan, contohnya infeksi karena salmonella, shigella, atau bahkan infeksi campylobacter.
  • Proktitis Eosinofilik – Inflamasi rektum dapat terjadi pada bayi yang usianya belum ada 2 tahun dan risiko ini menjadi lebih besar ketika eosinofil menumpuk, yaitu sebuah jenis sel darah putih yang kita sebut dengan istilah ini.
  • Dampak Operasi – Pasien yang pernah menjalani operasi usus besar biasanya akan sulit untuk buang air besar seperti biasa atau normalnya dari rektum dan efek operasi dapat menimbulkan peradangan tersebut.
  • Jenis Antibiotik Tertentu – Antibiotik pada umumnya diberikan agar infeksi dapat dilawan, namun perlu diketahui pula bahwa antibiotik pun bisa juga malah menjadi pembunuh bakteri-bakteri sehat yang fungsinya sebagai penjaga kesehatan pencernaan. Proktitis bisa terjadi dari sini, yakni ketika terjadi pertumbuhan Clostridium difficile dan malah mengalami perkembangbiakan di rektum.
  • Makanan Berprotein – Proktitis juga ada yang disebabkan oleh protein makanan di mana biasanya paling kerap dijumpai kasusnya pada bayi yang masih mengonsumsi susu formula yang terbuat dari susu sapi atau susu kedelai. Namun pada bayi yang masih minum ASI dari ibunya yang sering minum produk susu maka ada kemungkinan proktitis tetap bisa terjadi.

Berbagai keluhan akan kondisi tubuh bisa menjadi tanda akan adanya suatu penyakit dan proktitis pun memicu beberapa gejala umum dan gejala umum ini kita bisa sebut dengan istilah tenesmus. Tenesmus adalah suatu keadaan desakan untuk BAB. Tenesmus ini dapat terjadi dikarenakan adanya peradangan di bagian rektum dan lapisan dubur yang juga akan disertai iritasi.

Sementara itu, masih ada beberapa gejala lainnya yang juga kemungkinan bisa terjadi dan dikeluhkan oleh penderita proktitis:

  • Diare berair
  • Buang air besar tak tuntas
  • Terasa sakit di bagian rektum dan anus.
  • Lendir keluar dari rektum
  • Perdarahan yang keluar dari rektum
  • Perut bagian kiri bawah terasa sakit
  • Kram sewaktu buang air besar
  • Perut bagian kiri bawah kaku

Metode Diagnosa

Ada sejumlah prosedur yang dipakai untuk dapat mendiagnosis proktitis. Seketika gejala-gejala dari proktitis yang sudah disebutkan tersebut terjadi, maka kita perlu segera memeriksakannya ke dokter dan langkah-langkah pemeriksaan ini kemungkinan sangat perlu untuk kita tempuh.

  • Tes Feses – Pasien dalam hal ini biasanya akan diminta dokter sampel tinjanya untuk diuji dan tes ini jugalah yang akan membantu dokter dalam menentukan apakah ada infeksi bakteri yang bisa menyebabkan proktitis.
  • Tes Darah – Dengan tes darah, akan dapat terdeteksi apakah pasien mengalami kehilangan darah maupun infeksi.
  • Kolonoskopi – Pada tes atau pemeriksaan ini, dokter akan lebih mampu melihat seluruh kondisi kolon dengan memanfaatkan tabung tipis fleksibel yang memiliki kamera terpasang di sana. Selama tes berlangsung, dokter biasanya juga akan melakukan biopsi.
  • Pemeriksaan Infeksi Menular Seksual – Pemeriksaan ini perlu dilakukan oleh dokter dengan mengambil sampel jaringan dari rektum, atau bisa juga diambil dari saluran yang mengalirkan urine dari uretra.

Pengobatan Proktitis

Setelah didiagnosa dan dinyatakan oleh dokter bahwa pasien positif mengalami proktitis, maka serangkaian solusi pengobatan pasti diberikan. Pemberian obat atau perawatan dapat disesuaikan dengan penyebab dari proktitis tersebut. Berikut ini adalah beberapa pengobatan yang bisa disimak.

  1. Proktitis dengan Infeksi sebagai Penyebab

Ada berbagai faktor yang bisa menjadi penyebab seseorang mengalami proktitis dan salah satu kasus proktitis paling umum disebabkan oleh infeksi bakteri. Jadi, untuk mengobati kondisi satu ini, maka pilihan pengobatan yang kiranya diberikan antara lain:

  • Antiviral – Apabila infeksi viruslah yang menjadi penyebab utama proktitis, seperti halnya virus herpes menular seksual, biasanya dokter otomatis akan memberi resep obat antiviral. Contoh obat antiviral ini adalah seperti asiklovir.
  • Antibiotik – Jika infeksi bakterilah yang menjadi pemicunya, dokter kemungkinan besar akan memberikan resep obat antibiotik. Contoh obat antibiotik yang diberikan pada pasien adalah doksisiklin.
  1. Proktitis dengan Penyakit Radang Usus sebagai Penyebab

Ketika radang usus menjadi masalah yang memengaruhi dan menimbulkan proktitis, maka pengobatan yang diberikan bertujuan untuk pengurang radang di rektum. Pengobatan yang dimaksud antara lain seperti:

  • Obat Pengontrol Radang Rektum – Obat anti-inflamasi adalah yang akan diresepkan oleh dokter, baik itu obat yang bisa digunakan melalui mulut atau obat yang berperan sebagai supositoria atau enema. Kortikosteroid pun dapat juga menjadi obat dari kondisi proktitis satu ini. Peradangan pada penderita penyakit Crohn biasanya bisa diatasi dengan obat penekan sistem daya tahan tubuh. Dengan mengendalikan penyakit kolitis ulseratif dan Crohn, tentu gejala proktitis juga akan ikut tertangani dengan baik.
  • Operasi – Apabila perawatan menggunakan obat-obatan dari dokter seperti yang sudah disebutkan tersebut tak efektif dan bahkan gejala terus bertahan, dokter pada umumnya bakal menyarankan operasi sebagai solusi terbaik. Dengan operasi atau pembedahan ini, tujuannya adalah untuk membuang bagian-bagian saluran pencernaan yang sudah tak berfungsi maksimal maupun yang telah rusak.
  1. Proktitis dengan Terapi Radiasi sebagai Penyebab

Untuk proktitis yang disebabkan oleh terapi radiasi biasanya tergolong kasus ringan yang tak memerlukan perawatan khusus. Hanya saja, ada beberapa kasus di mana proktitis karena terapi radiasi bisa menimbulkan perdarahan hebat dan rasa sakit. Bila hal seperti ini terjadi, pengobatan berikut inilah yang dokter akan berikan.

  • Pelunak Feses – Dokter dapat memberikan rekomendasi perawatan ini dengan tujuan sebagai pembuka penghalang pada usus.
  • Obat-obatan – Obat-obatan dalam bentuk pil, enema atau supositoria kemungkinan akan diberikan kepada pasien. Contoh obat-obat ini antara lain adalah mesalamine, sucralfate, metronidazole, dan sulfasalazine. Jenis obat-obatan inilah yang menjadi pengendali peradangan serta membuat perdarahan hebat berkurang.
  • Ablasi – Metode pengobatan ini pun mampu menjadi penghancur jaringan abnormal atau ablasi yang mengalami perdarahan. Prosedur pengobatan ini kiranya diperlukan oleh pasien dan dokter akan menyarankannya terutama ketika obat tak terlalu efektif.
  1. Perawatan Rumah/Mandiri

Langkah perawatan atau pengobatan yang bisa dilakukan dengan perubahan gaya hidup kita bisa sebut dengan istilah perawatan mandiri. Itu artinya, penderita proktitis dapat melakukan hal-hal di bawah ini.

  • Tanyakan dan konsultasikan dengan dokter apa saja obat diare yang bisa dikonsumsi secara aman walau memiliki gangguan gejala proktitis. Obat anti-diare adalah yang sebaiknya dihindari, seperti loperamide dan jangan konsumsi apabila dokter tidak menganjurkan atau memperbolehkan.
  • Menggunakan penghilang rasa nyeri. Acetaminophen merupakan obat penghilang nyeri yang paling bisa membantu, namun sebelum mengonsumsi obat jenis ini, konsultasikan dengan dokter lebih dulu. Jika langsung mengonsumsi tanpa dokter Anda tahu, kemungkinan obat kurang sesuai dengan kondisi tubuh yang akan membuat proktitis malah memburuk.
  • Sitz bath adalah contoh perawatan mandiri yang dapat dicoba, yakni dengan merendam selangkangan serta bokong selama beberapa menit saja menggunakan air hangat.
  • Mengonsumsi banyak air putih juga menjadi hal penting untuk dilakukan para pasien.
  • Hindarilah minuman-minuman yang mengandung kafein dan soda dan selama masa perawatan sebaiknya cukup minum air putih atau jus buah yang terjamin sehat.
  • Menjauhi makanan berlemak, makanan asam dan juga pedas adalah wajib bagi yang menderita diare.
  • Tidak makan tepat sebelum tidur, jadi bila terbiasa dengan makan sesaat sebelum tidur, hentikan kebiasaan ini dulu dengan tujuan untuk mengistirahatkan sistem pencernaan.

Pencegahan dan Komplikasi

Risiko proktitis pada dasarnya dapat diturunkan dan ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk melindungii diri dari segala jenis penyakit menular seksual. Berikut ini adalah beberapa langkah yang sebaiknya diperhatikan dan juga dilakukan demi mencegah proktitis.

  • Tidak berganti-ganti pasangan dalam berhubungan intim.
  • Menjauhkan diri dari seks anal.
  • Tidak melakukan hubungan seks bebas.
  • Apabila memang telah terdiagnosa adanya infeksi menular seksual, hindari dulu aktivitas seksual hingga perawatan selesai dan memang telah dinyatakan sembuh. Hal ini demi mencegah penyebaran infeksi. Bila tak tahu apakah kondisi sudah benar-benar baik, maka periksalah ke dokter dan tanyakan.
  • Memakai kondom sebagai bentuk perlindungan.
  • Menghindari aktivitas seksual dengan siapapun yang memiliki luka atau gangguan tak normal di area genital.

Bila tak dicegah segera, ada kemungkinan-kemungkinan penderita mengalami komplikasi. Di bawah ini merupakan sejumlah kondisi komplikasi yang perlu dicegah atau dihindari.

  • Anemia – Perdarahan pada rektum dapat menjadikan sel darah merah berkurang.
  • Abses – Infeksi bernanah bisa juga terjaid ketika terlambat dalam menangani atau dibiarkan.
  • Bisul – Bisul atau luka terbuka dapat dialami oleh penderita pada area rektum dan kolon.
  • Ulkus – Rektum dapat mengalami yang namanya peradangan kronis dan peradangan kronis inilah yang bisa menjadi penyebab luka terbuka atau borok di bagian lapisan dalam rektum.
  • Fistula – Meluasnya borok bisa melewati dinding usus yang kemudian membentuk fistula.

Kiranya informasi mengenai proktitis mulai dari penyebab, gejala, cara mendiagnosa, pengobatan, pencegahan hingga kemungkinan komplikasi ini mampu membantu Anda untuk lebih mewaspadai penyakit ini.

No posts to display

Recommended