Monday, May 27, 2019

Higroma Kistik

Higroma kistik merupakan sebuah kondisi ketidaknormalan lesi limfatik yang biasanya diketahui mampu berkembang pada seorang anak saat lahir. Jadi, dapat dikatakan bahwa higroma kistik ini adalah sebuah cacat bawaan yang berpengaruh pada bagian manapun dari tubuh manusia dan biasanya bisa memengaruhi kepala serta leher menurut kasus kebanyakan. Karena bayilah yang mendapatkan dampaknya, maka hal ini tidaklah terjadi pada orang dewasa.

Pada kurang lebih 20 persen kasus higroma kistik, yang terserang adalah bagian ketiak, sementara yang kasus yang ada namun jarang dijumpai adalah pada area retroperitoneum, mediastinum dan selangkangan yang kurang dari 5 persen. Lokasi lainnya yang dapat terserang adalah telinga tengah, namun sangat langka.

Keadaan seperti higroma kistik ini pertama kali dideskripsikan oleh Werenher pada tahun 1843 dan diketahui pula bahwa keadaan memiliki sisi identik dengan malformasi limfatik atau limfangioma kistik yang pertama kali digambarkan di tahun 1828 oleh Redenbacker. Penting untuk mengenali kondisi cacat bawaan ini lebih jauh dengan memahami penyebab, gejala hingga cara mengatasinya.

Penyebab

Ada beberapa faktor yang diyakini menjadi penyebab dari timbulnya higroma kistik pada bayi. Faktor-faktor yang dimaksud ini meliputi:

  • Trauma leher – Higroma kistik berpotensi untuk berkembang apabila terjadi trauma pada leher yang kemungkinan terjadi sebagai akibat dari pembedahan atau inflamasi jalur drainase limfatik.
  • Kelainan karyotypic – Diketahui bahwa pada bayi penderita higroma kistik rupanya telah memiliki kelainan karyotypic sekitar 25 hingga 70 persen dari seluruh kasus higroma kistik yang pernah ada. Selain kelainan karyotypic, ada pula beberapa kasus di mana penyebabnya adalah penyakit seperti sindrom Turner, sindrom Klinefelter, Trisomi 13, Trisomi 18, dan Down Syndrome.
  • Kegagalan koneksi antara sistem vena dan limfatik – Rupanya kondisi seperti ini pun mampu mendasari terjadinya higroma kistik sebab adanya cairan terakumulasi pada titik di mana kedua sistem tidak bisa terhubung satu sama lain secara sempurna.
  • Kelenjar getah bening yang terpisah – Retensi pertumbuhan embrio sangat berpotensi terjadi dalam hal ini di mana kelenjar getah bening terkadang mampu menembus jaringan tubuh berdekatan. Dari hal itulah kemudian retensi dari sekresi yang dihasilkan bisa terbentuk dan mendukung perkembangan komponen kistik disebabkan oleh saluran aliran keluar vena yang kurang.
  • Kondisi lainnya – Risiko higroma kistik pun meningkat pada bayi ketika bayi tersebut diketahui menderita kelainan nonkromosom seperti sindrom Noonan, sindrom Fryns, sindrom multipel pterigium, serta akondroplasia. Bahkan paparan intraurine alkohol pun diduga menjadi salah satu faktor terjadinya higroma kistik.

Gejala

Gejala yang ditunjukkan pada kondisi higroma kistik bervariasi dan hal ini ditentukan oleh bagian tubuh sebelah mana yang terserang. Inilah beberapa gejala yang patut diketahui sekaligus diwaspadai.

  • Pendarahan – Karena tubuh bayi masih tergolong rapuh, maka ada kemungkinan salah satu gejala yang nampak adalah pendarahan, terutama pada area ketiak, leher hingga pangkal paha.
  • Kulit kebiruan – Warna kulit yang berubah menjadi kebiruan ini terjadi pada saat kista memiliki dinding tebal dengan ukuran besar yang terlibat pada jaringan yang ada di sekelilingnya. Jadi sewaktu kulit mengalami pelebaran, warna biru pun muncul walau memang ini terlihat normal pada beberapa kasus.
  • Jaringan parut – Gejala lainnya adalah timbulnya jaringan parut di mana hal ini muncul karena infeksi higroma kistik dapat menjadi pemicu respon terhadap jenis antibiotik tertentu menjadi lambat. Bahkan ada potensi untuk kondisi ini menjadi penyebab timbulnya banyak komplikasi bila dilakukan tindakan intervensi medis dalam bentuk pembedahan.
  • Gangguan pernapasan – Saat bagian leherlah yang diserang, masalah pernapasan dapat terjadi disebabkan oleh adanya tekanan yang mengenai saluran nafas.
  • Gumpalan membesar – Higroma kistik biasanya langsung nampak pada saat bayi baru lahir dan peningkatan kondisi dapat terjadi secara bertahap saat cairan makin menumpuk. Hal ini akan menjadi lebih serius saat mikroorganisme tertentu menyebabkan infeksi pada tubuh sang bayi dan memperburuk keadaan higroma kistik. Pada bagian yang terkena akan kelihatan begitu merah karena meradang, namun saat disentuh akan terasa lembut tapi juga begitu terasa sakitnya.

Diagnosa dan Pengobatan

Penting untuk memastikan kondisi sewaktu masih dalam kondisi hamil; para ibu hamil dianjurkan untuk mendeteksi ada tidaknya higroma kistik pada janin. Beberapa metode diagnosa pun perlu ditempuh demi mengidentifikasi higroma kistik ini. Sejumlah langkah pemeriksaan yang dibutuhkan antara lain adalah sebagai berikut:

  • Pemeriksaan MRI – Tujuan dari pemeriksaan ini adalah demi mengetahui tingkat keparahan higroma kistik yang terjadi pada janin. Ada kemungkinan dokter pun memanfaatkan Quick-Spin MRI di mana melalui tes inilah akan didapat gambar secara detil dan jelas akan higroma kistik pada janin.
  • Ultrasonografi – Prosedur medis lain yang bisa ditempuh adalah ultrasonografi perut. Metode pencitraan ini adalah dengan memeriksa perut ibu hamil. Namun dari hasil gambar, hanya akan ditunjukkan kemungkinan ukuran higroma kistik serta lokasinya.
  • Ultrasonografi transvaginal – Kondisi akan tergambarkan secara lebih mendetil melalui prosedur pemeriksaan ini sehingga lebih direkomendasikan daripada ultrasonografi yang sebelumnya. Perangkat khusus akan dimasukkan jalan lahir vagina ibu hamil untuk mendapatkan gambar kondisi higroma kistik.
  • Amniosentesis – Tes cairan amniosentesis kiranya diperlukan karena cairan ini ada di sekeliling janin yang juga berfungsi sebagai pencegah dari syok. Melalui tes, dokter akan mengumpulkan cairan dan apabila level tinggi apha fetoprotein ditemukan dalam cairan tersebut, itulah yang kemudian dijadikan sebagai indikator bahwa janin mengalami higroma kistik.

Bila dari pemeriksaan memang ditemukan adanya higroma kistik, dokter baru dapat mengambil tindakan untuk mengatasinya. Pada dasarnya, higroma kistik dapat secara otomatis hilang dan sembuh sendiri pasca kelahiran, namun tetap saja tak bisa diabaikan begitu saja. Selalu ada kemungkinan komplikasi menyerang atau bahkan akumulasi cairan terjadi kembali, jadi beberapa metode perawatan dianjurkan.

  • Injeksi bahan kimia – Apabila kista sudah cukup besar, maka langkah penanganan seperti penyuntikan obat kimia khusus harus dilakukan segera agar pembengkakan bisa menyusut. Apabila kista terlampau kecil, otomatis injeksi atau suntikan ini tak akan begitu mempan. Apabila pada kondisi higroma kistik terjadi infeksi, antibiotiklah yang mampu mengobati bayi.
  • Operasi – Perawatan yang kelihatannya paling berisiko namun juga dianggap paling efektif adalah operasi. Sesudah infeksi tertangani dan sudah benar-benar hilang, operasi bisa dilaksanakan. Operasi pun tidak sembarang dilakukan karena bayi harus lebih dulu berusia 6 bulan barulah ahli bedah bisa melakukan tindakan medis ini. Pada kasus tertentu, yakni ketika higroma kistik mengalami peningkatan lebih cepat dari pertumbuhan bayi walau belum ada 6 bulan, operasi kemungkinan segera dilakukan.

Higroma kistik perlu ditangani oleh dokter yang benar-benar ahli, terutama jika membutuhkan langkah operasi dalam menyembuhkannya. Konsultasikan lebih jauh dengan dokter akan segala risiko dan efeknya supaya mampu mewaspadai segala kemungkinan buruknya.

No posts to display

Recommended