Wednesday, July 17, 2019

Ataksia

Ataksia merupakan sebuah kondisi yang identik dengan ketidakteraturan gerakan tubuh, khususnya ketika otak kecil atau serebelum mengalami kerusakan. Ataksia juga dikenal sebagai sebuah kelompok keadaan neurologis yang menjadi penyebab kecacatan fisik, terutama seperti masalah gangguan keseimbangan tubuh, gangguan berjalan, gangguan pengucapan, gangguan menelan serta gangguan pada penglihatan. Tentu aktivitas normal yang kita lakukan sehari-hari pun turut terkena dampaknya.

Kerusakan pada otak kecil atau serebelum itulah yang menjadi pemicu dari kondisi ataksia, begitu juga dengan adanya kerusakan pada area lain untuk sistem saraf tubuh. Orang-orang dengan masalah ataksia ini, hal serius yang terjadi pada tubuhnya adalah ketika mereka mengalami kehilangan koordinasi serta menjadi kesulitan dalam melakukan rutinitasnya.

Jenis dan Gejala

Diperkirakan ada sekitar 50 lebih akan jenis ataksia, namun kita hanya perlu untuk mengenali jenis utamanya karena jenis-jenis utamanyalah yang menjadi kasus paling umum. Beberapa jenis kondisi ataksia antara lain adalah:

  • Ataksia Herediter – Ataksia bentuk atau jenis ini pada dasarnya adalah sebuah kondisi yang diwariskan. Gejala yang timbul bisa sampai bertahun-tahun ketika masalah dengan gen muncul.
  • Ataksia Akuisita – Ataksia jenis ini menimbulkan gejala yang secara mendadak terutama pasca terjadinya trauma atau cedera maupun kondisi lainnya yang berpengaruh pada otak dan sistem saraf. Hal ini bisa saja dialami oleh pasien penderita penyakit stroke.
  • ILOA/Idiopatic late onset ataxia cerebellar – Ataksia jenis ini adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh kerusakan progresif yang terjadi di otak kecil secara perlahan-lahan atau dari waktu ke waktu walau belum diketahui apa alasan jelas akan terjadinya jenis ataksia satu ini.

Tanda yang paling terlihat dan paling umum terjadi pada seseorang dengan ataksia adalah koordinasi dan keseimbangan tungkai yang bermasalah. Tanda itulah yang pertama kali akan tertangkap dan demi membuat keseimbangan bisa tersamarkan, maka penderita ataksia biasanya akan berjalan dengan kedua kaki yang cukup terbuka lebar alias jauh terpisah supaya bisa berjalan dengan baik. Untuk gejala lainnya yang secara umum dialami dan dikeluhkan adalah:

  • Sakit kepala
  • Perilaku yang mengalami perubahan.
  • Perubahan suara.
  • Cara bicara yang tak jelas; penderita biasanya mengalami disartria atau bicara cadel.
  • Sulit makan karena tak nyaman ketika harus menelan di mana hal ini disebut juga dengan istilah disfagia.
  • Gerakan mata yang terus berulang dan sulit dikendalikan.
  • Gaya berjalan yang tak stabil.
  • Sering tersandung saat berjalan.
  • Tangan sering gemetaran.
  • Kehilangan memori.
  • Sering cemas berlebih.
  • Depresi
  • Gangguan pada usus dan kandung kemih.
  • Kehilangan kekuatan pada lengan dan tungkai.

Selain itu, masih ada beberapa kemungkinan kondisi yang nampak dan dialami terutama oleh para anak dan remaja apabila mereka mewarisi ataksia Friedreich, yakni seperti kondisi berikut:

  • Diabetes
  • Gangguan pendengaran.
  • Skoliosis
  • Deformitas kaki di mana lengkungan kaki tinggi dan jari kaki menyerupai palu.
  • Gangguan pada jantung
  • Kehilangan penglihatan karena saraf optik yang mengalami kerusakan.

Kapan harus segera ke dokter?

Agar tidak terlambat dalam menangani ataksia, maka segeralah ke dokter apabila gejala-gejala berikut ini sudah mulai dialami. Apabila Anda berkemungkinan tidaklah menyadari bahwa sedang mengalami kondisi yang menyebabkan ataksia seperti halnya multiple sclerosis, temui dokter ketika beberapa keluhan di bawah ini Anda rasakan:

  • Sulit menelan.
  • Sulit berbicara dan menjadi cadel.
  • Kehilangan koordinasi pada bagian tangan, kaki serta lengan.
  • Kehilangan keseimbangan, terutama saat berjalan.
  • Sulit untuk berjalan.

Penyebab

Penting untuk kita ketahui bersama bahwa adanya sel saraf yang hilang pada bagian otak, maupun terjadinya degenerasi atau kerusakan pada otak yang berperan sebagai pengendali koordinasi otot akan menjadi penyebab timbulnya ataksia. Selain itu, penyakit yang menyebabkan kerusakan di sumsum tulang belakang berikut juga saraf perifer pun mampu menjadi pemicu ataksia.

Otak kecil atau serebelum pada manusia memiliki dua bagian yang besarnya seperti bola pingpong dari jaringan terlipat yang ada pada dasar otak yang posisinya tak jauh dari batang otak. Bagian kiri otak kecil bertugas utama sebagai pengendali koordinasi tubuh sebelah kiri, sedangkan bagian kanan otak kecil bertugas utama sebagaii pengendali koordinasi tubuh sebelah kiri.

Berikut ini adalah daftar penyebab ataksia yang perlu untuk menjadi kewaspadaan kita bersama:

  • Stroke. Saat suplai darah tak sampai ke otak dengan normal dan lancar, oksigen dan nutrisi tak bisa memenuhi otak sehingga akhirnya terjadilah kematian sel otak.
  • Trauma/cedera pada kepala. Pukulan atau benturan merupakan bentuk cedera atau trauma pada kepala yang mampu menjadi penyebab ataksia serebelum yang terjadi tiba-tiba.
  • Penyakit autoimun. Contoh-contoh jenis penyakit autoimun yang menjadi penyebab ataksia antara lain adalah sarkoidosis, penyakit celiac, multiple sclerosis dan lainnya.
  • Penggunaan obat tertentu. Obat penenang dan beberapa obat untuk kemoterapi mampu memberikan efek samping berbahaya seperti ataksia.
  • Tumor. Otak kecil dapat mengalami kerusakan karena munculnya tumor, baik itu yang bersifat kanker atau yang non-kanker.
  • Sindrom paraneoplastik. Kasus ini tergolong langka di mana ini adalah suatu kelainan degeneratif di mana respon sistem daya tahan tubuh terhadap tumor bersifat kankerlah yang memicu.
  • Infeksi. Komplikasi dari cacar air serta infeksi virus lainnya mampu menjadi salah satu faktor yang menyebabkan ataksia kemudian Anda alami. Bahkan kemunculan ataksia bisa saja terjadi justru pada waktu sedang masa pemulihan dari infeksi. Namun ataksia karena infeksi ini biasanya bisa sembuh dengan sendirinya lama-kelamaan.
  • Cerebral palsy. Kondisi satu ini merupakan efek dari kerusakan pada otak yang terjadi pada anak ketika dalam masa tumbuh kembang awalnya. Karena hal ini, si kecil pun akan memiliki gangguan dalam kemampuannya mengoordinasikan gerakan tubuh.

Pengobatan

Sebelum dokter mampu memberikan pengobatan yang paling tepat, maka penderita haruslah menempuh beberapa metode diagnosa atau pemeriksaan demi memastikan bahwa benar-benar ataksialah yang dialami melalui gejala-gejala yang muncul. Ada kemungkinan tes keseimbangan, tes memori, tes pendengaran, tes koordinasi, tes refleks, tes konsentrasi serta tes penglihatan diperlukan agar dokter mampu memberikan penanganan yang tepat.

Beberapa tes pemeriksaan lainnya yang dokter kiranya perlu lakukan agar mampu mengevaluasi gejala-gejala yang timbul antara lain adalah:

  • EMG atau Elektromiografi – Metode ini pun kiranya dipakai oleh dokter dalam melakukan pencatatan serta evaluasi akan kondisi aktivitas listrik pada otot pasien.
  • Tes Darah – Tes ini dilakukan dengan tujuan untuk mampu menentukan ada tidaknya peningkatan atau penurunan jumlah sel darah pada pasien. Hal inilah yang bakal menjadi faktor pembantu dokter dalam menilai kesehatan secara menyeluruh.
  • Tes Pencitraan – Tes berupa pemeriksaan MRI atau CT scan kiranya pun ikut dibutuhkan karena tes pencitraan inilah yang akan memberikan gambaran secara mendetil akan kondisi otak serta membantu dokter dalam melihat secara lebih dekat akan kerusakan yang terjadi di bagian otak.
  • Studi Konduksi Saraf – Tes pemeriksaan ini dilakukan dengan tujuan sebagai penentu apakah kinerja saraf berjalan dengan benar.
  • Ultrasound
  • Urinalisis

Setelah benar-benar terbukti bahwa ataksialah yang menjadi kondisi dibalik gejala-gejala yang dikeluhkan pasien, maka dokter pun baru bisa menentukan bentuk perawatan yang paling sesuai. Hanya saja, perlu diketahui bahwa ataksia sendiri tak bisa diobati secara khusus karena. Paling tidak, perawatan yang diberikan adalah berdasarkan pada penyebabnya.

Kalaupun dokter menawarkan bentuk perawatan tertentu, maka tujuan utamanya adalah sebagai pereda gejala, seperti rasa lelah, sakit kepala, serta sakit yang dialami pasien. Berikut ini adalah perawatan-perawatan yang kemungkinan diberikan oleh dokter untuk membantu kepulihan pasien.

  • Terapi Fisik

Dengan terapi fisik, maka ini akan otomatis membantu koordinasi tubuh penderita ataksia. Tak hanya itu, fungsi dan tujuan terapi fisik juga adalah sebagai peningkat mobilitas sehingga kegiatan sehari-hari dapat dilakukan dengan baik, terutama dalam aktivitas makan yang sebelumnya terasa begitu sulit dilakukan. Terapi fisik di sini pun meliputi terapi wicara di mana akan membantu dalam meningkatkan cara bicara agar tak lagi cadel dan memudahkan untuk proses menelan.

  • Perangkat Adaptif

Ketika kondisi ataksia disebabkan oleh jenis penyakit autoimun serta cerebral palsy, maka kemungkinan besar memang menjadi hal yang tak memungkinkan untuk mengobatinya. Jika demikian, maka beberapa perangkat adaptif akan direkomendasikan oleh dokter Anda, seperti halnya penggunaan alat bantu komunikasi agar memudahkan dalam berbicara, modifikasi peralatan makan agar lebih mudah untuk makan dan minum, serta tongkat atau alat bantu jalan supaya tak mudah limbung.

Ataksia bukanlah suatu kondisi yang ringan karena sulit untuk diobati. Bahkan ataksia meningkatkan risiko pengembangan depresi dan kecemasan pada penderitanya sehingga memang tergolong berbahaya. Kiranya dengan sekilas info ini, Anda bisa lebih mewaspadai gejala-gejala ataksia agar menanganinya secara cepat dan tepat.

No posts to display

Recommended