Fusipar – Fungsi – Obat Apa – Dosis Dan Efek Samping

341

Fusipar Cream adalah obat antibiotik topikal produksi PT Genero Pharmaceutical, yang digunakan untuk mengobati infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri, terutama bakteri Staphylococcus, Streptococcus. Fusipar Cream berguna untuk mengatasi impetigo, sikosis barbae (penyakit kulit di area janggut), dan infeksi sekunder (infeksi yang terjadi setelah kulit terluka).

Komposisi Fusipar Cream

Fusipar Cream mengandung asam fusidat 2% atau 20 mg/g

Mekanisme Kerja Fusipar Cream

Asam fusidat memiliki mekanisme kerja mencegah bakteri melakukan produksi protein yang  berperan penting bagi kelangsungan hidup bakteri. Tanpa adanya protein tersebut, bakteri tidak akan mampu mendapatkan nutrisi yang berguna bagi bertumbuh, replikasi, dan berkembang biak. Asam fusidat bekerja menghambat pertumbuhan bakteri, dimana bakteri tersebut akan mati akibat sistem imun pada tubuh manusia. Hal ini terjadi pada proses penyembuhan infeksi.

Indikasi Fusipar Cream

Fusipar cream digunakan untuk mengobati infeksi kulit primer, superfisial, non-ekstensif yang disebabkan oleh mikroorganisme yang peka terhadap asam fusidat, khususnya infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus. Infeksi kulit primer yang dimaksud adalah infeksi yang akan memberikan respon terhadap asam fusidat topikal, termasuk impetigo, infeksi folikel rambut (folikulitis), infeksi kulit di sekitar kuku (paronikia), luka yang terinfeksi, dan eczema.

Dosis Fusipar Cream

Fusipar Cream dioleskan tipis-tipis pada bagian yang terinfeksi sebanyak 3 – 4 kali hingga infeksi sembuh. Apabila dokter menginstruksikan agar luka dibalut dengan perban, maka aplikasikan obat lebih jarang, yaitu 1 – 2 kali sehari. Umumnya, pengobatan dilakukan dalam jangka waktu 7 hari.

Efek Samping

Fusipar Cream juga dapat mengakibatkan berbagai efek samping. Efek samping yang terjadi dapat bersifat ringan atau parah, temporer atau permanen. Efek samping yang umum terjadi adalah reaksi alergi pada tempat yang diaplikasikan, seperti kemerahan, bengkak, ruam kulit, dan/atau gatal, iritasi ringan pada area yang dioleskan, nyeri, dermatitis kontak, dan urtikaria. Apabila mengenai mata, maka dapat mengakibatkan rasa terbakar atau tersengat dalam mata yang tidak kunjung hilang.

Kontraindikasi

Fusipar Cream sebaiknya tidak digunakan pada orang yang mengalami hipersensitivitas atau alergi terhadap asam fusidat dan garamnya

Perhatian Khusus

  • Hindari pengaplikasian obat pada mata apabila obat digunakan pada bagian wajah. Sebab asam fusidat yang terkandung dalam Fusipar Cream akan menyebabkan iritasi konjungtiva. Apabila tidak sengaja mengenai mata, bilas dengan air yang banyak.
  • Segera konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter terkait dengan dosis obat yang akan digunakan. Dosis pada obat yang digunakan secara topikal akan dipengaruhi oleh faktor luas permukaan kulit.
  • Apabila dosis terlewat, maka segera gunakan obat sesegera mungkin saat teringat. Jangan gandakan dosis apabila dosis terlewat.
  • Simpan Fusipar Cream pada temperatur kamar dan jauhkan dari jangkauan anak-anak
  • Apabila setelah penggunaan topikal, infeksi tidak kunjung sembuh, maka segera gunakan obat sistemik (oral ataupun injeksi).
  • Fusipar Cream sebaiknya tidak diberikan pada infeksi yang disebabkan oleh organisme yang non rentan, seperti Pseudomonas aeruginosa.
  • Sebaiknya obat tidak digunakan selama masa kehamilan apabila manfaat lebih tinggi dibandingkan risiko. Maka, segera konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu terkait dengan penggunaan obat.

Kehamilan dan Menyusui

Kehamilan

Tidak ada efek selama masa kehamilan, karena obat diaplikasikan secara topikal.

Menyusui

Pada bayi yang baru dilahirkan, belum ada studi yang menunjukkan efek karena umumnya paparan topikal tidak akan memiliki efek terhadap si bayi.

Cara Penggunaan Fusipar Cream

  1. Cuci tangan terlebih dahulu sebelum menggunakan obat.
  2. Krim dioleskan secara merata dan tipis pada bagian tubuh yang terinfeksi dengan frekuensi sejumlah 3 hingga 4 kali sehari, sesuai dengan instruksi dokter
  3. Cuci tangan setelah mengoleskan krim pada area yang terinfeksi, kecuali tangan sedang dalam keadaan terinfeksi.
  4. Gunakan obat setiap hari sesuai petunjuk dari dokter. Menghentikan pengobatan lebih cepat akan menyebabkan infeksi kembali menyerang dan meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri yang resisten terhadap antibiotik.