Wanita Ini Koma Tiga Hari Gara-gara Perut Terobek Sabuk Pengaman

167

Berkendara apalagi dengan roda empat menganjurkan kita untuk selalu memakai sabuk pengaman yang fungsi utamanya adalah sebagai penyelamat di kala kecelakaan terjadi. Namun rupanya, sabuk pengaman bisa menjadi penyebab hal tak menyenangkan dan menyakitkan untuk seorang wanita bernama Gina Arnold.

Secara tak sengaja memang dirinya sempat menabrakkan mobilnya, ia selamat, tapi sayangnya sabuk pengaman bukannya mengamankan dirinya tanpa luka malah justru ‘memotong’ perutnya. Dinding abdomen wanita ini terbuka sehingga organ dalamnya terekspos karena terobek oleh sabuk pengaman yang ia pakai sehingga dirinya harus alami koma selama tiga hari.

Dari robekan abdomen tersebut, organ dalam yang terekspos memiliki risiko tinggi untuk rusak dan kena infeksi. Gina pun perlu menempuh 21 operasi dan tetap berkemungkinan mengalami efek cedera seumur hidup. Wanita yang dulunya merupakan seorang atlet ini sangat sedih dengan kondisi dirinya tersebut karena ia tak lagi bisa menjadi seorang atlet.

Dilansir dari People, Gina mengatakan bahwa dirinya tak menduga bahwa ia bakal merasakan sakit setiap hari yang berkepanjangan seperti itu. Ia juga mengakui bahwa sangat frustasi karena di usianya yang masih 21 tahun tapi sudah terbatas dan tak mampu melakukan segala hal yang umumnya orang seusianya lakukan. Karena kecelakaan tersebut, ia merasa bahwa energinya seperti energi usia 90 tahunan.

Operasi yang ia harus jalani berjalan selama 8 jam namun memang pemasangan mesh di tempat dinding abdomen berada ini tak menjamin bahwa metode ini bakal bekerja maksimal untuk dirinya. Dirinya pun mengungkapkan bahwa tak tahu lagi apa yang perlu dilakukan kalau mesh-nya sampai robek karena tak ada rencana B untuk itu.

Usai operasi pemasangan mesh, ia harus menjaganya dengan baik dan ekstra hati-hati supaya tak robek. Jika sampai mesh robek, sisa ototnya pun akan ikut terobek. Hanya saja, Gina yang sempat merasa sedih dan down, sudah berusaha bangkit kembali dengan rajin mengikuti terapi. Ia juga terus mengingatkan diri sendiri untuk tetap bersyukur karena ia masih hidup.

Meski sudah ditangani melalui operasi pemasangan mesh, ia masih perlu mengganti cara makannya dan dirinya pun tak bisa berdiri dalam waktu lama. Meski sudah tak dapat menjadi atlet lagi, Gina memilih untuk kuliah dan berharap ke depannya bisa menjadi seorang psikolog olahraga supaya murid-muridnya belajar tentang perjuangan yang maksimal karena kita tak tahu kapan momen terakhir bermain di pertandingan.