Tuesday, June 18, 2019
Home Penyakit dan Kelainan Urtikaria Pigmentosa

Urtikaria Pigmentosa

Urtikaria pigmentosa merupakan sebuah jenis gangguan kesehatan kulit yang sebenarnya alergi menjadi mediasinya sehingga menjadikan kulit gatal dan luka lecet. Sel mast di kulit yang terlalu banyak adalah tanda dari kondisi ini di mana sel mast sendiri adalah sel biang atau bisa juga disebut dengan mastosit. Sel mast atau mastosit ini merupakan sel dengan kandungan granula di dalamnya yang kaya akan heparin dan juga histamin.

Sel mast sendiri pun masih menjadi bagian dari sistem daya tahan tubuh manusia, namun karena kaya heparin dan histamin sel-sel tersebut menjadi penghasil radang melalui pelepasan zat histamin untuk merespon kuman dan juga penyerang lain di dalam tubuh. Penyakit urtikaria pigmentosa sendiri paling kerap terjadi pada bayi dan anak-anak, namun tak menutup kemungkinan orang dewasa mengalaminya juga.

Pada anak-anak, urtikaria pigmentosa pada umumnya akan hilang seiring berjalannya waktu dan saat anak beranjak remaja karena pubertas. Walau begitu, penyakit ini tak boleh disepelekan karena ada kemungkinan bahwa penyakit ini bisa memicu sarkoma sel mast dan leukemia sel mast yang merupakan bentuk kanker dengan risiko yang kecil.

Penyebab dan Gejala

Belum diketahui secara pasti apa saja faktor penyebab utama dari urtikaria pigmentosa ini dan diduga bahwa faktor genetik berperan besar dalam terjadinya penyakit ini pada beberapa kasus. Karena terjadi pada anak, maka kemungkinan bahwa anak mewarisi gen abnormal dari salah satu orang tua cukup besar atau bahkan adanya mutasi gen. Meski demikian, beberapa kasus lain tidaklah berasal dari penyebab genetik karena bentuk warisan urtikaria pigmentosa ini pun tergolong jarang dan langka sebab hanya kurang lebih 50 kasuslah yang dilaporkan.

Saat lesi digosok, dokter tahu betul bahwa histamin akan terlepas dan histamin ini akan mulai mengeluarkan respon imun. Sistem daya tahan tubuh pada umumnya akan aktif sebagai respon terhadap kuman atau adanya kondisi penyerang lainnya. Namun sebenarnya pada penyakit urtikaria pigmentosa ini tak ada benda asing yang menyerang, namun respon imun pun mengakibatkan lesi gatal di permukaaan kulit.

Setelah menengok faktor penyebab dari urtikaria pigmentosa, tentu penting juga untuk mengenali setiap kondisi yang kiranya menjadi tanda penyakit ini. Gejala utama pada kondisi urtikaria pigmentosa adalah lesi kecoklatan yang muncul pada permukaan kulit dan saat digosok histamin akan terlepas sehingga menghasilkan gatal terus-menerus disertai luka lecet. Selain itu, ini dia beberapa kondisi lain yang perlu diperhatikan:

  • Kemerahan pada kulit.
  • Pruritus
  • Overpigmentasi lesi di mana lesi memiliki warna yang sangat gelap.

Gejala-gejala tersebut lebih sering terjadi pada anak, sedangkan untuk urtikaria pigmentosa pada orang dewasa menunjukkan adanya gejala-gejala lain yang justru tidak biasa dan cukup mengkhawatirkan, seperti halnya:

  • Mual
  • Muntah
  • Takikardia atau detak jantung sangat cepat.
  • Diare
  • Sakit kepala.
  • Hilang kesadaran atau pingsan.

Pengobatan

Setelah munculnya gejala yang tak biasa, segeralah menemui dokter untuk memeriksakan diri serta memastikan kondisi apa yang mendasari gejala-gejala tersebut. Beberapa metode diagnosa pun perlu dijalani pasien dan diagnosa pun biasanya berdasar pada pengamatan lesi. Ketika lesi kelihatan berbeda dari orang-orang lain dan kurang begitu umum, ada kemungkinan bahwa lesi tersebut adalah tanda kanker, seperti:

  • Karsinoma sel basal di mana lesi yang ada pada lapisan luar kulit.
  • Melanoma di mana kanker kulit ini adalah yang paling berbahaya dan berisiko mengancam jiwa.
  • Keratosis aktinik di mana kulit bersisik dan biasanya dipicu oleh paparan sinar matahari yang terlalu lama dan sudah bertahun-tahun.

Dokter akan melakukan pemeriksaan terhadap lesi yang timbul pada kulit pasien, terutama bila lesi tersebut tak biasa untuk kanker. Dokter perlu mengambil sampel kulit kecil lebih dulu untuk dianalisa melalui uji mikroskopik dan biopsi kulit kiranya penting dalam metode diagnosa demi mengetahui pasti apakah penderita mengalami urtikaria pigmentosa.

Setelah melalui proses diagnosa, maka barulah dokter bisa memberikan pengobatan yang sesuai dengan gejala yang dialami penderita. Tujuan pengobatan itu sendiri adalah untuk membuat gejala lebih ringan sekaligus sebagai pengontrol lesi. Tergantung jumlah lesi serta ketahanan tubuh pasien, dokter baru bisa memberikan rekomendasi pengobatan khusus.

  • Kortikosteroid topikal. Obat ini diberikan dalam bentuk krim atau gel yang di dalamnya bersifat anti-inflamasi tinggi.
  • Antihistamin. Tujuan pemberian obat ini adalah sebagai pereda gatal dan membuat kemerahan pada kulit berkurang dan hilang.
  • Fluocinolone acetonide. Obat ini merupakan bentuk kortikosteroid sintetis.
  • Kortikosteroid intralesi. Obat ini diberikan melalui suntikan yang dilakukan bersama dengan obat steroid anti-inflamasi.
  • Terapi cahaya/helioterapi. Bentuk pengobatan ini lebih umum diberikan kepada orang dewasa di mana penggunaan radiasi ultraviolet dilakukan dan hasilnya pun terbukti efektif.
  • Chlorpheniramine maleate. Antihistamin ini adalah obat yang digunakan sebagai pengontrol reaksi alergi pada penderita.

Beberapa tips lainnya pun perlu diperhatikan oleh setiap penderita urtikaria pigmentosa agar masa pemulihan bisa lebih cepat dengan obat-obat yang telah diresepkan dan diberikan oleh dokter.

  • Tidak menggosok-gosok kulit.
  • Tidak boleh menggaruk lesi karena justru semakin digaruk akan semakin banyak histamin yang dilepaskan untuk membuat reaksi lebih besar.
  • Tidak menyentuh apalagi menggaruk luka lecet.
  • Menghindari obat-obatan tertentu, seperti kodein, aspirin, dan opiat.
  • Membatasi asupan alkohol sebab penggunaan alkohol hanya akan meningkatkan risiko urtikaria pigmentosa.

Komplikasi

Bila gejala urtikaria pigmentosa sampai terabaikan di mana tidak langsung diperiksakan dan diobati dengan benar, sama halnya dengan jenis penyakit kebanyakan, selalu ada risiko komplikasi yang perlu dikhawatirkan. Kondisi penyakit ini memang pada sebagian besar kasus hanyalah berpengaruh pada kesehatan kulit namun organ lainnya pun bisa terkena dampaknya. Organ-organ yang kemungkinan bisa memperoleh dampak dari penyakit ini antara lain adalah:

  • Limpa
  • Sumsum tulang belakang
  • Hati

Meski pengobatan pun juga dilakukan tepat waktu, waspadai betul akan adanya kondisi efek samping yang berasal dari obat-obatan tersebut. Alangkah baiknya berkonsultasi sedetil-detilnya dengan dokter Anda untuk menanyakan apa saja kemungkinan efek samping dari obat yang diberikan sekaligus juga cara mengatasinya agar bisa diwaspadai dari awal. Efek samping yang dimaksud di sini meliputi:

  • Resistansi insulin.
  • Diabetes melitus.
  • Sindrom kulit merah.

Adakah cara agar urtikaria pigmentosa tidak sampai terjadi alias bisakah penyakit ini dicegah? Tak ada cara pasti tentang bagaimana mencegahnya, hanya saja agar kondisi tak makin buruk, pastikan untuk tidak mengenakan pakaian dari bahan yang mudah membuat kulit gatal, memotong kuku agar tetap pendek, berendam di air hangat, dan menghindari mandi dengan air terlalu panas karena hanya akan membuat kulit kering di mana rasa gatal makin menjadi-jadi.

No posts to display

Recommended