6 Definisi Epilepsi Menurut WHO dan Fakta Menarik Lainnya

√ Verified Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Definisi epilepsi menurut WHO adalah gangguan kronik otak yang menunjukkan adanya beberapa gejala berupa serangan-serangan yang terjadi secara berulang-ulang sebagai akibat adanya ketidaknormalan kerja sementara sebagian atau seluruh jaringan otak karena cetusan listrik pada neuron yang peka terhadap rangsang secara berlebihan dan dapat menimbulkan kelainan sensorik, motorik, serta psikis yang timbul secara tiba-tiba dan sesaat oleh karena lepasnya muatan listrik abnormal sel-sel otak.

Epilepsi atau dengan bahasa lain epilambenein merupakan kata yang berasal dari bahasa Yunani. Makna dan arti kata tersebut yaitu sesuatu yang dapat menimpa penderita dari luar dan menyebabkan dia menjadi terjatuh. Menurut Mutiawati kata tersebut menunjukkan bahwa komplikasi epilepsi bukanlah merupakan suatu serangan yang disebabkan oleh penyakit melainkan disebabkan oleh sesuatu di luar tubuh penderita yaitu kutukan dari roh jahat.

Tetapi pada masa sekarang definisi tersebut telah berubah menjadi adanya gangguan pada fungsi otak seseorang dimana hal ini terjadi secara berkala. Selain itu penyebabnya adalah akibat pelepasan dari muatan listrik berlebihan yang dalam arti kata lain kurang teratur. Pelepasan muatan listrik ini dilakukan oleh sel-sel otak secara tiba-tiba atau mendadak. Kondisi ini mengakibatkan penerimaan dan pengiriman impuls antara otak ke tubuh menjadi terganggu.

Gangguan ini terjadi dengan disertai beberapa macam gejala klinis. Adapun masih banyak hal mengenai definisi epilepsi menurut WHO agar dapat diterima dan dipahami oleh masyarakat awam. Berikut beberapa hal yang perlu Anda ketahui mengenai epilepsi.

1. Epidemiologi

Secara epidemiologi, arti kata epilepsi sendiri merupakan kelainan yang bersifat neurologis dan sifatnya juga kronik. Faktor resiko epilepsi bisa terjadi pada siapa saja baik pada pria maupun wanita dengan rentang usia yang bermacam-macam mulai dari golongan anak-anak hingga dewasa. Insiden epilepsi yang terjadi tiap tahun di dunia berkisar antara 33 hingga 198 tiap 100.000 penduduk.

Terjadinya epilepsi ini jika dilihat secara detail menurut data dari WHO lebih banyak terjadi di negara yang sedang berkembang. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor kondisi serta resiko terjadinya cedera otak yang cenderung lebih tinggi bila dibandingkan dengan negara maju atau industri. Insiden epilepsi tertinggi cenderung terjadi pada anak-anak dikarenakan penyakit neurologis utama seringkali terjadi pada kelompok usia anak-anak.

Selain itu muncul pula pernyataan dari Rizaldi Pinzon bahwa fenomena gejala epilepsi ini setiap tahunnya cenderung makin tinggi. Jenis epilepsi yang seringkali terjadi pada anak-anak adalah epilepsi umum. Kejadian epilepsi ini semakin menurun pada orang dewasa.

Selain itu bila ditinjau dari jenis kelamin maka pria dikatakan lebih beresiko mengalami epilepsi dibandingkan wanita. Hal ini terbukti dari adanya penelitian yang dilakukan oleh Jacob Kristensen dan teman-temannya sehingga membuahkan pernyataan bahwa epilepsi fokal simptomatik lebih banyak diderita oleh pria sedangkan epilepsi fokal kriptogenik dan epilepsi umum atau idiopatik lebih banyak diderita oleh wanita.[AdSense-B]

2. Prevalensi

Laporan WHO memperkirakan bahwa pada tahun 2000 jumlah penderita epilepsi di seluruh dunia berjumlah 50 juta orang dan sekitar 80% darinya tinggal di negara berkembang. Sedangkan prevalensi epilepsi di Indonesia berkisar antara 0,5% hingga 2%.

Selain itu menurut Departemen Kesehatan pada tahun 2006 disebutkan bahwa sekitar 1,1 hingga 1,3 juta penduduk Indonesia mengalami penyakit epilepsi. Kebanyakan jenis gejala awal epilepsi yang dialami oleh penderita adalah jenis idiopatik.

Epilepsi jenis ini umumnya terjadi pada seseorang dengan rentang usia 10 hingga 20 tahun. Adapun prevalensi di seluruh dunia berbeda. Perbedaan ini dipengaruhi oleh ras, lingkungan alam, dan lingkungan sosial. Selain itu prevalensi epilepsi pada anak di bawah usia 16 tahun dilaporkan berpeluang lebih besar terjadi bila dibandingkan dengan kelompok dewasa.

3. Gejala

Definisi epilepsi menurut WHO disebut memiliki gejala yang menyerupai gangguan histeria. Gangguan ini berupa hilangnya kesadaran sekaligus kontrol seseorang terhadap anggota tubuhnya sendiri. Epilepsi sendiri merupakan gangguan yang terjadi sebagai akibat dari adanya seluruh atau sebagian otak yang tidak dapat berfungsi dengan normal dan baik.

Ketidaknormalan fungsi otak ini bisa dilihat dengan menjalani pemeriksaan EEG atau elektro ensefalografi serta bisa juga diketahui dengan menjalani MRI atau magnetic resonance imaging. Pada penderita epilepsi adanya histeria yang muncul tidak disertai dengan gangguan fisik sehingga gejala-gejala tersebut tidak dapat dijelaskan penyebabnya secara pasti.[AdSense-A]

Namun beberapa pakar berpendapat bahwa histeria bisa saja terjadi karena adanya kondisi psikologis seseorang yang sedang mengalami berbagai maslah sehingga menimbulkan stres pada dirinya.

4. Prognosis

Penyebab penyakit epilepsi tentunya dapat memberikan dampak negatif bagi kondisi fisik dan psikis penderitanya. Akibatnya perkembangan psikologis penderita epilepsi menjadi terganggu. Berbagai bentuk prasangka buruk akan muncul dalam dirinya misalnya seperti malu, rendah diri, hilangnya kepercayaan diri, dan lain sebagainya.

Keadaan ini pada akhirnya akan membuat dirinya tidak bisa menerima diri sendiri dan merasa dikucilkan oleh masyarakat di sekitarnya. Perasaan ini lambat laun akan menimbulkan depresi yang berkepanjangan. Padahal sebenarnya respon penerimaan diri sangatlah dibutuhkan oleh penderita epilepsi dalam menjalani kelangsungan hidupnya.

Sikap penerimaan diri dapat ditunjukkan dengan pengakuan terhadap kelebihan yang dimiliki serta menerima kelemahan tanpa menyalahkan orang lain. Sikap penerimaan diri juga akan ditunjukkan melalui berbagai hal yang dilakukan oleh seseorang untuk terus mengembangkan dirinya.

5. Komorbid

Kebanyakan epilepsi muncul dengan disertai oleh berbagai penyakit yang menjadi komorbiditasnya. Misalnya seperti sakit kepala, depresi, serta ansietas. Berbagai keluhan tersebut dapat menyebabkan gangguan pada penderita dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Keadaan ini pada akhirnya menyebabkan gejala epilepsi lebih sering menyerang sehingga kondisi epilepsi semakin diperparah. Dalam hal ini sakit atau nyeri kepala dan epilepsi merupakan komorbiditas yang cukup kuat. Bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa 55,7% dari data epilepsi yang dialami seseorang cenderung digambarkan dengan adanya kondisi migren atau nyeri kepala sebagian.

Selanjutnya sebesar 36,5% mengalami epilepsi dengan kondisi nyeri kepala berupa tegang. Oleh karena itu munculnya epilepsi seringkali diidentikkan dengan munculnya sakit kepala yang disertai beberapa gejala tertentu lainnya termasuk histeria.

6. Patofisiologi

Otak terdiri dari neuron penghubung yang berjumlah jutaan dan saling berhubungan. Umumnya hubungan antarneuron ini terjalin dengan adanya impuls listrik serta dengan bantuan zat kimia yang disebut dengan istilah neurotransmitter. Aliran impuls antarneuron pada seseorang yang berada dalam kondisi normal akan berlangsung dengan cepat dan lancar serta berjalan secara kontinu. [AdSense-C]

Namun pada saat seseorang mengalami ciri-ciri epilepsi pada anak maka sarafnya akan bereaksi secara abnormal. Artinya dalam hal ini mekanisme otak yang berfungsi untuk mengatur proses komunikasi antara saraf dan otak mengalami gangguan.

Hal ini diduga terjadi karena dipengaruhi oleh suatu zat bernama glutamat yang cenderung mendorong seseorang untuk bersikap aktif secara berlebihan. Selain itu zat gammaaminobutyric acid juga diduga turut berpengaruh memperlambat aliran impuls antarneuron.

Definisi epilepsi menurut WHO yang mengacu pada kelainan neurologis kronik berpeluang besar dialami oleh siapapun. Oleh karena itu sebaiknya tingkatkan kewaspadaan terhadap epilepsi serta lakukan pencegahan sedini mungkin. Dengan demikian kemungkinan timbulnya hal tersebut dapat lebih diminimalkan.

fbWhatsappTwitterLinkedIn