Wednesday, September 18, 2019
Home Penyakit dan Kelainan Asfiksia Neonatorum

Asfiksia Neonatorum

Asfiksia neonatorum diketahui juga sebagai sebuah kondisi di mana bayi baru lahir mengalami gagal nafas dan penyebab utamanya adalah asupan oksigen yang tak memadai baik itu dari sebelum kelahiran, selama proses kelahiran atau bahkan sesudah persalinan. Ada banyak penyebab tubuh kekurangan oksigen, namun pada kasus ini kegagalan pernafasan pada bayi baru lahir ini terjadi dalam waktu 1 menit sesudah kelahiran biasanya.

Kondisi ini juga disebut sebagai kondisi darurat neonatal karena mampu menjadi faktor penyebab hipoksia atau suplai oksigen menuju otak yang menurun. Kerusakan otak pun menjadi bahaya cukup besar dan bahkan bisa berujung kematian pada bayi apabila tak segera memperoleh penanganan yang tepat secepatnya. Bayi dengan asfiksia neonatorum pada umumnya akan menunjukkan ciri tubuh yang tak bergerak sama sekali karena dalam kelemasan ekstrem.

Penyebab

Sejumlah faktor dapat menyebabkan asfiksia neonatorum pada bayi yang baru lahir sehingga menjadi kesulitan untuk mendapatkan pasokan oksigen yang cukup. Supaya risiko dari asfiksia neonatorum dapat diperkecil, maka dokter perlu sangat berhati-hati dalam proses pengaturan kadar oksigen untuk bayi sekaligus untuk sang ibu.

Apa kira-kira faktor yang mendasari terjadinya gagal nafas ketika bayi dilahirkan atau sesudah lahir? Berikut ini merupakan daftar beberapa faktor risiko yang kita perlu ketahui bersama.

  • Sang ibu sendiri tak memperoleh oksigen secara cukup baik sebelum persalinan maupun selama proses melahirkan berlangsung.
  • Persalinan berlangsung terlalu sulit.
  • Persalinan berlangsung terlalu lama.
  • Bayi memiliki anemia di mana itu artinya sel darah di dalam tubuhnya tak mampu membawa oksigen secara cukup.
  • Terdapat hambatan pada jalan pernapasan bayi.
  • Tali pusat di sekitar bayi tidak membungkus secara tepat atau berada pada posisi yang tak semestinya.
  • Pemisahan plasenta dari rahim tergolong lebih cepat sehingga kehilangan oksigen menjadi efeknya.
  • Ibu atau bayi mengalami infeksi.
  • Sang ibu memiliki tekanan darah tinggi atau justru mengidap tekanan darah rendah sewaktu persalinan.
  • Bayi dilahirkan secara prematur.
  • Bayi lahir dari seorang ibu penderita preeklampsia dan diabetes mellitus.
  • Faktor usia ibu ketika melahirkan.
  • Faktor berat lahir bayi yang sangat rendah.
  • Ibu tinggal di negara berkembang di mana akses terhadap perawatan sebelum dan sesudah persalinan lebih sedikit.

Gejala

Gejala kemungkinan tak akan dirasakan atau dialami oleh bayi baru lahir segera, namun indikasi paling utama yang perlu diketahui adalah denyut nadi janin yang dapat terlalu rendah atau malah terlalu tinggi. Namun pada beberapa kasus, bayi bisa saja setelah dilahirkan mengalami gejala langsung. Gejala yang dimaksud di sini meliputi:

  • Kelemahan otot.
  • Detak jantung yang lambat.
  • Sulit bernapas atau sesak nafas.
  • Warna kulit berubah memucat atau bahkan menjadi berwarna kebiruan.

Penting untuk segera memberikan pertolongan pada bayi karena bayi tanpa oksigen terlalu lama sedikit mampu memperburuk kondisi sang bayi. Gejala-gejala yang dialami mampu menjadi lebih parah dengan ketiadaan suplai oksigen secepatnya.

Gejala-gejala yang lebih serius tentunya akan lebih berbahaya dan lebih mengancam jiwa. Tanpa oksigen yang segera diberikan sebagai bantuan medis, paru-paru bayi, berikut juga bagian ginjal, otak serta jantungnya mampu mengalami disfungsi atau cedera yang artinya dapat membahayakan nyawa bayi.

Diagnosa dan Pengobatan

Skor Apgar dalam hal ini turut terlibat karena bayi biasanya setelah kelahiran akan menerima skor Apgar kurang lebih 1-5 menit. Pemberian skor Apgar ini berdasarkan pada 5 buah faktor, yakni bentuk otot bayi, respon terhadap stimulus, penampilan bayi, denyut nadi, serta pernapasan.

Skor Apgar sendiri adalah metode yang diketahui sebagai cara sederhana dalam menilai keadaan bayi sewaktu lahir. Dengan metode penilaian inilah, dokter dapat menentukan kondisi kesehatan bayi saat itu. Pada setiap faktor yang sudah disebutkan tadi, ada skor 0-2, jadi skor secara total adalah 10 bila memang bayi lahir secara sehat dan sempurna.

Sementara jika skor Apgar bayi tersebut tak sampai 10, otomatis risiko menderita asfiksia neonatorum lebih tinggi. Jika skor tak sampai angka 7, inilah yang menandakan bahwa sang bayi tak mendapatkan cukup oksigen. Ketika lebih dari 5 menit pasca kelahiran skor Apgar bayi memiliki skor 3 ke bawah, dokter pun akan memiliki dugaan akan asfiksia neonatorum. Selain itu, tes darah juga diperlukan dalam pemeriksaan.

Untuk mengobati kondisi seperti ini, harus dilihat lebih dulu akan tingkat keparahan dari gejala yang bayi alami. Perawatan yang akan didapat, digolongkan menjadi 3, sebelum, selama maupun setelah kelahiran bayi. Jadi, seperti berikut ini perawatan yang kemungkinan didapat:

  • Sebelum Persalinan

Tambahan oksigen untuk ibu sebelum melahirkan yang tujuannya juga adalah untuk membuat oksigenasi pada bayi sebelum dilahirkan dapat meningkat. Dengan begitu, saat proses persalinan dan juga pasca kelahiran, bayi dalam kondisi yang baik tak kekurangan oksigen.

  • Selama Persalinan

Operasi caesar juga menjadi pilihan untuk pengobatan yang paling potensial ketika proses kelahiran sangatlah sulit dan memakan waktu sangat lama. Apabila terdeteksi bahwa pasokan oksigen kurang memadai dari plasenta, maka tentunya bayi jelas akan menderita asfiksia. Selain operasi caesar, penggunaan forsep juga akan turut mendukung persalinan darurat yang bertujuan menyelamatkan sang bayi maupun sang ibu.

  • Sesudah Persalinan

Dibutuhkan adanya ventilasi untuk si kecil sebagai cara mengatasi kekurangan oksigen dan membuat pernapasan dapat tertunjang dengan baik. Hal ini juga biasanya disertai dengan menjaga bayi untuk tetap hangat. Dokter pun akan melanjutkan dengan pengecekan tekanan darah si kecil berikut juga memberikan asupan cairan yang cukup. Dengan begitu, bayi baru lahir akan memperoleh oksigen yang cukup.

Obat anti-inflamasi, vitamin dan magnesium merupakan pemberian terapi obat yang dokter biasanya akan berikan ketika bayi mengalami kejang saat telah diketahui menderita asfiksia neonatorum. Dalam masa pengobatan ini, dokter perlu melakukannya secara ekstra hati-hati demi mencegah terjadinya cedera dampak kejang-kejang tersebut.

Adakah cara mencegah asfiksia neonatorum?

Ya, antisipasi tentu dapat dilakukan dan menjadi kunci dalam mencegah asfiksia neonatorum agar tidak terjadi. Selama masa kehamilan pemantauan bisa dilakukan dengan cara memeriksa kondisi kehamilan secara rutin. Jika memang sang ibu memiliki risiko tinggi memiliki janin dengan asfiksia, saat melahirkan perlu untuk berada di unit perawatan intensif neonatal agar dapat mengatasi kondisi asfiksia tersebut. Untuk resusitasi, intervensi oleh petugas medis haruslah memadai sehingga juga perlu dipersiapkan dengan baik di hari-H persalinan.

Supaya dapat menyelamatkan sang bayi dari asfiksia neonatorum, maka diperlukan diagnosa awal saat ibu tengah hamil tua. Sang ibu hamil juga membutuhkan perawatan dini supaya juga mampu meminimalisir risiko komplikasi yang berbahaya.

No posts to display

Recommended