Monday, January 21, 2019

Ablasio Retina

Ablasi berasal dari bahasa Latin “Ablatio” yang berarti pembuangan atau terlepasnya salah satu bagian badan (Vaughan dalam Ramzi Amin:2013). Pada bagian Retina terdapat selembar tipis jaringan saraf yang semitransparan dan terdiri dari beberapa lapis.

Lapisan ini melapisi bagian dalam dua per tiga belakang bola mata. Retina memiliki sel-sel batang dan kerucut pada lapisan fotoreseptor. Fotoreseptor ini berperan mengubah ransangan cahaya menjadi impuls saraf lalu dihantarkan oleh retina pada saraf optikus lalu ke korteks penglihatan.
Pengertian Ablasio Retina
Ablasi atau Ablasio Retina adalah terlepasnya sel kerucut dan batang retina dari sel epitel pigmen retina. Ablasi pada retina akan mempengaruhi penglihatan seperti ada bayangan yang mengaburkan pandangan. Dalam keadaan normal fotoreseptor berfungsi sebagai adaptasi cahaya. Pada siang hari yang berfungsi adalah fotoreseptor kerucut, menjelang sore-malam adalah fotoreseptor kerucut dan batang lalu pada malam hari yang bekerja adalah fotoreseptor batang.

Efek Penyaki Ablasio Retina

Apabila keadaan ablasi retina semakin memburuk maka berpotensi menyebabkan kebutaan. Ablasi disebabkan oleh cidera mata atau wajah rabun jauh ekstrem (retina tipis sehingga yang lebih rentan untuk terlepas), ada cairan, nanah dan operasi LASIK.

Faktor risiko dan penyebab Ablasi pada retina
Dalam penelitian American Optomeric Association dijelaskan bahwa faktor risiko sering terjadi pada ablasio retina adalah:

miopia (40% – 55%),
aphakia (30% -40%), dan
trauma okular (10% -20%).

Sedangkan penyebab Ablasio retina disebabkan oleh trauma proses penuaan, diabetes berat dan peradangan mata. Penelitian American Optomeric Association ini juga menjelaskan bahwa trauma secara signifikan meningkatkan risiko ablasi retina karena menghasilkan cairan retina atau dialisis. Data dari 90% kasus traumatik menunjukkan tingkatan yang cukup banyak terjadi pada pria dengan rata-rata usia 25 tahun.

Penelitian lain yang menyanggah risiko dominan pada laki-laki dilakukan oleh Beijing Rhegmatogenous Retinal Detachment Study Group,  yang menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara jumlah penderita ablasi retina pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Walaupun pada kasus-kasus terkini, jumlah penderita ablasi diderita lebih banyak oleh pria.

Irina Gout (Oxford University) menjelaskan bahwa Miopi berisiko menyebabkan ablasi retina dan pemanjangan sumbu aksial secara signifikan. Panjang aksial terkait dengan tinggi badan dan laki-laki cenderung lebih tinggi daripada perempuan. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Sidarta Ilyas (2004) yang menjelaskan bahwa panjang bola mata menentukan keseimbangan dalam pembiasan. Panjang bola mata seseorang dapat berbeda-beda. Kelainan perbedaan panjang bola mata ini terjadi saat pembiasan sinar karena adanya perubahan panjang (lebih panjang atau lebih pendek) bola mata, sehingga sinar normal tidak dapat terfokus pada mekula. Keadaan ini disebut sebagai ametropia yang dapat berupa miopia, hipermetropia, atau astigmatisma.
Jenis Ablasi Retina

Ablasio RetinaRegmatogenosa

Ablasi Retina Regmatogenosa disebabkan karena terjadi robekan di retina sehingga cairan masuk ke belakang antara sel pigmen epitel dan retina. Kerusakan yang paling sering terjadi adalah “traksi vitreous”. Traksi ini secara fisik menarik bagian kecil sensor retina dari pigmen epitel, sehingga terdapat cairan pada retina. Ablasi retina Regmatogenosa disebabkan oleh cairan pada retina traksi vitreous yang menyebabkan masuknya cairan antara retina sensoris dan pigmen epitel.

Ablasio Retina Traksi

Ablasio Retina Traksi disebabkan oleh retinopatidiabetes proliferatif, vitreoretinopati proliferatif, retinopati pada prematuritas, atautrauma mata.

Ablasio Retina Serosa

Ablasio Retina Serosa disebabkan karena terdapat cairan di bawah retina sensorik. Cairan ini disebabkan karena penyakit epitel pigmen retina dan koroid.
Gejala Ablasio Retina
Gejala yang ditimbulkan dari Ablasi Retina ini bermacam-macam, terdapat gejala secara klinis, gejala subyektif dan gejala objektif. Dalam penelitian Amin, 2013 disebutkan gejala umum Ablasi Retina yang diderita pasien ablasi, berikut gejala yang dijelaskan Amin,2013:

a. Gejala Klinis

Floaters : ini menyerupai keadaan dimana seseorang melihat suatu benda yang melayang. Gejala ini dijelaskan secara medis karena terjadi kekeruhan di Vitreus, oleh gumpalan darah.
Photopsia Light : terdapat kilatan cahaya sekalipun tidak ada sumber cahaya di sekitarnya. Keadaan ini biasa terjadi pada ruangan gelap dimana seseorang menggerakkan matanya saat itu juga.
Penglihatan menurun : Keadaan ini ditandai dengan keluhan penglihatan seperti tertutup tirai dengan frekuensi luas tutupan yang bertambah terus setiap hari.
Tirai Parabola : Pada kasus ini, mucul tirai sebesar parabola naik secara perlahan dari bagian bawah bola mata dan naik secara perlahan hingga menutupi seluruh bola mata.

b. Gejala subyektif

Pada gejala ini penderita melihat kilatan cahaya dan juga merasa ada tirai yang menutup kcedua bola matanya. Menurut Ilyas, S (2008) penderita ablasi akan merasakan melihat tirai yang menutupi matanya karena proses cairan ablasi yang bergerak mencari tempat rendah. Jika terjadi ablasi total ditandai dengan tirai parabola yang menatap seluruh bola mata sehingga cahaya yang ditangkap 0-Persepsi 0 (Wijana:1993 dalam Amin:2013).

c. Gejala objektif ditandai dengan

Bagian pembuluh darah akan berubah menjadi gelap dan berkelok-kelok dan nampak tidak dalam satu dataran. Menurut Ilyas (2008) keadaan ini disebabkan karena kondisi retina yang berlipat-lipat dan bentuknya akan berubah saat kepala digerakkan.
Pengobatan Ablasi dan peluang Stem Cell
Pengobatan Ablasi Retina ada beberapa jenis, pada tahun 1970 Machemer melakukan tindakan Vitrektomi pada pada Vitreous karena Retinopati Diabektika. Hasil penelitian Vitrektomi menunjukkan bahwa Vitrektomi bermanfaat untuk untuk penderita diabetes. Menurut Sovani (2000) bahwa operasi tepat dilakukan  setelah dilakukan laser fotokuagulasi panretinal penuh sebelum operasi, bila dianggap perbaikan secara spontan tidak terjadi dan disarankan tidak melewatkan kesempatan mata tidak dioperasi.

Dalam penelitian Sovani dijelaskan bahwa tujuan “Vitrektomi” adalah untuk memperbaiki penglihatan dan mengangkat pendarahan yang ada sehingga dapat menempelkan retina bila terdapat retina traksi. Penelitian Sovani ini juga memaparkan faktor-faktor yang menentukan dilakukannya “Vitrektomi” sebagai berikut:

Status Retinopati: Tindakan operatif yang dilakukan saat jaringan vibrovaskular aktif pada penderita ablasi retina mengenai makula.
Fotokuagulasi: Fotokuagulasi pada mata dengan PV sangat penting untuk menunjukkan kontrol proses proliferasi retinopati.
Penurunan ketajaman penglihatan: Pendarahan yang terjadi dan penurunan penglihatan adalah kriteria untuk mempertimbangkan dilakukannya operasi.
Frekuensi pendarahan: Seringnya timbul pendarahan ringan atau sedang akan menyebsbksn ketidakmampuan penderita karena akumulasi penyakit kronis.
Faktor sistemik: beratnya penyakit sistemik penderita dan resiko anastesi menjadi pertimbangan untuk dilakukan tindakan operatif.

Teknik Stem Cell

Penelitian lain menunjukkan metode pengobatan stem cell pada retina mata, seperti yang dilansir oleh Jurnal Medis terkemuka The Lancet (jakarta.media.com). Dalam ulasannya dijelaskan bahwa peneliti telah mengklaim fungsi Stem cell untuk mengatasi kebutaan. Melalui Stem Cell, teknologi jaringan sel-sel induk pada manusia dapat menggantikan jaringan tubuh yang aus dan bisa mengobati berbagai macam penyakit.

Pada studi terbaru Menurut studi terbaru Universitas Cambridge menjelaskan hasil penelitian peneliti pada tikus dengan mengambil sel induk  dari sumsung tulang lalu menyuntikkan kembali pada tikus dalam bentuk larutan di bagian belakang mata.

Kedepan, masalah kebutaan ini diharapkan dapt diatasi dengan metode Stem Cell, karena metode ini merupaka sebuah revolusi pengobatan dalam dunia kedokteran. Namun tidak semua dokter ahli setuju dan sependapat dengan metode Stem Cell ini,  karena alasan transplantasi tiap pasien berbeda-beda. Dr. Martin Freedlander mengungkapkan :

“perbaikan mungkin bisa disebabkan bukan karena sel-sel yang ditransplantasikan, namun prosedur operasi katarak pada beberapa pasien memiliki efek plasebo. Ini karena pasien tersebut mengetahui mata mana saja yang menjalani pengobatan”.

Alasan transplantasi ini menurut dokter ahli karena mata hanya membutuhkan beberapa transplantasi sel, selain itu pada Jurnal The Lancet dalam media online Jakarta-media.com menjelaskan bahwa obat penekan kekebalan tubuh hanya bertahan selama 12 hari, sedangkan pasien yang menerima organ transplantasi membutuhkan obat penekan kekebalan tubuh seumur hidupnya.

Recommended