Home Featured Penyakit Abad 21, Apa Saja Jenisnya ?

Penyakit Abad 21, Apa Saja Jenisnya ?

by Syara

Peradaban manusia telah jauh berkembang. Hal – hal yang zaman dahulu kala masih dianggap mimpi semata saat ini malah menjadi bagian dari kehidupan sehari – hari kita. Teknologi komunikasi menjadi salah satu bukti peradaban manusia yang berkembang pesat.

Namun perkembangan teknologi seperti halnya dua sisi mata uang. Ada kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya tentu saja salah satunya memudahkan hidup penggunanya sebaliknya kekurangannya jika tidak dipergunakan sebagaimana mestinya malah berbalik merugikan penggunanya.

Dilansir dari Mirror, di abad 21 yang modern ini semakin bermunculan beberapa masalah kesehatan. Beberapa diantaranya akan dijabarkan dalam artikel ini.

Text Neck

Tahukah Anda jika pose memiringkan kepala sembari menelusuri isi Instagram atau aplikasi favorit Anda seperti meletakkan beban seberat 27 kg pada leher Anda menurut dokter bedah spesialis tulang belakang.

Jika dilakukan terus – menerus akan menyebabkan otot – otot Anda terasa sakit dan meradang. Kondisi ini dikenal dengan istilah “text neck”. Para ahli menyarankan saat berselancar di handphone Anda cobalah untuk memosisikan handphone sejajar dengan mata Anda.

Gaming Disorder

Bukan rahasi lagi jika saat ini bertebaran berbagai macam permainan yang dapat dimainkan di handphone atau komputer. Badan Kesehatan Dunia (WHO) baru – baru ini mengklasifikasikan gaming disorder sebagai masalah kesehatan mental.

Para penderitanya lebih memprioritaskan waktu mereka untuk bermain game dibandingkan mengerjakan hal – hal lainnya. Gejalanya yakni kurang tidur dan tidak peduli pada kehidupan sosial. Sekitar 10 % dari para gamers diprediksi dapat menderita penyakit ini.

Nomophobia

Setahun lalu, istilah Nomophobia mendapat predikat sebagai “word of the year” di Cambridge Dictionary. Istilah ini merujuk pada rasa cemas yang disebabkan kondisi tidak menggunakan handphone. Nomo merupakan kepanjangan dari No Mobile.

Sebuah survey dari YouGov menemukan bahwa 53 % pengguna handphone merasa cemas jika berada dalam kondisi tidak memegang handphone mereka. Kondisi ini dapat berubah ekstrim menjadi serangan panik.

Sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal of Social and Clinical Psychology menemukan bahwa membatasi penggunaan akun Facebook dan Instagram selama 10 menit per hari dapat mengurangi gejalanya.

Smarthphone Thumb

Sebuah survey menemukan fakta jika 43 % pengguna smartphone pernah merasakan sakit pada jari jempol mereka akibat menggunakan gawai mereka. Kegiatan motorik yang berulang seperti mengetik atau menggeser pada handphone dapat menyebabkan mati rasa serta sakit dan kram jari, pergelangan dan lengan bagian bawah.

Hal ini dapat mengakibatkan sindrome carpal tunnel dimana saraf tertekan atau meradang yang dikenal dengan istilah tendonitis. American Academy of Orthopaedic Surgeons juga mengingatkan bahaya mobile elbow – yang disebabkan menekuk lengan terlalu lama saat menggunakan handphone.

Hal ini berpotensi menyebabkan sindrome cubital tunnel yang seringkali membuat kegiatan sederhana seperti membuka tutup toples sulit dilakukan. Sebaiknya gunakan tangan Anda bergantian saat memakai handphone dan Anda mungkin bisa menggunakan fitur voice note daripada mengetik pesan dalam waktu yang lama.

Console Sores

Bermain video games selain berdampak pada kesehatan mental juga berdampak pada fisik. Seseorang yang bermain game terlalu lama berpotensi merasakan sakit pada tangan. Disarankan untuk membatasi waktu bermain game terutama jika tangan Anda rentan berkeringat.

Burnout

Banyak orang yang bekerja dalam waktu yang lama dan menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) baru – baru ini menemukan suatu kondisi yang dinamakan burnout. Kondisi ini disebabkan stres akibat pekerjaan.

Para peneliti meyakini kondisi ini pernah dialami oleh satu dari tiga pekerja selama karir mereka dan begitu juga dengan lelah secara mental yang berpotensi menyebabkan insomnia dan sakit kepala, bahkan meningkatkan risiko penyakit jantung.

Sebuah studi yang diterbitkan di Annals of Work Exposures and Health mengidentifikasikan rasa rendah diri dan konflik keluarga serta pekerjaan merupakan salah satu faktor yang disebabkan oleh burnout.

Selfitis

Tidak pernah puas untuk mengunggah foto selfie ? Anda mungkin menderita Selfitis, yakni suatu kondisi  yang diidentifikasi oleh para peneliti di Nottingham Trent University. Para peneliti juga menemukan bahwa mereka yang secara kompulsif terus mengunggah selfie seringkali merasa kurang percaya diri.

Penderita yang akut memiliki keinginan untuk mengunggah foto mereka sendiri ke media sosial lebih dari enam kali dalam sehari.

Computer Vision Syndrome

Beberapa orang yang bekerja didepan komputer atau laptop dalam waktu yang lama menderita Computer Vision Syndrome yakni suatu kondisi dimana gejalanya adalah mata lelah dan kering serta padangan yang kabur.

Cobalah untuk mempraktekkan 20-20-20-20 yakni berkedip 20 kali setiap 20 menit sekali, alihkan pandangan dari layar komputer atau laptop selama 20 detik, dan fokuskan pandangan pada sebuah objek yang terletak setidaknya 20 feet (6 meter) dari Anda.

You may also like