Categories: Tindakan Medis

5 Akibat Kelebihan Cairan Infus pada Pasien

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Kita sering melihat bukan para pasien di suatu rumah sakit yang terbaring dengan menggunakan infus? Terlihat sangat tidak nyaman bukan? Itu adalah sebuah terapi pengobatan penyakit yang dalam dunia medis dikenal dengan sebutan terapi intravena (IV). Ini merupakan pemberian cairan yang berisi obat-obatan dilakukan secara langsung melalui vena. Ini merupakan suatu metode pendistribusian obat-obatan ke dalam tubuh yang lebih cepat jika dibandingkan dengan metode lainnya. Namun, pada saat seorang dokter memberlakukan hal tersebut bagi seorang pasien ia harus tahu pedoman atau peraturan metode ini, agar nantinya justru tidak membahayakan kondisi pasien.

Peraturan tersebut adalah dengan mengontrol jumlah cairan yang seharusnya diterima oleh pasien yang menerima terapi itu. Karena jika tidak ada kontrol dan tingkat pemberian cairan bergantung pada gravitasi saja, maka  hal ini akan dapat menyebabkan pasien menerima terlalu banyak atau terlalu sedikit cairan yang berisi obat-obatan tersebut. Mungkin anda akan bertanya-tanya bagaimana kontrol tersebut dilakukan? dan jika seorang pasien ternyata mendapatkan kelebihan cairan, apakah ada akibatnya?? Nah, kali ini kita akan membahas hal tersebut.

Fungsi Cairan Infus

Sebelumnya kita perlu mengetahui lebih dahulu alasan mengapa seorang pasien perlu untuk mendapatkan cairan intravena, yaitu dengan menyuntikkan sejenis cairan yang berisi natrium, glukosa, maupun beberapa jenis obat-obatan melalui pembuluh darah yang biasanya terdapat pada lengan. Alasan-alasan tersebut diantaranya adalah :

  • Untuk merehidrasi tubuh setelah terjadi dehidrasi akibat suatu penyakit atau karena melakukan aktivitas yang berlebihan.
  • Untuk mendistribusikan jenis antibiotik atau obat-obatan tertentu pada tubuh pasien yang mengalami gangguan infeksi suatu penyakit, misalnya obat-obatan kemoterapi untuk pasien kanker, maupun obat-obatan untuk mengatasi rasa nyeri (obat tramadol, obat analgesik) .

Ada 2 cara untuk yang dapat digunakan untuk mengatur jumlah dan tingkat cairan yang diberikan selama terapi intravena, yaitu :

  1. Secara manual, dimana seorang perawat dapat mengatur laju aliran cairan infus per menitnya sesuai dengan kebutuhan, yaitu dengan menempatkan penjepit pada bagian selang infus.
  2. Dengan menggunakan pompa listrik, hal ini bertujuan untuk pemberian cairan pada pasien secara tepat. Namun, seorang perawat harus tetap melakukan kontrol secara berkala pada untuk memastikan ketepatan jumlah cairan yang diberikan pada pasien.

Kandungan di Dalam Cairan Infus

Meskipun sekilas terlihat sama, namun pada dasarnya dalam setiap tabung-tabung infus tersebut memiliki kandungan cairan yang memiliki efek berbeda-beda pada tubuh manusia. Adapun kandungan dari cairan-cairan infus tersebut antara lain adalah :

  • Isotonik, dimana komposisi dari cairan tersebut berupa elektrolit yang sangat mirip dengan darah manusia.
  • Hipotonik, dimana cairan infus mengandung konsentrasi elektrolit dalam jumlah yang lebih rendah.
  • Hipertonik, dimana kandungan elektrolit dalam cairan tersebut memiliki konsentrasi yang lebih tinggi dari darah manusia.

Cairan elektrolit secara alami ini juga bisa didapatkan dari :

Meskipun biasanya seseorang yang dianggap sehat dapat mentolerir kelebihan cairan dalam tubuh tanpa mengalami masalah yang serius. Namun pada saat ia mengalami masalah kesehatan dan mendapatkan cairan infus yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai macam efek samping, seperti terjadinya komplikasi yang lebih serius.

Adapun akibat kelebihan cairan infus tersebut antara lain adalah :

1. Edema

Kelebihan cairan infus dapat menyebabkan terjadinya retensi cairan dalam tubuh. Keadaan ini bisa menimbulkan beberapa kondisi seperti terjadinya pembengkakan di daerah wajah, terutama di sekitar mata serta terjadinya penumpukan cairan di kaki, pergelangan kaki, tangan, dan juga jari-jari tangan.kondisi yang lebih serius dari efek kelebihan cairan ini adalah terjadinya sakit kepala, edema serebral, pembengkakan pada otak, dan pada akhirnya dapat berdampak pada kematian.

Menurut Medical Journal Of Australia pada tahun 2008 melaporkan bahwa kondisi Edema yang parah bisa dihasilkan pada saat seorang pasien mendapatkan cairan infus yang mengandung hipotonik. Dimana hal tersebut dapat mengarah pada kondisi hiponatremia, yaitu kelebihan cairan dalam tubuh karena konsentrasi natrium yang rendah.

Edema (pembengkakan) sering pula terjadi karena :

2. Sesak nafas

Seorang pasien yang mendapatkan jumlah cairan infus yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya retensi cairan dalan tubuh yang pada akhirnya akan mengakibatkan terjadinya edema paru. Kondisi ini bisa menimbulkan berbagai kondisi yang serius seperti sesak nafas, suara berderak pada paru-paru, mengi, nyeri pada bagian dada, serta terjadinya perubahan pola pernafasan. Komplikasi yang bisa ditimbulkan dari kondisi-kondisi tersebut adalah terjadinya gagal jantung kongestif, dimana terjadi penumpukan kelebihan cairan dalam organ paru-paru.

Namun memang sesak nafas juga bisa dikarenakan masalah lainnya seperti :

3. Tekanan darah Tinggi (hipertensi)

Penumpukan cairan yang berlebih dalam tubuh dapat menyebabkan peningkatan resiko berkembangnya hipertensi atau penyebab darah tinggi. Volume cairan tubuh yang berlebih dapat menimbulkan beberapa gejala seperti bounding urat nadi maupun pembengkakan pada leher. Selain itu, kondisi tersebut juga dapat mengakibatkan peningkatan frekuensi detak jantung lebih dari biasanya, serta timbulnya bunyi tambahan pada jantung pada saat didengarkan melalui stetoskop.

Bagi yang sudah mengalami darah tinggi ini, perlu diketahui beberapa hal berikut ini :

4. Perubahan Mental

Akibat dari retensi cairan tubuh yang disebabkan oleh kelebihan cairan infus dapat menyebabkan terjadinya perubahan mental seorang pasien. Hal ini bisa ditandai dengan beberapa kondisi seperti timbulnya kelesuan, rasa cemas, gelisah, menurunnya tingkat kesadaran pasien dan kondisi yang lebih parah seperti pasien mengalami kejang-kejang.

Parahnya lagi, jika konsentrasi natrium dalam darah menurun secara drastis akibat  retensi cairan dalam tubuh, dapat menyebabkan masalah neurologis permanen. Pada saat seorang pasien mendapatkan cairan infus hypernatremic hal yang serupa bisa saja terjadi, karena cairan infus tersebut menyebabkan kandungan natrium dalam darah menjadi berlebih atau biasa disebut Hipernatremia. Dimana gejala dari hipernatremia ini hampir sama dengan kondisi pasien dengan hiponatremia. Hanya saja pasien dengan kondisi hipernatremia bisa lebih beresiko mengalami kelemahan serta mudah sekali tersinggung. Selain itu, pasien juga dapat mengalami kematian mendadak akibat kelebihan kadar natrium dalam darahnya.

Perubahan mental ini sebenarnya banyak sekali penyebabnya, seperti pada :

5. Penurunan kuantitas urin

Akibat kelebihan cairan infus yang diberikan pada pasien juga dapat mengakibatkan output urin menjadi drop.  Hal ini bisa terjadi karena akumulasi cairan yang terjadi jaringan tanpa melalui proses penyaringan oleh organ ginjal.

Dari uraian di atas kita bisa menyimpulkan bahwa  pada saat seseorang pasien melakukan terapi intravena (IV), tingkat dan kuantitas cairan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan pasien, sehingga sangat diperlukan kontrol dari tenaga medis yang menangani pasien tersebut. Pemberian cairan intravena bisa dilakukan dengan memperhatikan kondisi medis, ukuran tubuh, serta usia pasien. Hal ini merupakan sesuatu yang penting, karena apabila pemberian cairan intravena dilakukan pada tingkat yang tidak benar, misalnya terlalu sedikit maupun terlalu berlebihan, dapat menimbulkan bahaya bagi pasien tersebut.

Memberikan cairan infus secara berlebihan dapat mengakibatkan overload cairan dalam tubuh pasien, dimana hal tersebut dapat menimbulkan berbagai macam gejala seperti sakit kepala, tekanan darah tinggi, kecemasan, serta kesulitan dalam bernapas. Mungkin bagi sebagian orang yang sehat bisa mentolelir keadaan tersebut, namun bagi mereka yang sedang sakit, hal itu justru dapat menimbulkan masalah baru yang lebih berbahaya bagi kesehatannya.