Silikosis – Penyebab, Gejala, Pengobatan

84

Silikosis merupakan kondisi dimana menumpuknya partikel silika di dalam tubuh terutama paru-paru, sehingga fungsinya untuk bernapas menjadi terganggu. Partikel silika banyak dijumpai pada pasir, batu atau kaca, karena itu para pekerja yang banyak berinteraksi dengan batu, kaca dan beton sangat rentan terpapar silika. Kondisi ini tidak boleh dianggap remeh, karena paparan silika dalam jangka waktu yang panjang akan menyebabkan gangguan kesehatan yang berbahaya. Penyakit ini lebih sering dialami pria dibandingkan wanita, dan gejala akan muncul setelah paparan berlangsung hingga bertahun-tahun.

Penyebab Silikosis

Penyebab utama seseorang terkena silikosis adalah partikel kristal silika yang berasal dari kegiatan mengebor, memotong, menggali tanah, pasir, tambang dan lain sebagainya. Pekerjaan dengan aktivitas tersebut sangat rentan membuka peluang munculnya silikosis pada para pekerja, apalagi jika faktor keselamatan kerja tidak diutamakan. Beberapa pekerjaan yang beresiko memunculkan silikosis yaitu:

  • industri pemotongan batu
  • pekerjaan konstruksi bangunan
  • pekerjaan pertambangan, seperti batu keras dan batu bara
  • penggalian dan pembuatan terowongan
  • pembuatan keramik
  • pabrik kaca
  • penyediaan pasir dan beton
  • pabrik aspal.

Gejala Silikosis

Gejala silikosis dapat berbeda-beda pada setiap orang, tergantung seberapa kuat imunitas tubuhnya dan seberapa lama terpapar silika. Silikosis sendiri terbagi dua yaitu silikosis akut dan silikosis kronis. Untuk silikosis akut biasanya gejala akan tiba-tiba muncul dan tidak lama. Sedangkan silikosis kronis dapat berlangsung lebih lama dan secara perlahan bertambah parah. Berikut ini merupakan gejala silikosis yang umumnya dirasakan penderita.

  • Batuk yang tak kunjung reda, dan semakin parah jika paparan silika tetap terjadi.
  • Mengalami demam dan nyeri pada dada.
  • Merasa kesulitan bernapas.
  • Berkeringat di malam hari.
  • Mengalami penurunan berat badan secara drastis.
  • Merasa berat saat akan menarik napas.

Pengobatan Silikosis

Silikosis dapat didiagnosis dengan cara dirontgen, atau dengan bronkoskopi, CT Scan dan biopsi paru. Pengobatan yang dilakukan pun tidak bisa hanya dengan satu jenis pengobatan saja, melainkan kombinasi dari beberapa cara pengobatan. Misalnya, dokter akan memberikan obat batuk untuk meredakan gejala batuk, juga antibiotik untuk mencegah infeksi pada paru-paru yang terluka. Selain itu, penderita juga bisa diberikan masker oksigen agar pasokan oksigen pada darah tidak berkurang. Penggunaan inhaler terkadang dibutuhkan untuk membuka jalan pernapasan.

Jika penderita silikosis merokok, kebiasaan tersebut juga harus dihentikan. Hal ini dilakukan untuk mencegah kerusakan paru yang lebih parah dan meningkatkan bahaya silikosis. Mereka yang menderita silikosis harus rutin memeriksakan diri ke dokter untuk memantau perkembangan kesehatannya. Selain itu, tes TB juga perlu dilakukan untuk mendeteksi dini seandainya terkena tuberkulosis, karena penderita silikosis sangat rentan menderita TB. Pada penderita silikosis yang sudah sangat parah, transplantasi paru mungkin akan diperlukan.

Silikosis sangat sulit disembuhkan dan sangat berbahaya bagi kesehatan. Karena itu, cara terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan tindakan pencegahan seperti menggunakan masker khusus saat bekerja, mengkonsumsi makanan bergizi dan rutin memeriksakan kesehatan ke dokter.