Kanker

Pria Juga Bisa Kena Kanker Payudara, Kenali 6 Faktor Risikonya!

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Kanker payudara merupakan kondisi di mana pada jaringan payudara terdapat sel-sel kanker yang pembentukannya dapat berada di saluran penghasil susu atau kelenjarnya. Tapi tak selalu di situ, sel-sle kanker juga dapat berkembang di dalam payudara, khususnya di jaringan ikat atau jaringan lemak.

Kebanyakan orang hanya tahu bahwa wanita yang bisa terkena kanker payudara, padahal pria pun juga memiliki risiko yang tak kalah besar. Jadi, para pria hendaknya mulai mengenali apa saja faktor yang bisa menjadi peningkat risiko kanker payudara supaya bisa menghindari atau bahkan mewaspadainya. Berikut adalah sejumlah faktor yang dimaksud dan pria pun perlu mulai memerhatikannya.

  1. Sirosis Hati

Meski risiko kanker payudara pada wanita juga ditingkatkan oleh faktor penyakit hati satu ini, sebenarnya pria juga memiliki potensi yang sama. Menurut lansiran dari TheHealthSite.com, ini karena kadar hormon estrogen bisa meningkat ketika gejala sirosis hati terjadi sehingga risiko kanker payudara pun lebih besar.

  1. Sindrom Klinefelter

Dalam setiap tubuh pria normal, ada dua kromosom seks, yakni X dan Y di mana kromosom Y diwarisi dari sang ayah dan kromosom X dari sang ibu. Sementada pada kondisi sindrom Klinefelter, seorang pria dapat memiliki kromosom seks XXY di dalam tubuhnya dan ini dianggap sebagai hasil mewarisi kromosom X wanita ekstra.

Itulah kenapa hasil kadar estrogen dalam tubuh pria dengan sindrom ini jauh lebih tinggi dari para pria normal dan satu dari 1000 pria dapat dipengaruhi oleh kondisi genetik ini. Kasus pria mewarisi kromosom X secara ekstra memang sangat jarang dan bila mengalami sindrom Klinefelter, otomatis seorang pria mengalami ketidakmampuan menghasilkan sperma, pengecilan testis, sedikit rambut pada wajah dan tubuh, serta pembesaran payudara.

Ketika seorang pria menderita sindrom Klinefelter, sejumlah penelitian telah berhasil membuktikan bahwa ada risiko kanker payudara yang meningkat. Bahkan perkembangan kanker payudara yang dipengaruhi oleh kondisi genetik ini dapat terjadi 50 kali lipat dibandingkan dengan para pria normal.

  1. Terpapar Radiasi

Hasil dari terkena paparan radiasi secara terus-menerus dalam jangka panjang, tanpa disadari banyak orang hal ini dapat memicu perkembangan sel kanker di dalam tubuh. Ini karena radiasi sendiri adalah faktor yang dapat mengubah sel-sel normal pada tubuh justru menjadi sel kanker sehingga bisa berisiko juga pada pria mengalami kanker payudara.

  1. Riwayat Keluarga

Pria memiliki potensi lebih besar terkena kanker payudara apabila ia mempunyai sejumlah saudara perempuan yang menderita kanker payudara di mana hal ini telah dibuktikan melalui penelitian epidemiologi. Jika sampai mewarisi mutasi gen BRCA-2, risiko kanker payudara pada pria pun lebih besar.

  1. Hiperestrogen

Kadar estrogen seperti kita tahu adalah hormon yang ada pada wanita meski dalam tubuh pria pun juga ada tapi tak sebanyak kadarnya dibandingkan dalam tubuh wanita. Hanya saja peningkatan estrogen dapat terjadi pada sejumlah pria sehingga sebagai efek utama yang paling menonjol adalah payudara yang lebih besar dari payudara pria normal.

Selain sirosis hati dan juga sindrom Klinefelter, efek samping obat tertentu juga ternyata mampu meningkatkan risiko kenaikan kadar estrogen dalam tubuh pria lho. Obat kanker prostat, asam lambung, dan tekanan darah tinggi adalah contoh obat yang perlu diwaspadai. Penting untuk mengonsultasikan efek obat-obatan tersebut dengan dokter dan menanyakan kaitannya dengan sel kanker payudara.

Faktor kegemukan pun bisa jadi peningkat risiko kanker payudara pria. Pada kasus kanker payudara pria kebanyakan adalah karena positifnya reseptor estrogen, yakni sebuah kondisi permukaan sel yang memiliki reseptor sehingga mampu mendapatkan dan juga mengangkat hormon estrogen ke dalam sel.

  1. Ginekomastia

Saat dalam tubuh pria terjadi ketidakseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen, pembesaran jaringan kelenjar payudara pun dapat terpicu dialami sejumlah pria. Pada kondisi ginekomastia, gejala utamanya yang paling umum adalah pembesaran payudara entah itu kedua-duanya atau salah satu sisi saja tanpa timbul rasa sakit. Bahkan sensitivitas payudara meningkat saat disentuh serta payudara bisa terasa kencang ataupun kenyal dan ini dapat memicu peningkatan risiko kanker payudara.

Tergantung dari jenis kanker payudara dan juga kondisi gejala penderitanya, pengobatan baru bisa diberikan entah itu dengan terapi hormon, terapi radiasi, operasi, atau kemoterapi. Para pria yang memiliki faktor risiko tersebut, diharapkan rutin memeriksakan kondisi payudara untuk meminimalisir risiko kanker payudara; tentunya ditambah juga dengan mengikuti tips diet sehat sebagai langkah pencegahan.