Obat C

Calcitonin – Obat Apa – Dosis – Fungsi – Komposisi

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

PPemberian resep obat yang dilakukan oleh dokter tentunya tidak sembarangan. Hanya saja sebagai orang awam seringkali tidak memahami maksud dan tujuan penggunaan obat dengan jelas. Salah satunya yaitu peresepan obat calcitonin oleh dokter. Karena jenis obat ini bukan termasuk obat yang umum ditemui dijual secara bebas.

Oleh sebab itu, melalui penjelasan sederhana pada artikel ini, diharapkan dapat memberi keterangan yang informatif mengenai calcitonin. Termasuk obat apa, dosisnya, fungsi, komposisi serta efek sampingnya. Sebelum membahas obat ini lebih jauh, sebaiknya ketahui sejarah pengobatan dengan calcitonin. Obat ini ditemukan pada tahun 1962 oleh Copp dan Cheney. Yang mana diawal diperkirakan berupa sekresi dari kelenjar paratiroid, namun pada akhirnya ditemukan sebagai sekresi kelenjar tiroid.

Obat Apa?

Obat calcitonin merupakan turunan hormone polipeptida linear yang dihasilkan oleh manusia pada sel parafolikularnya. Dengan kata lain dihasilkan oleh kelenjar tiroid. Selain itu hormon ini umumnya juda mudah didapati pada hewan. Obat ini dapat bereaksi pada macam-macam hal, termasuk mengurangi kalsium darah dan menentang hormone paratiroid. Selain itu dapat menghambat terjadinya proses osteoporosis dengan merangsang peresapan kalsium pada tulang. Oleh sebab itu banyak ditemukan pada reptile dan ikan. Obat ini merupakan hormon polipeptida dengan efek hipokalsemik serta hipofosfatemik yang mana disekresi dari kelenjar tiroid.

Hormon polipeptida tersebut terdiri dari residu 32 asam amino dan membentuk rantai tunggal yang lurus. Karena sekresinya yang dipengaruhi ion kalsium, akibat kelebihan kalsium maka calcitonin juga meningkat. Sebaliknya adanya tanda tubuh kekurangan kalsium maka artinya calcitonin juga menurun. Untuk merangsang penambahan obat ini maka dapat dengan memberikan infus kalsium. Kadar rata-rata calcitonin pada wanita umumnya lebih rendah daripada pria. Hal ini karena efek hipokalsemik dan hipofosfatemik yang dimanfaatkan untuk keadaan hiperkalsemia, misalnya pada hiperparatiroidisme, hiperkalsemia idiopatik serta keracunan vitamin D. Selain itu calcitonin juga efektif untuk osteoporosis yang terjadi akibat usia lanjut serta resorpsi tulang yang bertambah pada imobilisasi penderita, dan penyakit paget.

Mekanisme Kerja

Pada umumnya calcitonin bekerja melalui respon obat tersebut dalam menghambat penyerapan sel osteoklas dan osteosit pada tulang. Proses tersebut dapat menimbulkan efek hipokalsemik serta efek hipofosfatemik pada tubuh. Hormon ini kecuali menghambat resorpsi tulang juga dapat berguna sebagai obat tulang keropos.

Meskipun calcitonin dapat mengurangi efek osteolisis HPT, tetapi bukan merupakan antihormon paratiroid, oleh sebab itu  tidak menghambat aktivasi adenil siklase sel tulang maupun kalsium ke tulang yang diinduksi oleh HPT. Kerja obat ini tidak dihambat oleh inhibitor sintesis RNA maupun protein. Nampaknya sebagian efek terjadi oleh adanya peningkatan kadar AMP-sikIik di osteoblas.

Fungsi Obat

Calcitonin adalah hormon protein yang disekresikan oleh sel-sel di kelenjar tiroid. Fungsinya termasuk menghambat terjadinya penurunan performa pada tulang serta memaksimalkan tulang dalam menyerap sejumlah kalsium dan fosfat. Obat hormone ini menstimulasi terbentuknya kalsium dan fosfor. Fungsinya sebagian besar untuk melawan hormon paratiroid dan menurunkan level kalsium dalam darah dengan menghambat osteoklas tulang serta menghambat penyerapan kalsium maupun fosfat yang beresiko menjadi penyebab gagal ginjal akut. Sehingga kalsium dan fosfat nantinya akan dibuang melalui urin.

Calcitonin yang tinggi akan meningkatkan ekskresi kalsium maupun fosfat melalui ginjal. Hal ini akan membuat ginjal menjadi resisten dan umumnya penderita tumor tiroid mengeluarkan calcitonin berlebih. Secara lebih detail berikut fungsi obat tersebut:

  1. Melindungi kehilangan kalsium dari tulang di masa kehamilan maupun menyusui
  2. Mencegah hiperkalsemia postprandial
  3. Menghambat asupan makan karena mengurangi nafsu makan
  4. Pengobatan osteoporosis postmenopausal
  5. Perawatan penyakit paget
  6. Mengatasi metastatis tulang
  7. Terapi untuk nyeri tungkai
  8. Perawatan untuk sakit tulang belakang atas

Diagnostik

Hormon ini umumnya digunakan untuk penanda tumor terutama pada kelenjar tiroid. Ambang batas kandungan calcitonin yaitu sebagai berikut:

  • wanita: 5 ng / L atau pg / mL
  • laki-laki: 12 ng / L atau pg / mL
  • anak di bawah usia 6 bulan: 40 ng / L atau pg / mL
  • anak-anak antara 6 bulan dan 3 tahun: 15 ng / L atau pg / mL
  • Ketika usia lebih dari 3 tahun, acuan nilai dewasa dapat digunakan

Pada kondisi seperti hiperplasia sel C serta karsinoma mampu memicu peningkatan jumlah calcitonin. Termasuk pada penyakit gagal ginjal akut, hiperkalsemia, hipergastrinemia serta gangguan penyakit lainnya yang sejenis. Umunya dapat terjadi pula pada penyakit paru maupun penyakit pencernaan.

Komposisi dan Dosis Obat

Komposisi obat ini berupa hormon polipeptida dari 32 asam amino, dengan berat molekul 3454,93 dalton. Strukturnya terdiri dari alfa heliks tunggal. Obat ini juga mampu menghasilkan peptida terkait dengan 37 asam amino, dinamakan juga calcitonin gene-related peptide (CGRP), jenis beta. Calcitonin bentukannya juga termasuk protein prekursor amiloid islet, peptida terkait gen kalsitonin (CGRP), dan prekursor adrenomedulin. Sekresi obat ini dipengaruhi oleh peningkatan kalsium, gastrin dan pentagastrin.

Salah satu pembentukan calcitonin melalui ikan salmon dalam bentuk suntikan SK atau IM, 100 atau 200 tU/ml. Untuk hiperkalsemia, diberikan 4 IU/kg BB setiap 12 jam. Bila setelah 1-2 hari hasil tidak seperti yang diharapkan, dosis dapat ditingkatkan sampai 8 IU/kg setiap 12 jam dan bila setelah 2 hari tetap belum memberikan hasil, dosis maksimal 8 IU/kg dapat diberikan setiap 6 jam. Dosis ini disuntikkan setiap 12 jam. Untuk dosis maksimum yang disarankan sebaiknya kurang dari 545 unit per dosis. Jika respons terhadap dosis 4 IU/kg tidak terlihat dalam 1- 2 hari, 8 IU/kg boleh diberikan dengan cara yang sama setiap 12 jam. Jika belum maksimal maka dosis dapat ditambah setiap 6 jam dengan jumlah maksimum kurang dari 1090 unit. Terapi umumnya dilakukan sekitar 5 hari. Porcinecalcitonin adalah bentuk yang paling dulu dikenal sedangkan pada manusia telah dibuat secara sintetik. Sedangkan pada ikan salmon kekuatan calcitonin sintetisnya hampir 10-100 kali.

Untuk penyakit paget, dosis yang disarankan sebesar 50-100 ID per hari. Bisa juga diberikan 3 kali seminggu hingga sembuh. Setelah terlihat hasil maka dosis diteruskan sebesar 50IU seminggu tiga kali. Bila penyakit kambuh, digunakan dosis lebih besar walaupun belum tentu berhasil. Adapun 50 – 100 unit diberikan melalui injeksi di bawah lapisan kulit dermis atau melalui penyuntikan obat langsung ke dalam jaringan otot satu kali sehari. Pengurangan dosis dapat dilakukan bila penyakit membaik. Umumnya obat ini diresepkan maksimal hanya untuk pemakaian 6 bulan saja karena manfaat obat tersebut maksimal hanya bertahan 6 bulan. Alasan lain karena sifat obat ini yang merupakan obat jenis tertentu untuk penyakit langka maupun mematikan yang sebaiknya jarang diberikan.

Cara Penggunaan

Dalam penggunaan obat ini sebaiknya selalu patuhi anjuran dan petunjuk yang diberikan oleh dokter. Biasanya obat ini disuntikkan langsung ke dalam lapisan kulit maupun otot. Umumnya pengobatan diberikan dengan selang waktu setiap 12 jam maupun 24 jam. Apabila dosis yang diberikan lebih dari 2 mililiter sebaiknya suntikkan pada otot. Selalu taati petunjuk pada kemasan dan gunakan takaran yang dianjurkan dalam kemasan.

Umumnya dosis pengobatan berbeda pada satu kasus penyakit dengan penyakit lain. Pada pengobatan keluhan kalsium berlebih, dosisnya akan disesuaikan dengan berat badan penderita. Selain itu karena beberapa efek sampingnya, sebaiknya gunakan obat hanya untuk jangka pendek saja. Periksa kelayakan kemasan dan produk. Sebaiknya jika produk telah berubah warna jangan diteruskan pemakaiannya. Sterilkan area yang akan diinjeksi dengan alkohol terlebih dahulu. Ganti area suntikan setiap kali akan menjalankan proses pengobatan untuk menghindari peradangan atau inflamasi. Minum obat ini secara rutin di waktu yang sama setiap hari. Informasikan kepada dokter  apabila kondisi penyakit tidak membaik dan malah memburuk.

Cara Penyimpanan

Secara umum jika menggunakan obat ini simpan obat dengan memperhatikan hal-hal berikut ini:

  • Obat ini sebaiknya disimpan pada suhu ruangan yang cukup, tidak terlalu panas maupun dingin.
  • Jauhkan dari sinar matahari langsung karena akan merusak komposisi obat.
  • Jauhkan dari penyimpanan di tempat yang lembap.
  • Jangan disimpan di kamar mandi karena kelembapan kamar mandi merusak komposisi obat.
  • Jangan dibekukan karena merusak susunan kimianya.
  • Perhatikan instruksi penyimpanan pada kemasan produk dengan baik.
  • Jauhkan dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan untuk menghindari kemungkinan tertelan yang dapat berbahaya.
  • Jangan menyiram obat-obatan ke dalam toilet atau ke saluran pembuangan supaya tidak terjadi kerusakan lingkungan akibat reaksi kimia obat dengan hal lain.
  • Buang produk jika telah kadaluarsa atau bila sudah tidak terpakai lagi.

Efek Samping

Seperti obat lain pada umumnya, calcitonin memiliki beberapa efek samping. Sehingga jika terjadi gejala berupa efek samping sebaiknya hentikan pemakaian obat ini. Oleh sebab itu sebelum mengkonsumsinya perhatikan beberapa poin berikut ini:

  • Obat ini hanya dapat diberikan secara parenteral, apabila diberikan secara oral cepat dirusak oleh cairan lambung. Reaksi obat umumnya terjadi dalam waktu maksimal hingga 45 menit. Masa paruh plasma pada manusia sekitar 4 menit. Walau terlihat singkat namun masa paruh biologisnya dapat berlanjut hingga beberapa hari.
  • Metabolisme pada manusia terutama terjadi di ginjal. Sehingga pemakaian obat ini jangka panjang berpotensi menyebabkan ciri-ciri ginjal tidak sehat. Konsultasikan pada dokter mengenai waktu pengobatan yang sesuai.
  • Obat ini tidak dapat melalui barier plasenta tetapi dapat masuk ke air susu ibu. Oleh sebab itu tergolong aman pada kehamilan namun dapat berbahaya bagi ibu menyusui. Untuk keamanan bayi sebaiknya hindari penggunaan obat ini saat hamil maupun menyusui.
  • Efek samping yang mungkin timbul lainnya berupa ruam kulit, mual, muntah, diare, flushing di daerah muka dan malese. Umumnya keluhan saluran cerna dan kulit ini berkurang walaupun terapi diteruskan.
  • Peningkatan ekskresi natrium dan air, yang bersifat sementara pernah dilaporkan pada awal terapi. Bisa jadi karena hubungannya dengan ginjal sert untuk memperbaiki dinamik sirkulasi.
  • Pada bekas suntikan obat ini dapat terjadi resiko peradangan atau inflamasi. Oleh sebab itu sebaiknya pastikan dahulu kesehatan sebelum menggunakan obat ini.
  • Terjadi erupsi kulit yang nonspesifik seperti urtikaria.
  • Sejumlah laporan menyatakan adanya risiko pertumbuhan kanker pada pasien yang menjalani pengobatan dengan calcitonin dalam jangka waktu lama. Karena itu sebaiknya konsultasikan penggunaannya dengan dokter apabila diresepkan untuk jangka panjang.

Demikian itulah beberapa ulasan obat calcitonin yang bisa anda ketahui bagaimana bentuk obat ini bisa bekerja dan takaran obat pada komposisinya.