Tindakan Medis

5 Kelemahan Penggunaan Vaksin Virus Hidup

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Infeksi virus terhadap inangnya dapat menyebabkan berbagai dampak mulai dari ringan hingga berat, yang berujung pada munculnya penyakit di dalam tubuh inang. Secara alami sistem imunitas tubuh dapat melawan virus yang menginfeksi tubuh sehingga virus tidak dapat berkembang biak. Namun, terkadang virus juga sulit untuk dibunuh karena mampu memanipulasi sel induk dalam bereproduksi.

Berbeda dengan bakteri, virus tidak dapat diatasi dengan pemberian antibiotik. Karena itu, sebelum memberikan obat, dokter perlu mendiagnosa dengan tepat apakah penyakit yang ditimbulkan disebabkan oleh virus atau bakteri. Jika ternyata penyakit disebabkan oleh virus namun diberikan antibiotik, virus tidak akan terpengaruh justru bakteri akan terjadi resistensi bakteri terhadap antibiotik tersebut.

Salah satu cara yang paling tepat dalam mencegah dan mengatasi infeksi virus adalah dengan dilakukannya vaksinasi. Vaksinasi merupakan tindakan untuk memasukkan virus mati atau virus hidup yang dilemahkan ke dalam tubuh dengan tujuan agar tubuh membentuk antibodi terhadap virus yang disuntikkan tersebut. Kedua jenis vaksin tersebut, baik berupa virus mati ataupun virus hidup yang dilemahkan, memiliki kelebihan dan kekurangan yang tentu saja dapat berdampak pada kesehatan orang yang mendapatkannya.

Kelemahan Penggunaan Vaksin Virus Hidup

Pada vaksin virus mati terdapat beberapa kelemahan seperti reaksi tubuh terhadao vaksin lemah, antibodi yang terbentuk bersifat sementara, perlu injeksi berulang secara berkala, dan resiko terjadinya resistensi virus. Sementara itu, vaksin virus hidup pun juga memiliki beberapa kelemahan antara lain sebagai berikut.

  1. Kemungkinan terjadinya pencemaran virus lain ke dalam vaksin cukup tinggi.
  2. Meski terbukti tidak menimbulkan masalah, resiko terjadinya virulensi yang lebih besar tetap ada selama perkembangan virus di dalam vaksin terus terjadi.
  3. Resiko munculnya penyakit yang seharusnya ingin dicegah dengan vaksin tersebut, dikarenakan virus dalam vaksin menjadi liar dan aktif, sehingga berkembang biak di dalam tubuh dan menyebabkan penyakit.
  4. Masalah penyimpanan dan juga keterbatasan hidup vaksin sebelum masuk masa kadaluarsa.
  5. Efektivitas vaksin yang dapat berkurang, dikarenakan adanya gangguan replikasi virus vaksin. Kondisi ini menyebabkan infeksi virus luar terjadi bersamaan sehingga membuat tubuh terlalu sibuk untuk menghasilkan antibodi terhadap banyak virus sekaligus.

Dibalik kelemahan tersebut, penggunaan vaksin virus hidup justru lebih dipilih karena reaksi tubuh terhadap vaksin tersebut lebih kuat. Dengan demikian antibodi yang terbentuk juga lebih baik karena respon yang muncul sama seperti virus yang menginfeksi secara ilmiah. Tentu saja, dibutuhkan pengawasan yang ketat dalam pembuatan vaksin ini, agar tidak menimbulkan dampak yang merugikan bagi para penerima vaksin.

Contoh vaksin virus hidup di antaranya vaksin MMR, vaksin influenza, imunisasi campak, dan vaksin gondongan. Dengan mendapatkan vaksin tersebut sesuai dengan waktu dan dosis yang tepat, maka tubuh dapat terlindungi dari penyakit yang berbahaya dan mudah menular. Jadi, jangan ragu untuk mendapatkan vaksin dan konsultasi dengan dokter jika terdapat kendala kesehatan.