Categories: Glaukoma

14 Gejala Glaukoma Akut dan Pada Anak

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Glaukoma merupakan sekelompok gangguan yang terjadi pada mata yang mengakibatkan kerusakan pada saraf optik, yang pada akhirnya akan menyebabkan hilangnya penglihatan. Tingkat tekanan yang tinggi atau yang abnormal pada mata (tekanan intraokular) dapat menyebabkan kerusakan pada organ mata.

Bahaya Glaukoma

Glaukoma menjadi salah satu penyebab utama kebutaan di berbagai negara. Glaukoma dapat mengakibatkan kerusakan pada organ penglihatan seseorang secara bertahap. Jenis yang paling umum dari glaukoma adalah glaukoma sudut terbuka primer, yaitu jenis glaukoma yang tidak memiliki tanda-tanda nyata atau gejala kecuali kehilangan penglihatan secara bertahap.

Diagnosis dan pengobatan yang dilakukan sedini mungkin dapat meminimalkan atau mencegah terjadinya kerusakan saraf optik dan menurunkan resiko glaukoma yang dapat menyebabkan hilanganya penglihatan. Untuk menghindari gangguan ini, sebaiknya melakukan pemeriksaan mata secara teratur dan meminta dokter untuk mengukur tekanan intraokular kita.

Gejala Glaukoma Berdasarkan Jenisnya

Para ahli belum terlalu memahami sepenuhnya mengenai alasan terjadinya peningkatan tekanan di dalam mata (intraocular pressure), namun hal itu tidak selalu berhubungan dengan timbulnya glaukoma yang ditandai dengan kerusakan saraf optik. Tekanan tersebut mungkin saja disebabkan karena adanya penumpukan cairan (aqueous humor) yang masuk dan keluar dari mata melalui sistem drainase di sudut di mana iris dan kornea bertemu. Pada saat sistem drainase tidak dapat berfungsi dengan baik, maka cairan tersebut tidak dapat tersaring dalam mata yang akhirnya akan menimbulkan tekanan pada mata.

Glaukoma diklasifikasikan menjadi beberapa jenis diantranya adalah :

1. Primary open-angle glaucoma (glaukoma sudut terbuka)

Glaukoma tipe ini merupakan salah satu jenis glaukoma yang paling umum terjadi dimana sudut drainase yang dibentuk oleh kornea dan iris tetap terbuka, tetapi sebagian saluran drainase (trabecular meshwork) di sudut menjadi tertutup sehingga menyebabkan terhambatnya cairan yang mengalir keluar dari mata. Pada akhirnya cairan akan menumpuk dan dapat meningkatkan tekanan pada mata. Penyebab glaukoma ini belum diketahui degan jelas, namun kerusakan saraf optik tidak menimbulkan gejala atau sakit, dan itu terjadi sangat lambat sehingga Anda mungkin kehilangan jumlah ekstensif visi sebelum Anda bahkan menyadari masalah.

Gejala glaukoma ini adalah :

  1. Kehilangan penglihatan periferyang biasanya terjadi kedua mata secara bertahap.
  2. Hilangnya visi penglihatan pada stadium lanjut.

2. Angle-closure glaucoma (Glaukoma sudut tertutup)

Glaukoma sudut tertutup terjadi ketika tonjolan iris maju untuk mempersempit atau menutup sudut drainase yang dibentuk oleh kornea dan iris. Hal ini mengakibatkan cairan tidak dapat mengalir melalui dan keluar dari mata, dan pada akhirnya hal itu dapat meningkatkan tekanan pada mata secara tiba-tiba. Glaukoma jenis ini dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :

  • Glaukoma sudut tertutup akut, yaitu Angle-closure glaucoma yang terjadi secara tiba-tiba.
  • Glaukoma sudut tertutup kronis, yaitu Angle-closure glaucoma yang terjadi secara bertahap.

Tanda-tanda atau Gejala glaukoma ini antara lain adalah :

  1. Visi penglihatan menjadi
  2. Munculnya lingkaran berwarna pelangi pada saat mengamati lampu atau cahaya yang terang
  3. Gangguan pada mata yang parah
  4. Timbulnya rasa nyeri kepala
  5. Mual atau muntah (menyertai sakit mata yang parah)
  6. Kehilangan penglihatan secara tiba-tiba

Gejala-gejala yang ditimbulkan glaukoma sudut tertutup akut sangat nyata dan dapat menyebabkan kerusakan saraf dengan cepat. Hal ini sangat berbeda dengan glaukoma sudut terbuka. Untuk itu, jika Anda memiliki gejala-gejala terkena glaukoma ini, segeralah mencari pertolongan dari dokter mata.

3. Normal-tension glaucoma

Meskipun tekanan pada mata terjadi pada tingkat yang normal, namun glaukoma jenis ini dapat mengakibatkan kerusakan saraf optik. Belum diketahui dengan pasti penyebab glaukoma ini, namun kemungkinan besar penderita memiliki jenis saraf optik yang sensitif, atau kurangnya suplai darah yang diterima saraf optik pasien yang disebabkan oleh aterosklerosis, yaitu suatu kondisi yang membatasi sirkulasi darah dalam tubuh akibat penumpukan plak atau lemak pada arteri.

Seseorang yang mengalami glaukoma jenis ini tidak mengalami gejala awal dan mereka biasanya tidak memiliki keluhan akan visi penglihatan mereka sampai di akhir perjalanan penyakit. Dan ketika mereka mulai menyadari mengalami kehilangan penglihatan, sejumlah besar kerusakan saraf optik sudah terjadi dan hal itu mengakibatkan hilangannya penglihatan secara permanen.

4. Developmental glaucoma

Glaukoma ini biasanya terjadi pada usia anak-anak. Biasanya hal ini tidak menimbulkan gejala apapun. Usia anak-anak bisa saja mengalami kerusakan optik yang disebabkan karena terjadinya penyumbatan sudut drainase atau malformasi, atau bisa juga disebabkan oleh kondisi lain seperti hasil dari glaukoma sekunder.

Beberapa gejala glaukomapada anak-anak yang bisa ditimbulkan ini antara lain adalah :

  1. Mata membesar karena terjadinya tekanan di mata
  2. Mata menjadi lebih sensitif terhadap cahaya (photophobia)
  3. Memiliki penampilan berawan pada mata
  4. Timbulnya mata berair
  5. Timbulnya gerakan dendeng dari mata
  6. Juling, yang merupakan kondisi mata yang menyebabkan salah satu mata untuk masuk ke dalam, ke luar atau ke atas.

5. Pigmentary glaucoma

Glaukoma jenis ini terjadi akibat adanya butiran pigmen dari iris mata yang membangun saluran drainase (trabecular meshwork) yang mengakibatkan terhambatnya cairan yang keluar dari mata yang pada akhirnya dapat meningkatkan tekanan pada mata. Pigmen yang menumpuk di  trabecular meshwork ini bisa terjadi karena beberapa aktivitas fisik seperti jogging.

Seseorang tidak dapat melihat adanya gejala glaukoma pigmentasi, meskipun beberapa rasa sakit dan pandangan kabur dapat terjadi setelah melakukan kegiatan fisik. Glaukoma pigmentasi ini paling sering mempengaruhi laki-laki kulit putih di pertengahan usia 30 sampai pertengahan 40 tahun.

Diagnosa Gejala Glaukoma

  • Mengukur tekanan intraokular dengan menggunakan tonometri yang merupakan tes skrining awal untuk glaukoma.
  • Uji kerusakan saraf optik untuk memeriksa kerusakan saraf optik dengan menggunakan instrumen untuk melihat langsung melalui pupil ke belakang mata. Prosedur Ini dapat menunjukkan perubahan yang dapat mengindikasikan awal dari glaukoma.
  • Uji bidang visual untuk memeriksa apakah bidang visual telah dipengaruhi oleh glaukoma yaitu dengan menggunakan tes khusus untuk mengevaluasi sisi (perifer) visi penglihatan.
  • Ketajaman visual untuk menguji kemampuan mata untuk melihat dari kejauhan.
  • Mengukur ketebalan kornea (pachymetry). Hal ini dapat mengakibatkan mata mati rasa. Prosedur ini dapat membantu menentukan ketebalan kornea untuk mendiagnosis glaukoma.
  • Tes lain seperti gonioscopy untuk membedakan antara glaukoma sudut terbuka dan glaukoma sudut tertutup. Prosedur ini menggunakan lensa khusus yang ditempatkan pada mata untuk memeriksa sudut drainase.

Pengobatan Glaukoma

Tujuan pengobatan terhadap gangguan glaukoma adalah untuk menurunkan tekanan dalam mata (intraocular pressure) yaitu dengan memperbaiki drainase cairan di mata atau menurunkan jumlah cairan yang diproduksi oleh mata. Meskipun gejala glaukoma tidak dapat disembuhkan dan kerusakan yang disebabkan tidak dapat dikembalikan, tetapi dengan melakukan pemeriksaan dan pengobatan secara teratur dapat menurunkan resiko hilangnya penglihatan pada pasien penderita glaukoma awal. Dan meskipun hilangnya penglihatan telah terjadi, namun pengobatan secara teratur dapat mencegah hilangnya penglihatan lebih lanjut. Jenis pengobatan glaukoma :

1. Penggunaan obat tetes mata

Penggunaan tetes mata merupakan salah satu cara untuk mengurangi gejala glaukoma. Pastikan untuk menggunakannya sesuai dengan petunjuk untuk menghindari kerusakan saraf otik yang lebih buruk. Pasien kemungkinan besar akan mengalami beberapa efek samping pada saat menggunakan obat tetes mata tersebut. Hal ini dikarenakan obat tersebut dapat terserap oleh darah. Untuk meminimalkan efek tersebut, sebaiknya setelah penerapan obat tetes, mata ditutup untuk sementara waktu sambil menekan sudut mata dekat hidung +/- 1 hingga 2 menit. Beberapa jenis obat tetes mata tersebut antara lain adalah :

  • prostaglandin
  • Beta blockers
  • Alpha-adrenergic agonis
  • Karbonat anhydrase inhibitors
  • Miotic or cholinergic agents
  • maupun obat-obatan kombinasi

2. Penggunaan obat oral

Beberapa jenis penggunaan obat oral biasanya dalam bentuk anhidrase inhibitor karbonat, untuk mengurangi tekanan pada mata. Penggunaan obat ini dapat menyebabkan efek samping seperti sering buang air kecil, sensasi kesemutan di jari tangan dan kaki, depresi, sakit perut, dan batu ginjal.

3. Operasi

Prosedur ini dilakukan pada saat mata tidak bisa mentolerir penggunaan obat-obatan dari dokter. Prosedur operasi dapat menimbulkan beberapa efek komplikasi seperti infeksi, peradangan, perdarahan, terjadinya tekaan mata baik itu terlalu tinggi maupun terlalu rendah, dan kehilangan penglihatan. Operasi juga dapat mempercepat perkembangan katarak, namun sebagian besar dari komplikasi tersebut dapat diobati secara efektif. Prosedur operasi yang dilakukan bisa berupa operasi laser, operasi penyaringan, maupun drainase implan.

Pencegahan Glaukoma

  1. Melakukan perawatan mata yaitu dengan jalan melakukan pemeriksaan mata secara rutin ke dokter mata membantu mendeteksi glaukoma pada stadium awal sebelum kerusakan permanen terjadi.
  2. Mengurangi tekanan yang terjadi pada mata, misalnya dengan penerapan obat tetes mata.
  3. Mengkonsumsi menu makanan sehat untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental seseorang. Selain itu, hal ini juga dapat membantu untuk mempertahankan berat badan normal dan mengontrol tekanan darah.
  4. Menggunakan alat pelindung mata untuk menghindari terjadinya cedera mata serius dapat menyebabkan glaukoma, seperti penggunaan pelindung pada saat menggunakan peralatan listrik, maupun menggunakan topi dan kacamata pada saat melakukan aktivitas di luar ruangan.