Featured

Bocah Laki-laki 13 Tahun Ini Kena Gangguan Mental Gara-gara Kecanduan Smartphone

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Sepertinya kalau anak remaja jaman sekarang kecanduan main ponsel bukan lagi hal yang aneh, namun tentunya para orangtua perlu menjadikan hal ini masalah serius meski umum. Kebanyakan remaja tak diawasi oleh orangtua ketika menggunakan smartphone, seberapa lama dan apa saja yang dimainkan oleh anak tersebut.

Kalau main smartphone berlebihan bisa picu masalah atau gangguan kesehatan pada mata, itu benar adanya. Hanya saja, ada yang lebih serius juga dari masalah mata dan konsentrasi, sebab pada dasarnya kecanduan main smartphone bagi remaja mampu menjadi pemicu rusaknya otak. Hal ini pun telah terjadi pada seorang remaja laki-laki usia 13 tahun asal China.

Orangtua remaja ini baru pertama kalinya memberi sang anak smartphone di mana sebenarnya tujuan utama pemberian ponsel pintar ini adalah agar hubungan dan komunikasi antar anak dan orangtua berjalan lancar. Karena orangtua begitu sibuk bekerja, sang anak diberi smartphone supaya bisa lebih gampang berkomunikasi dengan mereka.

Hanya saja sayangnya, remaja ini mungkin terlalu senang dan bersemangat dengan smartphone barunya, maka ia memainkannya hampir tiap hari. Ia berkutat dengan ponselnya baik siang maupun malam dan bahkan ia menggunakannya hingga tengah malam. Karena kebiasaan buruk inilah, sang bocah pun mengalami gangguan kesehatan yang termasuk parah.

Dilansir dari World of Buzz, mengejutkannya remaja ini berperilaku tak selayaknya karena sebulan yang lalu ia membenturkan kepala sendiri ke dinding secara mendadak ketika sedang masih di sekolah. Karena anak tersebut tak berhenti melakukannya, gurunya memanggil ibu anak ini di mana saat sang ibu tiba, kondisi anaknya malah memburuk.

Bukan lagi lemas, wajah anak remaja ini sampai bergerak-gerak sendiri juga. Tiap kali ibunya memanggil namanya untuk membangunkan, ia pun tak responsif. Setelah dilarikan ke rumah sakit, anak ini perlu menerima perawatan sampai kurang lebih sebulan (28 hari). Bukannya jadi lebih baik, kondisi anak ini malah lebih parah dan sampai pada tahap gangguan kesehatan mental.

Remaja ini juga jadi tak bisa bicara, tak dapat berjalan, apalagi menjaga diri sendiri di mana perilakunya persis bayi. Usai memeriksa secara detil, para dokter juga melihat laporan tes sebelumnya hingga hinggap pada kesimpulan bahwa hasil diagnosa anak ini adalah Ensefalitis Autoimun yang ternyata termasuk kategori baru. Menurut American Journal of Neuroradiology, penyakit ini melibatkan sistem saraf pusat yang merujuk pada gangguan kognitif dan diperantarai kekebalan tubuh.

Usai perawatan dan pihak medis memberi obat, kondisi bocah ini juga mengalami progres, ia dapat bicara lagi dan wajahnya tak kejang lagi. Kondisinya jauh lebih baik dan bahkan ia dapat mengenali orangtuanya lagi di hari ke-12 pengobatan. Menurut keterangan dokter, bermain ponsel terus-menerus sampai tengah malam tanpa beristirahat cukup menjadikan sistem daya tahan tubuh remaja ini lemah dan berakibat pada Ensefalitis Autoimun tadi; namun untungnya, kesehatannya sudah baik dan terus meningkat.