Spasmofilia

4 Ciri ciri Spasmofilia Paling Berbahaya

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Menurut dr. Dito Anurogo dari Indonesian Young Health Professionals’ Society (IYHPS), spasmofilia adalah kondisi saat saraf motorik menunjukkan sensitivitas yang abnormal terhadap rangsangan elektrik/mekanik, serta kecenderungan untuk mengalami kram, kaku otot, hingga kejang.

Pada umumnya, ciri-ciri spasmofilia yang timbul atau dialami penderita yaitu mereka merasakan ketidaknyamanan pada fisik berupa kedutan otot, terutama pada bagian kaki dan tangan. Penderita juga kerap mengalami kram otot, terutama pada bagian leher, punggung, dan lambung, serta kekakuan otot.

Selain gejala yang timbul pada fisik penderita, gejala psikis pun biasanya menyertainya seperti rasa cemas berlebihan, serangan panik, dan depresi yang merupakan gejala psikis yang mudah terlihat pada penderita spasmofilia. Akibatnya, penderita akan mudah memiliki emosi yang tidak stabil.

Penderita spasmofilia kerap lebih mudah berprasangka buruk terhadap seseorang atau suatu hal. Penderita akan mudah merasa takut secara berlebihan terhadap sesuatu yang belum terjadi. Ketakutan tersebut akan terus menghantui karena pikiran mereka yang dinilai terlalu khawatir.

Akibatnya dari ketakutan dan kecemasan berlebih tersebut, banyak dari penderita spasmofilia yang kemudian mengalami tidur gelisah, mimpi buruk, atau bahkan susah tidur (insomnia). Sedikit stres pun bahkan bisa membuat penderita sulit untuk tidur di malam hari.  Jadi, memang ketakutan berlebih akan memicu gangguan tidur yang lama-kelamaan dikhawatirkan akan kian parah. Maka, perlu untuk menjaga kesehatan mental agar tidak mudah mengalami stres. Karena akan berpengaruh pada kondisi tubuh.

Untuk lebih rincinya lagi, berikut ini ciri-ciri spasmofilia berupa gejala-gejala yang akan timbul pada penderita.

Gejala Spasmofilia:

  1. Gangguan pada pencernaan, berupa rasa kram pada perut. Gejalanya berupa mual, sakit di ulu hati, selera makan menurun, bahkan bisa sampai muntah. Gejalanya mirip dengan sakit maag atau asam lambung naik.
  2. Gangguan pernapasan menyebabkan napas menjadi pendek dan tersengal-sengal.
  3. Gangguan pada jantung, membuat otot dada kram yang akan membuat jantung berdebar dan rasa terhimpit seperti sakit jantung, terasa nyeri di bagian dada sebelah kiri, hiperventilasi, meningkatnya detak jantung, banyaknya keringat, dan sesak napas.
  4. Gangguan pada syaraf terutama otot leher, berupa munculnya kekakuan dan ketegangan pada leher, mudah berkeringat sehingga rentan mengalami hiperhidrosis, sakit kepala, capek dan pegal, kejang, gelisah, susah tidur, bahkan depresi.

Spasmofilia biasanya muncul pada usia-usia yang memiliki tingkat ketidakstabilan emosi yang tinggi atau galau berlebihan. Biasanya di usia-usia produktif sekitar belasan tahun hingga sekitar usia 35 tahun. Ketika terjadi emosi berlebih, biasanya akan mengalami kram pada tangan.

Marah yang telalu memuncak, cenderung diam dan memendam rasa amarah, menyebabkan meluapnya emosi. Hal ini bisa mengakibatkan munculnya gejala spasmofilia. Jadi, saat penderita melampiaskan emosi yang terpendam, maka muncul respons terhadap fungsi motorik. Sehingga penderita perlu melakukan pemeriksaan untuk diagnosis spasmofilia.

dr. Hardhi Pranata yang merupakan ahli saraf juga menyampaikan bahwa spasmofilia bisa terasa seperti sakit maag tapi bukan karena adanya masalah pada lambung, melainkan kram pada otot perutnya. Jadi jika seseorang merasa sakit maag terus-menerus dan tidak sembuh meskipun sudah minum obat, bisa jadi itu akibat kram pada otot perutnya.

Gejala lain yang muncul pada penderita spasmofilia adalah mengalami kejang tapi bukan karena epilepsi. Selain kram otot yang menjadi gejala utamanya, gejala lainnya adalah lesu dan mudah kesemutan.