Depresi

4 Jenis Depresi dan Penanganannya

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Depresi adalah kondisi kejiwaan atau kesehatan mental yang terjadi pada banyak orang, oleh karenanya dianggap umum oleh para ahli. Namun demikian kondisi ini tak boleh disepelekan, karena depresi yang tak tertangani dapat membahayakan dan merugikan kehidupan personal penderitanya.

World Health Organization mencatat setidaknya 3,8% dari populasi di dunia pernah mengalami depresi. Dengan perhitungan kasar, kira-kira ada 280 juta orang pengidap depresi. Jika dirinci berdasarkan usia, 5% penderita berasal dari kelompok orang dewasa dan 5,7% berasal dari kelompok orang lanjut usia (di atas 60 tahun).

Depresi tidak bisa disamakan dengan suasana hati atau mood yang buruk. Depresi bukan sekadar ‘bad day’. Depresi dapat mengganggu dan mempengaruhi kelancaran aktivitas sehari-sehari, sehingga berpotensi besar untuk berimbas negatif pada kehidupan sosial dan professional si penderita.

Gejala-gejala depresi yang patut diperhatikan :

  • Merasa sedih atau cemas setiap saat (dalam kurun waktu yang lama)
  • Kehilangan minat atas kegiatan yang dulu disukai
  • Mudah kesal atau tersinggung
  • Sulit tidur, mudah terbangun saat tidur
  • Bangun terlalu pagi atau tidur terlalu lama
  • Perubahan selera makan. Makan terlalu banyak atau tidak selera makan sama sekali
  • Merasakan nyeri, pusing, masalah dengan perut yang tak kunjung membaik dengan obat
  • Kesulitan berkonsentrasi, mengingat detail, atau membuat keputusan
  • Tetap merasa lelah meskipun sudah tidur nyenyak
  • Merasa bersalah, tak bernilai, tak berdaya
  • Memikirkan bunuh diri atau menyakiti diri sendiri

Kendati secara umum didasari oleh gejala yang sama, ada beberapa jenis depresi yang harus diketahui. Penting untuk memahami perbedaannya, sebab antara satu dan yang lain memiliki sebab dan kondisi yang berbeda-beda.   

1. Depresi Mayor (Depresi Klinis)

Beberapa orang pernah mengalami depresi klinis satu kali dan ada beberapa orang yang mengalaminya berkali-kali dalam perjalanan hidupnya. Depresi ini digambarkan sebagai perasaan putus asa yang terus menerus. Kondisi ini ditandai dengan perasaan depresif yang berlangsung seharian, kehilangan minat terhadap hobi yang sebelumnya disukai, juga kehilangan minat untuk terlibat dalam sebuah hubungan, dan gejala-gejala ini terjadi paling tidak selama dua minggu.

Namun demikian, tak menutup kemungkinan penderita depresi klinis mengalami gejala lainnya, seperti :  

  • Letih, kehilangan energi setiap hari
  • Merasa tak berharga atau bersalah setiap hari
  • Sulit memutuskan sesuatu, sulit berkonsentrasi
  • Insomia atau hypersomnia (tidur berlebihan) hampir setiap hari
  • Kehilangan minat saat melakukan hampir semua aktivitas setiap hari
  • Merasa gelisah
  • Berulang kali memikirkan kematian atau bunuh diri
  • Penurunan atau kenaikan berat badan yang signifikan

Depresi klinis umumnya disebabkan oleh kehilangan orang yang dicintai karena kematian, perceraian, atau perpisahan. Juga oleh keterasingan sosial, perubahan besar dalam hidup yang mendadak (pindah rumah, lulus sekolah, perubahan pekerjaan, pensiun), konflik pribadi dalam sebuah hubungan. Dan juga dikarenakan oleh kekerasan fisik, seksual, dan emosional.

2. Dysthymia (Depresi Kronis)

Depresi kronis tak jauh berbeda dengan depresi klinis, gejalanya sama namun tidak seintensif tipe klinis. Selain itu, perbedaan mencolok antara keduanya terdapat pada durasi waktu penderita merasakan depresi. Pada tipe ini, penderita merasakan gejala-gejala depresi selama dua tahun atau bahkan lebih.

Penderita juga dapat merasakan depresi klinis selama beberapa kali dalam kurun waktu tersebut. Oleh sebab itu, depresi kronis juga disebut sebagai ‘double depression’. Pada sistem klasifikasi diagnosa modern, kedua tipe depresi ini sering disebut sebagai Persistent Depressive Disorder.

Depresi kronis disebabkan oleh banyak hal. Namun demikian, ahli belum dapat memastikan secara jelas. Alasan genetis diduga berkontribusi terhadap kondisi ini, namun tak semua orang dengan rekam jejak depresi dalam keluarga sudah pasti bakal mengalami depresi kronis. Sebaliknya, orang yang terkena depresi kronis kadang berasal dari keluarga tanpa rekam jejak gangguan jiwa.

Fungsi otak yang abnormal turut diduga menjadi penyebab depresi kronis. Demikian juga dengan penyakit parah (jika penderita memilikinya), pengobatan, masalah dalam hubungan atau pekerjaan, turut berpotensi meningkatkan risiko pada orang-orang yang tengah mengembangkan gejala-gejala depresi.

3. Bipolar Disorder (Gangguan Bipolar)

Kondisi ini sangat berbeda dengan depresi secara umum, namun tetap digolongkan sebagai tipe depresi karena penderita merasakan mood yang sangat buruk sehingga masuk ke kriteria depresi. Penderita juga merasakan perubahan mood yang sangat ekstrem dan cepat, dari sangat senang menjadi sangat sedih, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dua mood ekstrem yang dirasakan penderita disebut sebagai ‘episode’. Saat penderita merasakan euphoria yang ekstrem, disebut sebagai episode manic. Sedangkan saat penderita merasakan putus asa dan sedih yang ekstrem, disebut sebagai episode depressive.

Satu episode dapat dirasakan penderita selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Suasana hati penderita seringkali tak sesuai dengan kejadian-kejadian yang berlangsung di sekelilingnya, atau singkatnya, tidak nyambung.

Saat episode manic terjadi, penderita umumnya akan merasakan gejala sebagai berikut :

  • Sangat senang (ekstrem)
    • Kepercayaan diri mendadak naik, mendadak punya ide-ide luar biasa
    • Peningkatan energi, aktivitas, dan kreativitas. Rasa ingin tidur berkurang
    • Peningkatan perilaku yang terfokus pada tugas/pekerjaan
    • Pikiran yang memburu, bicara terburu-buru (berganti topik dengan cepat)
    • Sangat mudah terdistraksi oleh stimulus-stimulus eksternal
    • Bertindak impulsive
    • Delusional, merasakan halusinasi

Sebaliknya, saat episode depressive, penderita umumnya merasakan:

  • Suasana hati yang sangat buruk
  • Kehilangan motivasi
  • Kehilangan minat pada hobi
  • Perubahan pola tidur
  • Sulit berkonsentrasi
  • Menarik diri dari kontak sosial dan aktivitas sehari-hari
  • Merasa tidak berharga atau bersalah, bisa juga termasuk merasa ingin bunuh diri

4. Gangguan Suasana Hati Musiman

Seasonal Affective Disorder atau gangguan suasana hati musiman adalah jenis depresi yang terjadi mengikuti pola musiman. Umumnya, gejala depresi mulai dirasakan penderita begitu musim dingin (salju) tiba dan mulai mereda saat musim semi.

SAD diduga disebabkan oleh perubahan paparan cahaya matahari selama musim dingin, dan biasanya umum terjadi di negara-negara dengan durasi waktu siang yang lebih pendek dan waktu malam (gelap) yang lebih lama seperti negara-negara dekat kutub. Gejala yang dirasakan umumnya sama seperti depresi, yakni menarik diri secara sosial, peningkatan waktu tidur, kenaikan berat badan. Gejala-gejala ini terjadi setiap tahun dalam pola musiman.

5. Depresi Postpartum

Postpartum berbeda dengan baby blue yang relative ringan dan selesai dalam kurun waktu dua minggu setelah persalinan. Depresi tipe ini jelas hanya dialami oleh wanita. Umumnya penderita akan merasakan depresi klinis selama kehamilan atau setelah kehamilan. Postpartum erat dikaitkan dengan perubahan atau fluktuasi hormon yang dialami wanita selama hamil, begitu juga dengan perubahan gaya hidup secara cepat ketika seorang wanita menjadi ibu.

Gejala-gejala depressive yang dirasakan penderita dapat sangat menganggu aktivitas dan kehidupan sang ibu jika tak tertangani dengan baik. Adapun gejala yang dialami adalah berikut :

  • Mood yang sangat buruk
  • Merasa tidak kompeten, atau gagal sebagai ibu
  • Merasa putus asa dengan masa depan
  • Merasa lelah, hampa, sedih, dan ingin menangis terus
  • Merasa bersalah, malu, atau tidak berharga
  • Merasa cemas atau panik
  • Kesulitan tidur, tidur terlalu lama, dan bermimpi buruk
  • Khawatir berlebihan terhadap sang bayi
  • Merasa takut sendirian atau takut keluar rumah

Depresi harus segera ditangani agar tak memperparah kondisi penderita. Orang terdekat penderita sepatutnya memeriksakan orang yang bersangkutan ke dokter atau psikolog terdekat untuk mendapatkan penanganan. Depresi umumnya ditangani melalui psikoterapi, penggunaan obat-obatan (antidepresan), terapi ECT (Electro compulsive therapy) dan Transcranial magnetic stimulation (TMS) jika penggunaan antidepresan tidak berpengaruh.

Tim medis/psikolog akan menentukan jenis penanganan yang terbaik untuk penderita, tergantung jenis depresi yang dialami, tingkat keparahan gejala, dan faktor-faktor lainnya. Umumnya, penanganan depresi dilakukan dengan tiga pendekatan, psikoterapi dan medikasi termasuk diantaranya. Namun selain dua metode tersebut, tim medis/psikolog juga akan menganjurkan perubahan gaya hidup.

Perubahan gaya hidup yang dimaksud adalah mengurangi penggunaan zat-zat adiktif, memperbaiki pola tidur, menambah frekuensi berolahraga untuk membarengi pengobatan melalui terapi dan medikasi [16]. Jika dokter memberi obat-obatan untuk menangani depresi, perlu diingat bahwa obat-obatan tersebut baru menunjukkan efeknya setelah beberapa minggu penggunaan.

Share