Categories: Penyakit dan Kelainan

10 Penyebab Inkontinensia Urine yang Wajib Anda Pelajari

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Penyakti dalam inkontinensia urine bisa disebabkan oleh kebiasaan sehari-hari, kondisi medis yang mendasari atau masalah fisik. Perlu dilakukan pemeriksaan dokter secara menyeluruh untuk mengetahui penyebab papsti di balik masalah inkontinensia anda.

Perlu anda ketahui bahwa penyebab inkontinensia urine dapat diketahui dari jenisnya. Berikut ini beberapa jenis inkontinensia urine beserta dengan penyebabnya yang harus anda ketahui.

1. Makanan dan Minuman Tertentu

Penyakit jenis inkontinensia urine sementara ini disebabkan oleh minuman, makanan, dan beberaa jenis obat tertentu yang berfungsi diuretik—namun malah memberikan rangsangan buruk pada kandung kemih dan menyebabkan peningkatan volume urine.

Makanan dan minuman penyebab inkontinensia urine antara lain seperti Alkohol, Kafein, Minuman berkarbonasi, air soda, Pemanis buatan, Cokelat, Cabai, Makanan yang tinggi bumbu, gula atau asam, buah jeruk dalam jumlah banyak, Obat jantung, tekanan darah, obat penenang, dan relaksan otot, serta vitamin C dalam dosis yang terlalu banyak.

2. Infeksi Saluran Kemih

Inkontinensia urin juga dapat disebabkan oleh kondisi medis yang mudah diobati, seperti Infeksi saluran kemih. Infeksi dapat mengiritasi kandung kemih Anda, menyebabkan Anda memiliki dorongan kuat untuk buang air kecil, dan kadang-kadang inkontinensia. Tidak hanya akan menyebabkan inkontinensia urine, infeksi saluran kemih juga bisa mengakibatkan macam-macam penyakit dalam perut.

3. Sembelit

Sembelit juga bisa menyebabkan inkontinensia urine. Rektum terletak di dekat kandung kemih dan berbagi banyak saraf yang sama. Tinja yang keras dan padat di rektum Anda dapat menyebabkan saraf ini menjadi terlalu aktif dan meningkatkan frekuensi kencing.

4. Diuretik untuk mengurangi kelebihan cairan

Diuretik, juga dikenal sebagai “pil air”, obat ini merangsang ginjal untuk mengeluarkan air dan garam yang tidak dibutuhkan dari jaringan dan aliran darah ke urin. Menyingkirkan kelebihan cairan membuat jantung Anda lebih mudah untuk memompa darah. Ada sejumlah obat diuretik, tetapi salah satu yang paling umum adalah furosemide (Lasix®).

Obat ini harus diminum dalam jumlah yang tepat, jika kelebihan justru menyebabkan masalah. Menurut ahli urologi Raymond Rackley, MD, sekitar 20 persen populasi AS menderita gejala kandung kemih yang terlalu aktif.

5. Garam Diet

Banyak dari pasien itu juga memiliki tekanan darah tinggi atau kondisi pembuluh darah, mengalami pembengkakan pada kaki atau pergelangan kak. Kondisi ini dapat diobati dengan terapi diuretik, namun efek buruknya membuat kondisi kandung kemih mereka tidak dapat mengontrol frekuensi urine. [AdSense-B]

HaLangkah pertama adalah memastikan Anda mengikuti petunjuk dokter yang tepat. Dr. Rackley merekomendasikan membatasi garam dalam diet Anda dan berolahraga untuk menurunkan berat badan. Kedua hal ini dapat mengurangi retensi garam dan tanda-tanda hiperglikemia secara alami.

6. Obat untuk hipertensi

Obat yang digunakan untuk mengurangi tekanan darah tinggi atau hipertensi dengan melebarkan pembuluh darah Anda juga dapat menyebabkan inkontinensia urine. Obat-obatan ini dikenal sebagai alpha blocker. Beberapa yang paling umum adalah Cardura®, Minipress® and Hytrin®.

Pada umumnya, hal ini biasa terjadi pada wanita. Oleh karenanya, disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengambil obat tertentu sebagai langkah pengobatan.

7. Obat Antidepresan dan penghilang nyeri narkotik

Beberapa obat antidepresan dan nyeri dapat mencegah kandung kemih berkontraksi sepenuhnya sehingga tidak kosong. Itu menimbulkan urgensi atau frekuensi atau disfungsi kandung kemih hingga mengakibtkan tanda-tanda usus buntu. Obat ini juga dapat mengurangi kesadaran anda untuk mengontrol atau menunda kebutuhan kencing dalam kondisi urgen. [AdSense-A]

Ada sejumlah jenis obat antidepresan yang juga menyebabkan inkontinensia urine. Semua antidepresan menghasilkan retensi urin dan, akhirnya mengakibatkan inkontinensia overflow. Kebanyakan antidepresan adalah inhibitor serapan norepinefrin dan atau serotonin. Beberapa juga bertindak sebagai antagonis pada reseptor adrenergik, kolinergik, atau histaminergik pada dosis terapeutik.

8. Obat penenang dan pil tidur

Menggunakan obat penenang dan pil tidur dapat menimbulkan inkontinensia urine. Obat ini dapat mengurangi kesadaran Anda tentang perlunya menahan air kencing.

Cara terbaik untuk mengatasi situasi ini adalah berupa bersantai dan memperbaiki kualitas tidur, misalnya dengan meditasi dan yoga.

9. Antipsikotik

Sejumlah antipsikotik telah diketahui menjadi penyebab inkontinensia urin. Beberapa di antaranya ialah termasuk klorpromazin, thioridazine, chlorprothixene, thiothixene, trifluoperazine, fluphenazine (termasuk enanthate dan decanoate), dan haloperidol.

Efek obat ini tentu saja tidak terjadi pada semua orang, namun dalam kebanyakan kasus peminum antipsikotik mengalami inkontinensia urine. Inkontinensia sembuh secara spontan setelah penghentian antipsikotik.

10. Diuretik

Tujuan dari diuretik adalah untuk meningkatkan pembentukan urin oleh ginjal. Akibatnya, diuretik meningkatkan frekuensi kencing dan dapat menyebabkan urgensi urin dan inkontinensia pada kandung kemih pasien.

Satu penelitian melaporkan hubungan antara diuretik dengan kondisi yang terkait dengan penggunaannya dan inkontinensia urin pada wanita. Dalam penelitian lain, penggunaan loop diuretik dengan alpha-blocker hampir dua kali lipat risiko inkontinensia urin dibandingkan alfa blocker saja, tetapi tidak ada peningkatan risiko tercatat ketika diuretik tiazid atau diuretik kalium ditambahkan ke alfa-blocker.

Demikian pemaparan tentang penyebab inkontinensia urine yang dapat terjadi pada siapa saja. Dapat dipastikan dari penjelasan di atas obat-obatan menjadi penyebab paling banyak kasus inkontinensia urine. Di samping makanan dan minuman tertentu juga dapat meningkatkan resiko inkontinensia urine pada seseorang. Oleh karenanya, anda harus menghindari obat-obatan dan makanan serta minuman di atas. Lebih baik mencegah, sebelum terjadi.