Monday, August 26, 2019
Home Kehamilan Hiperemesis Gravidarum

Hiperemesis Gravidarum

Hiperemesis gravidarum merupakan sebuah istilah untuk kondisi seorang wanita pada masa kehamilannya yang sering mual dan muntah-muntah dengan tingkat keparahan lebih tinggi dari morning sickness. Mual dan muntah kita ketahui sebagai kondisi yang dinamakan morning sickness di mana pada umumnya hanyalah dialami di 14 minggu pertama masa hamil seorang wanita dan lebih sering terjadi di pagi hari.

Berbeda dari morning sickness, pada kondisi hiperemesis gravidarum, wanita di masa kehamilannya akan merasakan mual yang tak hilang-hilang yang diikuti dengan muntah yang cukup sering juga. Hal ini kemudian menjadi penyebab dehidrasi cukup serius. Bahkan wanita hamil dengan kondisi ini tak memungkinan untuk menyimpan asupan cairan maupun makanan.

Tahap dan Gejala

Rupanya himeremesis gravidarum pun memiliki tingkat keparahan. Gejala yang muncul dapat berdasarkan pada tingkat keparahan kondisi. Ada 3 tingkatan atau tahap dari kondisi hiperemesis gravidarum dan yang paling ringan adalah kondisi hiperemesis gravidarum tahap pertama, kondisi sedang adalah pada tahap kedua dan tahap ketiga adalah yang paling serius.

  1. Tahap I

Pada tahap atau tingkatan hiperemesis gravidarum yang pertama, kondisi terbilang paling ringan di mana keadaan dipicu oleh sejumlah faktor, seperti berubahnya hormon estrogen di dalam tubuh, obesitas, meningkatnya hormon HCG, mempunyai riwayat hiperemesis gravidarum sebelumnya, faktor genetik, hamil pertama kalinya, mengandung anak kembar, hamil anggur, atau bisa jadi mengandung anak berjenis kelamin perempuan.

Pada tahap pertama ini, ada beberapa gejala yang mungkin sebetulnya cukup ringan meski tetap saja membuat tak nyaman dan menghambat kegiatan, seperti misalnya:

  • Lidah mengalami kekeringan.
  • Tubuh cepat lelah, terasa lemas dan lesu.
  • Nafsu makan berkurang.
  • Muntah setiap sehabis makan
  • Penurunan berat badan yang terjadi secara perlahan.
  • Gampang haus.
  • Volume urine mengalami penurunan alias makin lama makin sedikit.
  • Mata kelihatan cekung.
  • Denyut nadi meningkat frekuensinya, yakni bisa 100 denyut per menit.
  • Turgor kulit berkurang.
  • Penurunan tekanan darah sistolik.
  1. Tahap II

Pada tahap kedua akan hiperemesis gravidarum ini, penyebabnya diketahui hampir mirip dengan faktor penyebab dari tahap yang pertama, yakni faktor genetik, obesitas, hormon HCG yang berubah, hamil anak dengan jenis kelamin perempuan, hamil anak kembar, daya tahan tubuh rendah, serta hamil anggur. Untuk gejala yang paling nampak pada penderita tahap kedua dari hiperemesis gravidarum ini antara lain adalah:

  • Dehidrasi
  • Mata kelihatan cekung.
  • Lidah kering.
  • Lidah tampak kotor.
  • Penurunan berat badan drastis.
  • Muntah terus-menerus.
  • Konstipasi atau sembelit.
  • Wajah kelihatan pucat.
  • Aroma nafas seperti aseton.
  • Volume urine sedikit atau disebut juga dengan oliguria.
  • Di dalam urine terkandung zat aseton dan bilirubin.
  • Tak dapat berpikir secara jernih.
  • Mudah bingung dan linglung.
  • Sering diam serta tak banyak bicara.
  • Denyut nadi frekuensinya meningkat menjadi antara 100-140 kali setiap menitnya.
  • Penurunan tekanan darah sistolik sampai berada di bawah 80 mmHg.
  • Kulit kelihatan menguning.
  • Demam alias suhu badan meningkat.
  • Penurunan kesadaran secara sementara.
  • Berisiko tinggi mengalami koma.
  1. Tahap III

Hiperemesis gravidarum tak boleh diremehkan lagi ketika sudah pada tahap ketiga karena gejala komplikasilah yang dialami oleh penderita dalam hal ini sehingga akan menyebabkan ketidaknyamanan tingkat tinggi. Maka dari itu, tak heran pula bila para penderita kondisi hiperemesis gravidarum pada tahap ini memerlukan rawat inap di rumah sakit agar mendapatkan solusi pengobatan intensif.

Penyebab-penyebab hiperemesis gravidarum pada tahap ini antara lain adalah gangguan proses oksidasi lemak, gangguan pada ginjal, obesitas, peningkatan kadar hormon HCG, kekurangan nutrisi, penurunan daya tahan tubuh, hamil anak kembar, hamil anggur, hamil anak perempuan, morning sickness berlebihan, faktor genetik, serta keterlambatan penanganan akan kondisi hiperemesis gravidarum tahap 1 dan 2 yang tak segera diatasi. Berikut adalah gejala paling umum dari kondisi tahap ketiga ini:

  • Gangguan mental.
  • Volume urine sedikit.
  • Di dalam urine terkandung zat keton.
  • Penurunan tekanan darah sistolik namun tidak secara terus-menerus.
  • Demam
  • Dehidrasi yang berlebihan.
  • Mata tampak cekung.
  • Muntah-muntah.
  • Mual namun rasa mual akan hilang dan muncul terus-terusan.
  • Gangguan organ jantung.
  • Sianosis alias kulit memucat serta kebiiruan karena oksigen dalam darah mengalami penurunan.
  • Nigtamus alias bola mata yang terganggu.
  • Peningkatan kadar bilirubin dalam darah sehingga mampu menjadi penyebab kulit berwarna kuning.

Ada beberapa kasus di mana hipermesis gravidarum tahap parah dialami para wanita hamil dan pada kondisi tahap serius ini, penderita bakal terus-menerus muntah sehingga menyebabkan perdarahan di bagian kerongkongan. Bahkan ada risiko juga bagi penderita mengalami gangguan ginjal, hati, jantung, usus dan lambung; sang ibu hamil pun berpotensi besar melahirkan secara prematur.

Kapan harus memeriksakan diri segera ke dokter?

Hiperemesis gravidarum pada umumnya dapat timbul ketika seorang wanita hamil pada trimester awal. Ketika gejala-gejala seperti di bawah ini mulai dirasakan, maka periksakan kondisi Anda secepatnya ke dokter.

  • Mual-mual secara konstan.
  • Mual lebih dari 3-4 kali dalam sehari.
  • Mengalami penurunan selera makan cukup drastis.
  • Dehidrasi
  • Mengalami penurunan berat badan cukup drastis.
  • Mengalami sensasi kepala melayang atau sering sakit kepala.

Penyebab

Setiap kondisi gangguan kesehatan tentu selalu ada penyebab di baliknya, begitu pun dengan kondisi hiperemesis gravidarum. Hampir seluruh wanita hamil mengalami beberapa tingkat morning sickness. Morning sickness memang merupakan gejala yang sangat umum dalam masa kehamilan di mana hal ini ditandai dengan mual dan muntah-muntah. Meski begitu, kondisi morning sickness bukan hanya bisa terjadi di pagi hari, melainkan kapanpun bisa saja mengalami mual dan muntah.

Hiperemesis gravidarum dan juga morning sickness diketahui memiliki kaitan erat dengan hormon HCG atau hormon yang plasenta bentuk selama hamil. Hormon satu ini diproduksi dalam jumlah besar secara cepat pada awal masa kehamilan seorang wanita.

Level hormon HCG diketahui mampu menjadi berlipat ganda setiap 48-72 jam menurut American Pregnancy Association dan kadar atau level tersebut dapat terus berlanjut meningkat sepanjang masa kehamilan. Itulah inti dari terjadinya hiperemesis gravidarum, namun tetap juga ada beberapa faktor risiko yang memperbesar potensi seseorang menderita penyakit satu ini.

Faktor Risiko

Sejumlah faktor risiko perlu dan penting untuk kita ketahui bersama agar dapat mewaspadai faktor-faktor tersebut dengan baik, seperti misalnya faktor:

  • Memiliki riwayat hiperemesis gravidarum sebelumnya.
  • Obesitas alias kelebihan berat badan.
  • Hamil kembar.
  • Pertama kali hamil.
  • Penyakit trofoblastik; kondisi gangguan kesehatan ini dapat muncul apabila ada pertumbuhan sel abnormal di dalam rahim.
  • Riwayat kesehatan keluarga; bila saudara kandung atau justru orang tua pernah mengalami hiperemesis gravidarum saat hamil, maka ini bisa menjadi pengaruh cukup besar bagi Anda untuk menderitanya juga.

Pengobatan

Saat gejala utama terjadi, yakni seperti mual dan muntah dialami dan berintensitas tinggi, lebih baik jangan abaikan dan justru langsung segera menemui dokter agar dapat langsung diperiksa. Pemeriksaan detil seperti tes urine, tes darah, tes kadar elektrolit, maupun USG kiranya akan dokter sarankan bagi Anda untuk menempuhnya. Tujuan serangkaian tes tersebut adalah untuk memastikan apakah memang hiperemesis gravidarumlah yang menjadi penyebab dan bukan karena penyakit lainnya.

Ini karena ada sejumlah kondisi lain selain hiperemesis gravidarum yang menunjukkan gejala seperti mual-mual dan muntah-muntah yang cukup sering. Penyakit yang biasanya ditandai dengan gejala-gejala seperti itu antara lain adalah penyakit usus buntu, gangguan organ hati, serta gangguan pencernaan lambung yang ada kaitannya dengan penyakit maag atau kenaikan asam lambung.

Pengobatan Dokter

Karena pada penyakit hiperemesis gravidarum memiliki tahapan atau tingkatan yang menunjukkan parah tidaknya gejala yang dialami, maka tentunya penanganan sedini mungkin diperlukan supaya efektivitas hasilnya lebih besar. Setelah pemeriksaan dan dokter menemukan bahwa benar gejala yang dikeluhkan adalah gejala hiperemesis gravidarum, maka barulah dokter baru bisa memberikan solusi pengobatan bagi Anda.

  • Obat anti mual.
  • Obat steroid.
  • Vitamin B6 dan B12.

Ketika hiperemesis gravidarum telah sampai pada tahap ketiga alias yang paling parah, penanganan yang perlu didapatkan oleh pasien adalah rawat inap. Tujuan rawat inap ini adalah agar mampu mencegah komplikasi lebih lanjut yang berbahaya bagi kesehatan sang ibu maupun bayi dalam kandungan.

Untuk obat-obatan seperti obat anti mual, pada umumnya pemberian obat jenis ini adalah dengan suntikan langsung dan dokterlah yang akan melaksanakannya ke dalam pembuluh vena atau otot pasien. Ketika dehidrasi serius sudah terjadi, maka dokter pun akan melakukan pemasangan infus supaya asupan cairan pasien bisa terus terjaga dengan baik.

Pengobatan Alami

Selain dari pengobatan dari dokter, ada pula beberapa cara menangani hiperemesis gravidarum secara alami yang juga biasanya ampuh dalam mengatasi masalah morning sickness pada wanita hamil. Berikut ini merupakan beberapa langkah serta penggunaan bahan alami yang layak dicoba demi membuat gejala mereda dan kondisi lebih baik.

  • Menggunakan Lemon

Untuk masalah mual dan muntah, gejala seperti ini bisa coba diatasi lebih dulu dengan bahan-bahan alami seperti buah yang mengandung vitamin C tinggi ini. Air perasan lemon yang dicampurkan ke dalam air putih dapat membantu meredakan rasa mual. Pastikan untuk menggunakan buah lemon segar dan imbangi pula dengan konsumsi banyak air putih agar mencegah bahaya dehidrasi.

  • Menggunakan Peppermint

Rasa mual dan muntah yang membuat Anda super tidak nyaman dapat juga diatasi dengan bahan alami seperti peppermint. Baik itu peppermint dalam bentuk permen atau teh peppermint, keduanya mampu membantu Anda dengan gejala tak mengenakkan tersebut. Perut yang terasa mual-mual terus biasanya akan menjadi lebih tenang setelah memperoleh asupan peppermint ini.

  • Menggunakan Jahe

Walau kita perlu mewaspadai adanya efek samping jahe, jahe sendiri merupakan sebuah jenis rempah yang memberikan manfaat besar bagi gangguan kesehatan seperti mual dan muntah. Saat kita sedang masuk angin, rasa mual dan muntah pun akan dialami, jahe adalah salah satu solusi tepat bukan?

Mengonsumsi teh jahe sepanjang hari mampu membantu meredakan gejala hiperemesis gravidarum sambil juga terus memberikan asupan cairan bagi tubuh secara cukup sehingga terhindar dari dehidrasi. Teh jahe organik adala yang lebih dianjurkan karena juga lebih mudah untuk dibuat dan disajikan nantinya.

  • Menggunakan Cuka Apel

Cuka apel pun rupanya berkhasiat dalam membantu para penderita hiperemesis gravidarum, yakni dengan mengambil sesendok makan cuka apel yang kemudian bisa Anda campurkan dengan sesendok makan madu murni di dalam air dingin. Konsumsilah setiap sebelum berangkat tidur di malam hari selama beberapa hari untuk merasakan hasilnya.

  • Akupresur

Ketika hiperemesis gravidarum menyerang, pengobatan alternatif semacam akupresur dapat dijadikan solusi yang tepat. Teknik pengobatan satu ini adalah dengan memberikan tekanan bertenaga yang dilakukan secara lembut di bagian tertentu kaki atau tangan tergantung dari kondisi sang pasien. Bagian tertentu yang diberi tekanan tersebut haruslah yang berkaitan dengan gejala yang dirasakan oleh pasien.

  • Menggunakan Minyak Esensial Lavender

Selain mengatasi gejala hiperemesis gravidarum dengan mengonsumsi rempah atau herbal tertentu, sebenarnya ada pula bahan alami yang bisa diandalkan untuk meredakan rasa mual dan muntah dengan cara dihirup. Minyak esensial lavender selain mampu menjadi cara mengatasi stres, Anda bisa gunakan dengan memasukkannya ke dalam humidifier atau diffuser untuk dapat dihirup setiap saat.

  • Menggunakan Kompres Beraroma Lavender

Ada lagi cara ampuh dan efektif tanpa efek samping yang mampu meredakan gejala hiperemesis gravidarum, yakni dengan menggunakan kompres beraroma lavender. Taruhlah kompres beraroma lavender yang dingin pada kening Anda serta kompres lavender hangat pada bagian perut atau tulang rusuk di mana cara ini cukup membantu juga.

  • Pijatan dengan Menggunakan Minyak Kamomil

Seperti kita ketahui bersama bahwa minyak kamomil merupakan salah satu juga bahan alami yang kerap digunakan untuk menenangkan diri di kala stres. Untuk hiperemesis gravidarum, bahan ini bisa digunakan sebagai minyak pijat; oles pada bagian tubuh yang membutuhkan pijatan, lalu berikan pijatan lembut.

Bagaimana cara pencegahan hiperemesis gravidarum?

Penderita hiperemesis gravidarum bisa saja sudah pernah mengalami kondisi ini pada kehamilan yang sebelumnya. Anggota keluarga yang memiliki kondisi ini pun juga akan memengaruhi kondisi Anda serta meningkatkan risiko Anda menderita hiperemesis gravidarum. Bila sudah tahu betul bahwa Anda mempunyai potensi untuk menderita gangguan kesehatan ini, maka segeralah berkonsultasi dengan dokter, khususnya sewaktu berencana untuk hamil.

Apa saja bahaya komplikasi dari hiperemesis gravidarum?

Ketika kondisi hiperemesis gravidarum tak mampu ditangani dengan baik, ada kemungkinan gejala terus berlanjut dan hal ini pun menjadi pemicu komplikasi serius terjadi pada penderitanya. Para wanita hamil dengan kondisi ini mampu mengalami risiko komplikasi berikut juga dengan janinnya. Sejumlah komplikasi yang dimaksud di sini antara lain:

  • Tekanan darah rendah pada sang ibu.
  • Meningkatnya kadar asam keton atau yang kita sebut dengan istilah ketosis yang berbahaya bagi tubuh sang ibu dan janin.
  • Kekurangan nutrisi.
  • Tidak seimbangnya elektrolit serta asam-basa.
  • Kekurangan cairan atau dehidrasi.
  • Kelahiran bayi prematur.
  • Bayi lahir dengan berat badan yang terlalu rendah.
  • Ibu dan janin meninggal.

Kabar baiknya, gejala-gejala yang dirasakan ketika menderita hiperemesis gravidarum otomatis akan hilang pasca persalinan. Hanya saja, selama gejala terjadi jangan ragu untuk menemui dokter serta mengonsultasikan segala apa yang Anda rasakan. Karena bila kurang tepat penanganannya, bukan hanya kesehatan Anda yang terkena dampak, melainkan juga bayi di dalam kandungan.

Recommended