Displasia – Penyebab, Gejala, Pengobatan dan Pencegahan

√ Verified Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Displasia mungkin bukan istilah asing bagi kita, tapi banyak dari kita yang tak tahu-menahu tentang apa itu displasia. Perkembangan sel jaringan yang tak wajar atau tak normal disebut juga dengan displasia. Istilah ini merupakan sebuah istilah medis dan penggunaannya lebih sering dilakukan pada bidang onkologi. Onkologi ini merupakan sebuah bidang ilmu yang mempelajari tentang penyakit kanker.

Seringkali, displasia adalah pertumbuhan kanker pada tahap yang sangat awal dan displasia ini juga termasuk dalam golongan kanker in situ pada sejumlah jenis kanker. Itu artinya, jaringan atau sel yang tak normal sudah ada sifat kanker yang dibawa hanya saja memang pertumbuhannya masih terbatas di jaringan atau sel asal.

Pada displasia, jaringan atau sel kanker diketahui belum menyebar atau meluas ke organ maupun jaringan lain. Sejumlah besar sel pada jaringan sel normal diketahui adalah sel matur atau bisa juga disebut juga dengan sel dewasadan sel muda hanya dijumpai sebagian kecil saja. Ketika jaringan mengalami displasia, otomatis jumlah sel muda yang tadinya sedikit pun ditemukan lebih banyak.

Ketika sel mudah bertambah banyak, maka sel dewasa atau sel matur pun menjadi lebih sedikit. Ada satu contoh yang perlu diketahui, yakni displasia sel leher rahim di mana pemeriksaan displasia dinding leher ini dapat dilakukan melalui pap smear. Akan nampak nantinya ada banyak sel-sel muda ketika berada di bawah mikroskop.

Saat hal ini sungguh-sungguh terjadi, maka penting bagi pasien untuk memperoleh tindakan cepat karena ketika diabaikan begitu saja, displasia dapat berkembang scara cepat menjadi kanker leher rahim. Kanker leher rahim adalah salah satu contoh penyakit ganas yang menjadi momok bagi para wanita.

Displasia juga dikenal sebagai sebuah kondisi yang merujuk pada pembentukan sel tak beraturan dan hal ini kemudian disertai juga dengan metaplasia skuama. Ini terjadi mirip pada serviks atau bronkus serta hiperplasia epitelium skuama di mana ini adalah hasil cahaya matahari pada proses pengasalan.

Displasia dan metaplasia kerap kali tak bisa dibedakan dan banyak yang kerap tertukar dalam menggunakan kedua istilah ini. Metaplasia sendiri adalah sebuah keadaan ketika ada jaringan dewasa lain yang menggantikan jaringan dewasa yang sudah ada lebih dulu pada sebuah organ. Dan jaringan dewasa lain tersebut biasanya diketahui asalnya bukan dari tempat itu.

Displasia yang masih dalam tahap paling ringan atau yang juga disebut dengan tahapan prakanker leher rahim justru tidak perlu dikhawatirkan. Ternyata pada kasus displasia yang ringan, penderita tak perlu melakukan penanganan apapun karena kondisi tersebut bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, memang selalu ada risiko bahwa displasia bisa berkembang menjadi tahap sedang atau berat.

(Baca juga: kram perut bawahgejala radang panggulobat penebalan dinding rahim)

Penyebab

Seperti kita ketahui, displasia adalah suatu perkembangan sel atau jaringan yang dianggap tak wajar. Tentunya hal ini pun tak terjadi begitu saja, ada sejumlah faktor yang dapat mendukung suatu sel/jaringan untuk mengalami displasia. Berikut ini adalah faktor-faktor yang perlu dikenali:

  • Faktor keturunan atau genetika di mana ketika misalnya orang tua memiliki riwayat kanker, maka sang anak pun akan memiliki risiko lebih besar dalam menderita kanker yang sama. Ini karena dari kondisi tubuh orang tua, jaringan tubuh anak pun menurun dari orang tuanya sehingga tingkat kerentanan terkena displasia pun juga makin tinggi.
  • Tubuh kekurangan sejumlah jenis hormon yang bertugas sebagai pengatur keseimbangan fungsi pada tubuh manusia.
  • Keadaan peradangan atau infeksi yang sudah berada pada tahap kronis.
  • Logam berat.
  • Radikal bebas di mana ini bisa diperoleh dari makanan-makanan cepat saji (junk food), polusi udara, dan asap rokok (tak hanya perokok aktif tapi juga perokok pasif karena ada bahaya menelan asap rokok).
  • Bahan radiokatif.
  • Radiasi (contohnya: radiasi ultraviolet dan radiasi sinar rontgen).
  • Zat kimia karena ada bahaya bahan kimia bagi kesehatan tubuh manusia. (contoh paling umum: pengawet makanan).

(Baca juga: penyakit fibroid)

Gejala

Kalau biasanya pada suatu kondisi tertentu ada penyebab dan ada tanda-tanda atau gejala, maka pada displasia ini diketahui tak bergejala. Tak ada gejala apapun yang ditimbulkan oleh displasia dan ini karena displasia sendiri memerlukan pengamatan laboratorium pada tingkat jaringan yang masih terbilang baru.

Biasanya, untuk mengetahui kondisi displasia pada seseorang diperlukan metode pengamatan secara mikroskopis agar didapatkan hasil yang jelas. Gejala tak dirasakan pada umumnya oleh orang-orang pada tingkat individu. Maka dari itu, banyak kasus di mana kemudian displasia berkembang menjadi kanker karena tak terdeteksi; barulah setelah berkembang menjadi kanker, gejala pun timbul.

(Baca juga: bahaya inframerah)

Pengobatan

Intinya, displasia ini adalah calon kanker dan sangat penting untuk melakukan deteksi sedini mungkin terhadap displasia. Memang cukup sulit untuk mendeteksi adanya displasia karena displasia sendiri tak menyebabkan gejala apapun. Hanya saja, pengecekan kesehatan secara rutin adalah cara terbaik agar mampu menjumpai ada tidaknya calon kanker ini.

Pengenalan risiko adalah hal yang paling penting ketike memulai proses pendeteksian dini. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, ada baiknya seseorang mengetahui apakah di keluarganya memiliki riwayat kanker, terutama pada orang tua. Riwayat paparan zat kimia atau radioaktif pun juga penting untuk diketahui agar bisa mendeteksi secara lebih mudah.

Pola hidup dan pola makan seseorang juga mampu memengaruhi kesehatan tubuh, jika makanan-makanan berbahan pengawet dan juga makanan cepat saji adalah yang dinikmati setiap hari, tentu bukan hal yang mengherankan lagi kalau kemudian timbul sel atau jaringan yang tak normal di dalam tubuh seseorang tersebut. Perhatikan juga adanya faktor risiko lainnya agar dapat lebih menjaga kesehatan diri.

(Baca juga: keputihan normal vs tidak normal)

Pencegahan

Supaya displasia tidak terjadi, maka Anda perlu benar-benar memerhatikan setiap hal dalam gaya hidup Anda. Di bawah ini merupakan sejumlah langkah yang kiranya membantu untuk memperkecil risiko terserang displasia sekaligus mengurangi risiko displasia berkembang cepat menjadi kanker.

  • Menjaga berat badan karena ada bahaya obesitas terhadap kesehatan hingga kanker.
  • Melakukan pemeriksaan atau pendeteksian dini yang tentunya harus secara teratur. Pada usia wanita antara 21-65 tahun perlu melakukan pemeriksaan tersebut paling tidak 3 tahun sekali.
  • Hubungan seksual di usia muda perlu dihindari, yakni usia di bawah 20 tahun.
  • Tidak melakukan hubungan seksual secara sembarangan alias bergonta-ganti pasangan.
  • Menghindari kebiasaan merokok dan dekat-dekat dengan perokok agar asapnya tidak terhirup.
  • Memperoleh vaksin supaya HPV (human papilloma virus) dapat dilawan (dengan memperoleh vaksin ini, wanita akan mendapatkan perlindungan dari infeksi virus HPV, khususnya tipe 18 dan 16 yang berisiko tinggi menjadi penyebab dari kanker leher rahim alias kanker serviks. Infeksi virus tipe tersebut dijumpai pada penderita kanker serviks sejumlah 70 persen.
  • Ketahui cara menjaga kesehatan alat reproduksi wanita juga dan praktikkanlah.

Untuk pencegahan dengan vaksin, perempuan dengan usia antara 9-26 tahun adalah yang paling dianjurkan dan memang yang paling baik karena rata-rata pada usia tersebut belumlah melakukan hubungan seksual juga. Hanya saja, pemberian vaksin bagi perempuan dengan umur 45 tahun pun juga ada dan perlindungan tersebut terbukti sama baiknya. Hal seperti ini membutuhkan konsultasi lebih lanjut dengan dokter agar tidak terjadi kesalahan.

(Baca juga: ciri-ciri rahim sehat – gejala sakit di bawah perut gejala polip rahim)

Diketahui bahwa displasia yang ada pada leher rahim disebabkan oleh virus HPV dan sayangnya, tidak dijumpai cara pengobatan untuk infeksi virus HPV ini. Namun segala sesuatunya bisa dicegah kalau dapat memperoleh vaksinasi sebelum infeksi mengenai orang tersebut. Ketika ada peradangan juga di bagian leher rahim, maka hal ini tak bisa dibiarkan dan penderita perlu memperoleh terapi sebelum pap smear ulang dilakukan.

Ketika displasia sudah telanjur terjadi dan dialami, pasien perlu melakukan tindakan cepat. Tindakan yang dimaksud di sini tentunya adalah tindakan yang paling sesuai dengan bagian tubuh (organ) yang terserang. Pengangkatan jaringan atau pemotongan adalah tindakan yang terbilang paling umum supaya tidak kemudian menjadi menyebar dan semakin ganas. Ini karena displasia sendiri adalah awal dari penyakit kanker, jadi tak bisa untuk diremehkan, apalagi diabaikan.

fbWhatsappTwitterLinkedIn