Sponsors Link
     Sponsors Link

Gagal Jantung Kongestif : Gejala, Penyebab, Bahaya, dan Pengobatannya

ads

Gagal jantung kongestif atau dalam dunia medis juga sering disebut dengan congestive heart failure (CHF) adalah kegagalan jantung dalam memompa pasokan darah yang dibutuhkan oleh tubuh. Kondisi ini terjadi karena adanya kelainan pada otot-otot jantung sehingga menyebabkan jantung tidak bisa bekerja secara normal. Gagal jantung kongestif berlawanan konotasi dengan gagal jantung pada umumnya, di mana jantung tidak benar-benar gagal bekerja secara normal. Saat seseorang mengalami gagal jantung kongestif, kemampuan jantung untuk memompa darah akan menjadi lemah dan tidak bertenaga.

Bisa digambarkan bahwa perputaran aliran darah yang melalui jantung dan juga tubuh menjadi lebih lambat sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah di dalam pembuluh darah. Hal tersebut menyebabkan pembuluh darah mendorong cairannya menuju jaringan tubuh yang lain dan mengakibatkan adanya penumpukan cairan di beberapa organ tubuh, seperti di paru-paru, hati, tangan, kaki, dan juga saluran pencernaan.

(Baca juga: gejala gagal jantung)

Mekanisme Terjadinya Gagal Jantung Kongestif

Bagaimana gagal jantung kongestif bisa terjadi? Jantung kita memiliki empat ruang yang masing-masing memiliki tugas yang berbeda-beda. Gagal jantung kongestif ada beberapa tipe, di antaranya tipe sebelah kiri, sebelah kanan, dan juga campuran. Pada seseorang yang menderita gagal jantung kongestif sebelah kiri, ruang jantung sebelah kiri atau ventrikel kiri jantung tidak bisa berfungsi dengan baik. Dalam keadaan normal, bagian ini sebenarnya memiliki tugas untuk mengalirkan darah secara optimal ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah arteri.Ketika bilik kiri tidak bisa berfungsi secara normal, maka terjadilah peningkatan tekanan pada serambi kiri serta pembuluh darah di sekitarnya. Hal tersebut menyebabkan adanya penumpukan cairan di paru-paru (edema paru). Selanjutnya, penumpukan cairan tersebut akan berlanjut di organ perut dan juga kaki. Kondisi tersebut juga akan mengganggu kinerja ginjal hingga menyebabkan konsentrasi air dan garam di dalam tubuh lebih banyak dari pada yang dibutuhkan.

Dari banyaknya kasus gagal jantung kongestif ada beberapa kasus yang tidak disebabkan oleh kegagalan ruang bawah bagian kiri dari jantung ketika memompa darah ke seluruh tubuh. Ventrikel kiri jantung yang tidak bisa melakukan relaksasi juga bisa menyebabkan terjadinya gagal jantung kongestif. Saat ventrikel kiri jantung tidak mampu melakukan relaksasi maka terjadilah penumpukan darah ketika jantung melakukan tekanan balik.

Gejala Gagal Jantung Kongestif

Pada beberapa kasus, gagal jantung bisa saja tidak menunjukkan adanya gejala sama sekali. Akan tetapi dari kebanyakan kasus yang ditemui, gagal jantung kongestif bisa menunjukkan beberapa gejala, bisa berupa gejala yang ringan namun juga bisa gejala yang relatif berat. Gejala-gejala tersebut bisa muncul kapan saja dan dalam jangka waktu tertentu. Pada masa awal dideritanya gagal jantung kongestif kemungkinan gejala yang ditunjukkan tidak begitu nampak. Akan tetapi seiring dengan berkembangnya penyakit yang semakin parah, gejala yang ditunjukkan juga akan semakin terlihat dan terasa semakin sakit. Menurut pengamatan, setidaknya ada 3 tahapan gejala yang akan dialami oleh penderita gagal jantung kongestif, di antaranya:

1. Gejala Tahap Awal

Tahap awal gagal jantung kongestif biasanya ditunjukkan melalui beberapa gejala. Penderita biasanya akan mengalami:

  • Pembengkakan pada kaki dan juga pergelangan kaki karena jantung tidak bisa memompa darah dengan baik sehingga ada penumpukan cairan pada area kaki dan juga pergelangan kaki.
  • Cepat lelah. Kondisi tersebut terjadi karena gangguan jantung akan menyebabkan suplai oksigen ke suluruh tubuh terganggu sehingga tubuh menjadi mudah lelah.
Sponsors Link

(Baca juga: penyebab tubuh kekurangan oksigen)

  • Kenaikan berat badan yang signifikan karena konsentrasi cairan dan juga garam di tubuh meningkat sehingga berat badan akan bertambah.
  • Makin sering buang air kecil terutama ketika malam hari.

2. Gejala Tahap Kedua

Gejala tahap kedua muncul ketika kondisi penyakit semakin memburuk. Penderita gagal jantung kongestif biasanya akan mengalami gejala berikut ini:

  • Denyut jantung semakin tidak teratur. Kondisi tersebut menandakan adanya usaha jantung untuk menyediakan pasokan darah yang cukup untuk seluruh tubuh.

(Baca juga: penyebab gangguan ritme jantung)

  • Paru-paru terasa sesak hingga menyebabkan batuk. Kondisi tersebut biasanya tidak reda bahkan ketika penderita sedang beristirahat. Biasanya penderita akan mengalami batuk kering dan mengi.
  • Sesak napas, terjadi karena paru-paru dipenuhi oleh cairan. Kondisi ini muncul karena pasokan darah ke ginjal menurun sehingga terjadi penyimpanan cairan di beberapa organ tubuh, salah satunya di paru-paru.

3. Gejala Ketika Gagal Jantung Kongestif Sudah Parah

Saat penderita gagal jantung kongestif dalam tahap yang parah, biasanya penderita akan mengalami beberapa gejala berikut ini:

  • Rasa nyeri bagian dada yang akan menjalar melalui tubuh bagian atas. Kondisi tersebut juga bisa menandakan adanya serangan jantung.

(Baca juga: penyebab dada sakit dan sesak)

  • Beberapa bagian pada kulit tubuh akan berwarna kebiiru-biruan karena paru-paru kekurangan oksigen sehingga otomatis seluruh organ rubuh juga akan kekurangan suplai oksigen.
  • Tarikan napas menjadi cepat dan juga pendek karena kapasitas paru-paru terhadap oksigen berkurang.
  • Mengalami pingsan karena tubuh tidak bisa bekerja secara optimal lagi akibat kurangnya suplai oksigen.

(Baca juga: penyebab pingsan)

Penyebab Gagal Jantung Kongestif

Gagal jantung kongestif disebabkan oleh berbagai macam penyakit yang menyebabkan kekakuan otot-otot jantung dan juga berbagai macam penyakit yang menyebabkan peningkatan permintaan oksigen di luar kemampuan jantung untuk memenuhinya. Ada berbagai macam faktor yang bisa menyebabkan gagal jantung kongestif. Satu faktor bisa menyebabkan gagal jantung kongestif, apabila beberapa faktor tergabung sudah tentu resiko untuk mengalami gagal jantung kongestif juga akan meningkat. Adapun beberapa faktor yang akan meningkatkan resiko seseorang terkena gagal jantung kongestif adalah sebagai berikut:

  • Hipertensi atau tekanan darah tinggi, penyakit ini menyebabkan kinerja jantung meningkat sehingga bisa menyebabkan gagal jantung.
  • Penyakit arteri koroner, kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah arteri mengalami penyempitan sehingga menyebabkankan suplai oksigen ke jantung menurun, akibatnya otot jantung akan semakin lemah.
  • Serangan jantung, ketika terjadi serangan jantung, otot jantung akan mengalami luka sehingga tidak lama setelah itu jantung tidak mampu berkontraksi secara normal.
  • Diabetes, kadar glukosa darah yang terlalu tinggi akan menyebabkan peningkatan endapan material lemak di bagian dinding pembuluh darah. Endapan tersebut akan menyebabkan penyempitan hingga penyumbatan pembuluh darah yang nantinya akan mengganggu aliran darah.
  • Apnea tidur, seseorang yang mengalami gangguan tidur berupa apnea tidur akan kekurangan suplai oksigen ke dalam tubuhnya. Hal tersebut otomatis akan menyebabkan ritme jantung menjadi tidak normal. Kedua kondisi tersebut akan meningkatkan resiko terkena gagal jantung kongestif.
  • Kelainan jantung bawaan, kelainan jantung apapun bisa meningkatkan resiko gagal jantung kongestif, termasuk kelainan jantung yang sudah diderita sejak lahir.
  • Penyakit jantung katup juga bisa menyebabkan gagal jantung kongestif.
  • Infeksi virus, bisa memicu kerusakan organ tubuh termasuk gangguan pada kinerja jantung.
  • Merokok akan menurunkan suplai sekaligus kadar oksigen di dalam tubuh sehingga memperberat kerja jantung untuk menyebarkan oksigen yang jumlahnya terbatas ke seluruh tubuh.

(Baca juga: bahaya merokok bagi kesehatan tubuh)

  • Obesitas memicu penumpukan lemak yang lebih tinggi di dalam tubuh sehingga resiko penyumbatan pembuluh darah akibat lemak juga meningkat. Kondisi itulah yang menyebabkan adanya peningkatan gagal jantung kongestif.
  • Irama jantung yang abnormal, terutama ketika detak jantung terlalu cepat akan melemahkan otot jantung sehingga resiko gagal jantung juga meningkat.
sponsored links

Bahaya Gagal Jantung Kongestif

Gagal jantung kongestif bisa menyebabkan penderitanya meninggal. Karena itu harus ada penanganan yang tepat untuk mengurangi gejala yang ada. Jika penderita gagal jantung kongestif tidak memperoleh pengobatan atau penanganan yang tepat maka bisa jadi penderita akan mengalami beberapa jenis gangguan kesehatan lainnya, seperti :

1. Aritmia

Aritmia merupakan gangguan irama jantung yang bisa muncul karena adanya gejala gagal jantung kongestif. Salah satu akibat terjadinya fibrilasi atrium di mana serambi jantung menjadi berdetak lebih cepat dan tidak beraturan. Fibrasi atrium bisa diderita oleh sekitar sepertiga penderita gagal jantung kronis. Apabila penderita gagal jantung kongestif menderita aritmia, maka akan sangat mungkin dan beresiko penderita juga akan mengalami stroke. Selain itu, penderita juga akan sangat rentan terkena penyakit komplikasi lainnya yaitu tromboemboli.

(baca juga: detak jantung normal)

2. Kegagalan pada Organ Tubuh yang Lain

Gagal jantung kongestif juga bisa menyebabkan kegagalan kerja pada organ tubuh lainnya. Salah satu organ yang akan mengalami kegagalan fungsi adalah organ ginjal. Kondisi ini terjadi karena jantung tidak mampu memberikan suplai darah yang cukup untuk organ ginjal sehingga aliran darah ke ginjal akan berkurang. Jika kondisi ini tidak segera diantisipasi bukan tidak mungkin penderita gagal jantung kongestif juga akan mengalami gagal ginjal.

(Baca juga: faktor penyebab gagal ginjalpenyebab gagal ginjal)

3. Kematian Mendadak

Dampak paling fatal apabila gagal jantung kongestif tidak ditangani dengan tepat adalah kematian penderita. Selain gagal jantung kongestif, jenis gagal jantung lainnya juga beresiko menyebabkan kematian pada penderitanya. Bahkan bisa dikatakan penderita gagal jantung bisa meninggal kapan saja dan di mana saja, bahkan ketika mereka sedang tidur. Banyak peneliti yang mengaitkan kondisi tersebut dengan adanya gangguan aritmia jantung. Akan tetapi hingga saat ini penyebab kematian mendadak pada penderita gagal jantung masih belum bisa diketahui dengan pasti terutama ketika penderita gagal jantung meninggal di luar rumah sakit.

Menurut berbagai sumber, penyakit gagal jantung, termasuk gagal jantung kongestif merupakan penyebab kematian pada angka yang cukup tinggi. Data statistik menunjukkan sekitar 20 sampai 30 persen penderita gagal jantung tingkat awal hingga menengah berakhir meninggal setiap tahunnya. Sementara itu, penderita gagal jantung yang parah lebih dari separuhnya tidak dapat diselamatkan.

Pengobatan Gagal Jantung Kongestif

Gagal jantung kongestif perlu diobati atau ditangani dengan cara yang tepat. Untuk mengobati gagal jantung kongestif biasanya dokter terlebih dahulu akan menentukan akar penyakit yang menyebabkan gagal jantung kongestif tersebut. Sebagai contoh, jika penderita gagal jantung kongestif disebabkan oleh katup jantung maka pasiennya sebaiknya menjalani operasi mengganti katup atau memperbaiki katup jantung.

Selain metode pengobatan yang didasarkan pada akar penyakit yang menyebabkannya, menangani gagal jantung kongestif juga bisa dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat, sebagai contohnya menghindari kebiasaan merokok. Merokok akan mengurangi kadar oksigen di dalam tubuh sehingga memperberat kerja jantung. Selain itu, penderita juga bisa melakukan diet cairan atau diet garam untuk mengurangi konsentrasi cairan dan garam di dalam tubuh. Bagi anda yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas, ada baiknya Anda melakukan diet sehat untuk mengurangi resiko gagal jantung kongestif.

Untuk membantu pernapasan, pemberian oksigen mungkin juga bisa dilakukan. Beberapa jenis pengobatan bisa dilakukan untuk mengurangi jumlah cairan di dalam tubuh atau untuk membantu kontraksi ventrikel menjadi lebih baik. Diuretik akan membantu mengurangi jumlah ekskresi cairan. Masih ada berbagai jenis obat lainnya, tentunya obat yang diberikan akan bergantung pada akar penyakit yang meyebabkan gagal jantung kongestif pada pasien.

Setiap obat kimia pasti akan memberikan efek samping. Namun dokter tentu akan memberikan pertimbangan khusus sebelum melakukan tindakan penanganan. Transplantasi jantung mungkin akan dilakukan ketika pasien tidak bisa cocok melalui berbagai metode pengobatan lainnya.

Sponsored Link

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , ,
Post Date: Wednesday 15th, June 2016 / 20:33 Oleh :
Kategori : Penyakit Jantung