Sponsors Link

Demensia

advertisement

Dementia atau disebut Demensia dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah pikun, merupakan suatu gejala klinis yang menjelaskan kondisi seseorang yang mengalami penurunan atau hilangnya kemampuan intelektual pada seseorang hingga mengakibatkan menurunnya kualitas aktivitas dalam kegiatan sehari-hari.  Biasanya dimensia dialami oleh lanjut usia yang usianya diatas 60 tahun. Menurunnya kemampuan intelektual tersebut meliputi penurunan daya ingat (memori) dan daya pikir. Setidaknya ada beberapa hal yang umumnya menandai terjadinya dimensia pada seseorang yaitu :

  • Penurunan bahasa dan memori, merupakan penurunan kemampuan verbal untuk mengucapkan kata-kata, dimana hal ini berkaitan dengan menurunnya memori. Memori atau ingatan merupakan fungsi kognitif yang memiliki kaitan terhadap otak dalam menyimpan berbagai informasi.
  • Penurunan Visuospasial, merupakan penurunan dalam kemampuan menempatkan objek benda maupun objek gambar kedalam suatu ruang. Maupun penurunan memahami berbagai hal yang berhubungan dengan jarak seperti membaca peta.
  • Penurunan kemampuan Emosional, adalah menurnnya kemampuan dalam menerima, memiliki penilaian, pengelolaan maupun mengontrol secara emosional pada dirinya dan orang lain sekitarnya. Tentunya masalah emosi ini berkaitan dengan hubungan interpersonal.

Berikut akan kita uraikan secara mendasar tentang dimensia yang sering dikenal sebagai pikun ini

Gejala Demensia

Pada dimensia secara bertahap mengalami kehilangan memorinya. Sebagian besar memang lebih sering ditemukan pada usia lanjut dan kepikunan akan terus mengalami peningkatan. Hal-hal yang dapat dialami seperti lupa mengingat alamat rumah, letak rumah, nomor telepon, mematikan kompor, mudahnya perubahan suasana hati, dan lain-lain.  Pada gejala dimensia dibagi menjadi 3 derajat menurut beratnya.

  1. Ringan, seseorang yang mengalami dimensia ringan akan tetap mampu untuk hidup tanpa pendampingan meskipun mengalami gangguan dimensia tersebut.
  2. Sedang, untuk seseorang yang mengalami dimensia derajat sedang akan berbahaya jika tinggal seorang diri karena pada tahap ini perlu dukungan yang lebih besar dari keluarga.
  3. Berat, maka dalam aktivitasnya seorang penderita dimensia mengalami gangguan sebagian besar aktivitas waktunya, dimana banyak hal yang tidak memiliki kesinambungan.

Penyebab Demensia

Jika demensia sendiri merupakan kondisi klinis. Maka ada bebarapa penyebab yang dapat menimbulkan dimensia ini.

  • Alzheimer. Merupakan penyakit dimana sel-sel otak mengalami pengerutan kemudian mengecil. Sehingga penyakit ini membuat intelejensia mengalami penurunan dan sulitnya kemampuan berkomunikasi yang menurun signifikan. Selain menurunnya kemampuan memori juga menurnkan kemampuan mental.
  • StrokeMerupakan gangguan fungsi syaraf yang akut. Hal ini bermula dari gangguan peredaran darah. Adanya sumbatan pada peredaran darah kemudian menuju otak menimbulkan serangan mendadak. Pada stroke secara bertahap menyebabkan kerusakan jaringan otak. Dalam hal ini stroke menjadi penyebab kematian urutan ketiga setelah jantung dan kanker.
  • Huntington. Merupakan penyakit yang tercirikan dengan adanya kelainan motorik, juga terlihat dengan lambatnya psikomotorik untuk beraktivitas melakukan kegiatan yang rumit. Pada derajat gejala dimensia ringan dan menengah, dalam kemampuan bahasa masih dapat digunakan. Namun saat penyakit ini berkembang maka kemampuan dimensia akan semakin berat mengalami penurunan kemampuan. Penyakit ini termasuk kedalam penyakit syaraf yang penyebabnya adalah faktor gen. Sehingga seorang anak dapat menjadi carrier penyakit huntington.
  • Parkinson. Penyakit ini ditemukan oleh seorang dokter yang bernama Parkinson. Penyakit yang dicirikan dengan menurunnya kemampuan berfikir sehingga menjadi lambat dan diikuti dengan pergerakan psikomotorik yang juga melambat disebabkan otot yang kaku. Selain itu sering ditemukan pasien Parkinson mengalami tremor. Penderita Parkinson biasanya berusia 65 tahun.
  • AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Dimensia yang disebabkan oleh AIDS menyebabkan penurunan kemampuan secara mental yang disebabkan menurunnya metabolisme dari sel otak. Sehingga ketika seseorang terjangkit AIDS, maka ia akan mengalami aktivasi imun oleh mikroglia dan makrofag yanga berada didalam otak. Aktivasi imun tersebut mengeluarkan racun syaraf sehingga terjadi kerusakan syaraf. Kerusakan syaraf ini akhirnya menyebabkan penurunan kemampuan berpikir, perilaku dan motorik.
  • Penyakit Creutzfeld-Jacob (C-J). Adalah penyakit dimana menyebabkan kerusakan otak dan sistem syaraf lainnya. Penyakit ini adalah penyakit menular dan mematikan. Penyakit ini dialami oleh orang-orang yang biasanya berusia muda, misalnya 40 tahunan. Penemuan terbaru menunjukkan penyakit ini terjadi karena adanya mutasi genetik, sehingga dalam beberapa kasus penyakit ini diwariskan. Kerusakan otak yang terjadi menjadikan penderitanya mengalami perubahan memori hingga perubahan kepribadian dan motorik semakin memburuk. Penyakit ini dimulai ketika dewasa dan mengalami kematian dengan rentang waktu dekat yaitu terjadi 3 sampai 12 bulan setelah terjangkit.
  • Mengalami trauma kecelakaan yang mencederai otak. Trauma pada kecelakaan yang pernah terjadi dalam 1-5 % kasus dimasa lalu mengalami gangguan neurologis. Hal ini sering terjadi pada seorang petinju. Pendarahan yang terjadi karena trauma akan menyebabkan pembuluh darah yang robek pada permukaan otak. Sedikit-demi sedikit bila tak diatasi akan terjadi sakit kepala, kejang, kelemahan anggota gerak dan sulit untuk berucap.
  • Narkotika dan minuman keras yang dikonsumsi dalam jangka waktu yang panjang. Narkotika seperti ganja, mariyuana dan lain-lainnya dapat meracuni. Lama-kelamaan akan mengalami kelainan secara kimiawi pada otak sehingga menganggu impuls syaraf. Akhirnya kondisi seperti ini menyebabkan otak dalam berfungsi dan mengolah informasi mengalami kegagalan.
  • DepresiPada usia yang telah lanjut. Dimensia terjadi bisa disebabkan oleh depresi. Gangguan secara intelegensi kadang disebut dengan istilah psedodemensia. Demensia pada depresi muncul bukan karena adanya gangguan pembuluh darah. Pada penderita depresi memiliki kesulitan dalam berkonsentrasi, merasa kacau, terjadi penurunan dalam perhatian, penurunan psikomotorik dan tak mampu membuat keputusan dengan baik. Namun demensia karena depresi tak separah penyakit Alzheimer.

Faktor-faktor yang perlu diwaspadai terhadap timbulnya dimensia

  • Penggunaan alkohol berlebih, dalam jumlah berat alkohol yang disalah gunakan akan meningkatkan resiko demensia.
  • Ateroklerosis, merupakan terjadinya tumpukan lemak dan zat-zat yang ada didalam dinding arteri akan mengurangi sirkulasi darah ke otak, sehingga ini akan cepat memicu stroke. Minimnya sirkulasi darah ke otak akan menyebabkan demensia. Selain itu, hal ini dapat juga menimbulkan Alzheimer
  • Tekanan darah, baik pada tekanan darah tinggi maupun darah rendah akan meningkatkan resiko terjadinya demensia.
  • Kolesterol tinggi, pada seseorang yang memiliki LDL atau low density lipoprotein kolesterol memiliki peningkatan resiko demensia Alzheimer. Hingga kini penelitian terkait kolesterol dan Alzheimer masih dikembangkan.
  • Kencing manis, jika seseorang mengidap penyakit Diabetes, hal inipun memiliki peningkatan resiko terhadap demensia.
  • Estrogen, perempuan terutama menjelang menopause yang mengkonsumsi estrogen dan progesterone yang tinggi akan beresiko lebih besar terhadap dimensia.
  • Kadar Homosistein, merupakan sejenis asam amino yang diproduksi dari dalam tubuh. Zat ini lebih berbahaya dari kolesterol. Yang awalnya merupakan kimia tubuh untuk meningkatkan kekebalan tubuh, jika lebih dari 5-15 mmol/L akan menyebabkan resiko mudah terserang berbagai penyakit.
  • Obesitas, adalah keadaan dimana berat badan mengalami kelebihan. Bahaya obesitas meningkatkan resiko demensia ketika berusia semakin tua.
  • Merokok, Merokok menimbulkan resiko demensia disebabkan rusaknya pembuluh darah, bahaya merokok juga sangat mematikan seperti menimbulkan kanker.

Bahaya Demensia

  • Kehilangan memori sehingga memerlukan bantuan anggota keluarga
  • Kesulitan dalam memecahkan permasalahan, karena sudah tak mampu lagi mengikuti resep, rencana, resep dan sejenisnya.
  • Kesulitan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan spasial dan jarak, seperti parkir, mengingat jalan permainan dan menyelesaikan tugas kantor
  • Tersesat jika melakukan perjalanan sendiri dan sering kebingungan atau lupa.
  • Sulit menggambar secara visual seperti majalah, warna, dan sulit merefleksikan diri sendiri atau sulit mengenali diri sendiri.
  • Memiliki maslaah verbal baik lisan maupun tertulis, sulit bercakap-cakap.
  • Lupa menyimpan sesuatu dan sulit mengembalikan sesuatu pada tempatnya, kadang keran lupa bisa menduuh orang lain mencuri.
  • Sulit merawat diri sendiri dan tak mampu membuat keputusan yang baik.
  • Menghindari olahraga dan beraktivitas secara social
  • Mudah berubah suasana hati, mudah bingung, curiga, takut, cemas mudah marah ketika keluar dari zona nyaman.

Ciri-ciri Delirium dan demensia.

Mengenal karakteristik menjadi penting untuk dapat membedakan delirium dan deminsia yang memiliki kemiripan ciri. Delirium merupakan keadaan temporer dan mendadak ketika seseorang mengalami penurunan kemampuan. Berbeda dengan demensia yang terjadi secara permanen.

Perbandingan Delirium dan Demensia

No Keterangan Delirium

Demensia

1. Permulaan Cepat, hitungan jam hingga hari Progresif, mengalami perkembangan selama beberapa tahun
2. Penyebab Obat, infeksi, dehidrasi, perubahan metabolisme Kerusakan otak yang progresif
3. Durasi Biasanya kurang dari satu bulan Dari Bulan ke tahun
4. Arah Reversible (bisa diperbaiki) Tidak reversibel, akhirnya fatal
5. Tingkat kesadaran Biasanya berubah, bisa gelisah, normal, atau bosan. normal
6. Orientasi Gangguan pada imgatan jangka pendek Pada kasus-kasus ringan kehilangan ingatan, orientasi,waktu, kemudian tempat dan orang
7. Kemampuan berfikir Tidak terorganisir Terganggu
8. Kemampuan perhatian bertele-tele, sulit untuk mengarahkan atau mempertahankan. Memiliki perhatian
9. Kesadaran cenderung berfluktuasi Waspada pada siang hari
10. Tidur/bangun biasanya terganggu Siklus akan terganggu karena penyakit mulai berkembang

Diagnosa Demensia

Hingga saat ini belum ada satu test yang khusus untuk menentukan apakah seseorang mengalami demensia. Diagnosa berdasarkan penyebab penyakit seperti Alzheimer didasarkan dengan penilaian yang hati-hati. Pemeriksaan yang dilakukan berdasarkan pemeriksaan fisik, laboratorium, perubahan karakteristik hingga perilaku. Kesulitan yang dialami dokter adalah mendiagnosa pada kepastian tingkat derajat keparahan dimensia yang dialami seorang pasien. Hal ini disebabkan gejala pada perubahan otak yang mengalami demensia dapat berbeda dan tumpang tindih. Namun beberapa langkah yang biasa dilakukan adalah

  1. Identifikasi awal anatara delirium dan demensia, karena sekilas memiliki kesamaan ciri
  2. Identifikasi juga dengan antara demensia dan depresi
  3. Mengetest dengan test daya ingat
  4. Pemeriksaan bagian otak yang dicurigai
  5. Pemeriksaan laboratorium EEC
  6. Pemindaian otak MRI.

Cara Mencegah Demensia

  • Senantiasa mengaktifkan pikiran dengan tetap merangsang kemampuan dalam menangani masalah. Hal ini bisa juga dengan permainan sederhana seperti teka-teki, membaca buku, dan berbagai hal kognitif lainnya. Kegiatan semacam ini akan menghambat terjadinya demensia, karena otak terbiasa aktif.
  • Berolah raga dengan rutin. Semakins sering aktivitas ini dilakukan maka fisik akan semakin kuat terutama sistem vaskuler sehingga demensia menjadi terhambat.
  • Menurunkan kadar homosistein dengan mengkonsumsi vitamin B, B6 dan B12, hal ini untuk mencegah terjadinya Alzheimer.
  • Menurunkan kadar kolesterol
  • Mengendalikan diabetes
  • Menstabilkan tekanan darah sehingga secara signifikan menghindari demensia.
  • Teruslah belajar dan membiasakan banyak waktu untuk belajar. Karena orang-orang yang beraktivitas pada pendidikan formal memiliki resiko lebih rendah terhadap demensia. Meskipun memiliki kelainan otak, aktivitas ini akan membantu menguatkan jaringan sel syaraf.
  • Memiliki pola makan yang sehat. Dimana buah-buahan yang kaya antioksidan, kacang-kacangan, omega 3 maupun makanan lain yang memiliki khasiat melindungi syaraf.
  • Menjaga berat badan agar tidak berlebihan dengan diet yang tepat dan terpenuhinya gizi yang diperlukan untuk tubuh.
  • Tidak merokok
  • Memperbaiki ibadah, sebab pikiran yang positif akan memberikan daya tahan yang baik terhadap tubuh. selain itu beribadah akan meningkatkan keyakinan motivasi untuk bisa hidup lebih baik.

Pengobatan Demensia

Secara kimia obat yang digunakan berupa Psikofarmaka, Antiaritmia, Antihipertensi. Namun obat-obatan hanyalah untuk meringankan gejala. Hal yang lebih penting adalah keberadaan keluarga untuk mendampingi dan konseling untuk pasien. Karena dengan demikian peluang untuk hidup berkualitas dapat lebih panjang.

advertisement

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!